Dari Juara Dunia ke Krisis Motivasi, Masa Depan Max Verstappen Dipertanyakan
Jumat, 3 April 2026 | 18:03
Penulis: Arif S

Sumber: formula1.com/pri.
Bayang-bayang pensiun dini mulai menghampiri Max Verstappen, narasi yang tak biasa bagi pembalap yang masih berada di usia emas dan pernah mendominasi lintasan Formula 1. Namun musim 2026 menghadirkan cerita berbeda, bukan tentang kemenangan, melainkan pergulatan batin seorang Juara.
Bersama Red Bull Racing, Verstappen menghadapi realitas jauh dari dominasi. Ia mengakui setiap hari menjadi perjuangan tersendiri untuk mempertahankan motivasi.
“Setiap hari saya bangun tidur, saya selalu meyakinkan diri saya sendiri. Dan saya mencoba untuk tetap membalap di Formula 1,” ujar Verstappen dikutip dari Motorsport, Rabu.
BACA JUGA
George Russell vs Max Verstappen: Rivalitas Panas Menuju Musim F1 2026
Verstappen Juara GP Qatar, Perebutan Gelar F1 2025 Ditentukan di Abu Dhabi
Audi Masuk Formula 1, R26 Jadi Simbol Ambisi Juara Dunia 2030
Pernyataan tersebut menegaskan kelelahan mental mulai menggerus gairah balapnya. Pembalap asal Belanda itu bahkan telah lama mempertimbangkan gantung setir, terutama ketika ambisi yang dulu menjadi bahan bakarnya mulai memudar.
Salah satu faktor utama datang dari perubahan regulasi FIA musim 2026. Verstappen secara terbuka mengkritik kebijakan tersebut, khususnya terkait penambahan tenaga daya yang menurutnya justru mengganggu keseimbangan kompetisi.
Ia telah menyuarakan ketidakpuasannya sejak tahap awal pengembangan mobil, bahkan ketika masih menjajal simulator. Baginya, regulasi baru ini tidak mencerminkan esensi balapan yang sesungguhnya.
“Selalu memulai sesuatu dengan merasa lebih baik di pagi hari, lalu semuanya berjalan kurang baik,” kata Verstappen.
Di lintasan, kondisi itu tercermin jelas. Dalam tiga balapan terakhir, Verstappen belum mampu menembus dominasi Mercedes-AMG Petronas Formula One Team yang diperkuat Kimi Antonelli dan George Russell. Performa Red Bull yang belum optimal semakin memperumit situasi.
Kini, pembalap berusia 28 tahun tercecer di posisi kesembilan Klasemen sementara dengan 12 poin. Angka ini jauh dari standar seorang juara dunia empat kali.
Situasi ini menghadirkan pertanyaan besar bagi dunia otomotif, apakah Formula 1 akan kehilangan salah satu talenta terbaiknya lebih cepat dari yang diperkirakan?










