Usai Lewati 8 Jam Pertarungan, Sean Gelael Menutup Musim WEC 2025 dengan Gengsi
Minggu, 9 November 2025 | 18:05
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Suara mesin menggema di bawah langit Bahrain yang keemasan. Sirkuit penuh adrenalin itu kembali menjadi saksi perjalanan panjang Sean Gelael di ajang FIA World Endurance Championship (WEC) 2025.
Mungkin bukan akhir musim yang paling sempurna, tapi bagi Sean dan timnya, United Autosports 95, finis di posisi kesembilan di balapan 8 Hours of Bahrain tetap punya arti besar, terutama setelah melewati delapan jam pertarungan tanpa kompromi.
Balapan ketahanan bukan sekadar siapa yang tercepat, tapi siapa yang paling tangguh. Di lintasan Bahrain, Sean dan rekan satu timnya, Darren Leung serta Marino Sato, menghadapi hari yang berat. Sejak awal, tanda-tanda ujian sudah terlihat. Mobil mereka sempat berada di posisi ke-11, tapi drama langsung datang begitu start dimulai Leung kehilangan posisi dan melorot ke P17.
BACA JUGA
Misi Besar Pembalap Indonesia Sean Gelael: Akhiri Tren Nyaris Juara dan Menang di Le Mans
Sean Gelael Melesat dari P11 ke P4, Bukti Mental Baja Pembalap Indonesia di GTWCE 2025
Pencak Silat Unjuk Gigi di Asian Youth Games 2025, 14 Negara Siap Berlaga!
“Ini hari yang berat untuk dua mobil LMGT3 kami. Mobil 95 finis P9 dan 59 finis P16. Bukan akhir yang kami inginkan,” tulis United Autosports menulis dalam pernyataan resminya.
Namun di balik kalimat itu, terselip cerita tentang bagaimana setiap putaran di Bahrain menjadi ujian kesabaran dan strategi. Saat Sean mengambil alih kemudi, situasi belum sepenuhnya berpihak. Meski sempat ada harapan ketika Virtual Safety Car (VSC) diberlakukan, penalti drive-thru karena pelanggaran prosedur membuat momentum tim seakan menguap begitu saja.
Tetapi, gaya Sean yang tenang dan konsisten di tengah tekanan tinggi justru menjadi kunci. Ia berhasil mengangkat posisi hingga P13 sebelum menyerahkan kendali terakhir ke Marino Sato. Dan di saat Safety Car kembali muncul karena insiden BMW Hypercar nomor 15, strategi berani United Autosports 95 untuk bertahan di lintasan bukan masuk pit terbukti tepat. Hasilnya, posisi mereka naik ke P9 hingga garis finis.
Tiga Poin yang Tak Sekadar Angka
Finis kesembilan mungkin tidak masuk sorotan utama, tapi tambahan tiga poin dari Bahrain menutup musim dengan catatan manis. Mobil 95 menorehkan total 43 poin sama dengan mobil kembar mereka, United Autosports 59 namun unggul di klasemen berkat kemenangan spektakuler di Lone Star Le Mans, Amerika Serikat, September lalu.
Dua target besar, rekor poin tim dan posisi sembilan besar LMGT3 memang belum tercapai. Tapi dalam konteks WEC, keberhasilan menutup musim di posisi 11 bukanlah kegagalan. Justru, itu menegaskan bagaimana United Autosports masih menjadi kekuatan yang solid di tengah persaingan ketat dunia GT3.
Ferrari Kembali Berjaya, dan Manthey 92 Tak Terbendung
Musim 2025 juga jadi saksi sejarah lain. Ferrari akhirnya kembali merebut gelar juara dunia konstruktor di kelas Hypercar untuk pertama kalinya sejak tahun 1972. Sementara di kelas LMGT3, tim Manthey 92 mempertahankan mahkotanya untuk tahun kedua berturut-turut.
Di tengah dominasi itu, perjuangan Sean Gelael tetap jadi magnet tersendiri bagi penggemar balap Tanah Air. Ia bukan hanya membawa nama Indonesia di ajang endurance racing paling bergengsi dunia, tapi juga memperkenalkan semangat konsistensi dan determinasi yang jarang terlihat di level ini.
Bagi banyak orang, balapan mungkin sekadar kompetisi. Tapi bagi Sean, setiap lintasan adalah perjalanan dari panasnya Bahrain hingga sejuknya Austin, dari paddock hingga podium. Setiap kilometer bercerita tentang mimpi, kerja keras, dan keberanian untuk terus mencoba, meski hasil tak selalu berpihak.
Dengan WEC 2025 berakhir, Sean kini bersiap menatap musim depan dengan tekad baru. Karena di dunia balap, akhir hanyalah awal dari tantangan berikutnya.










