Pep Guardiola dan Rivalitas Abadi dengan Liverpool di Laga ke-1.000
Sabtu, 8 November 2025 | 15:33
Penulis: Arif S

Sumber: Antara
Pep Guardiola akan mencatat tonggak bersejarah dalam kariernya akhir pekan ini. Manager asal Spanyol itu akan memimpin Manchester City dalam laga ke-1.000 sepanjang kariernya sebagai nahkoda tim senior. Lawannya bukan sembarang tim tetapi Liverpool di Stadion Etihad, Minggu 9 November 2025 pukul 23.30 WIB, menjadi simbol rivalitas terbesar sepak bola modern Inggris.
“Saya telah berada di negara ini lebih lama dari tempat mana pun, dan pengaruhnya sangat besar dalam hidup saya. Barcelona adalah klub saya, dan Bayern juga luar biasa, tetapi di Inggris, Liverpool rival terbesar kami, terutama dengan Jurgen (Klopp). Tidak ada yang lebih baik dari ini. Takdir dan alam semesta seakan menentukannya," ujar Pep, dikutip dari laman resmi klub, Sabtu.
Rivalitas Dua Raja Liga Inggris
BACA JUGA
Drama di Etihad: Kado untuk Guardiola, Krisis Bagi Liverpool
Kisah Jurgen Klopp: Menjadi Pelatih Top dari Ketidaksengajaan
Laju Positif City Terhenti, Pep Guardiola Tetap Optimistis dalam Perburuan Gelar Liga Inggris
Sejak kedatangan Pep Guardiola dan Jurgen Klopp ke Premier League, dominasi keduanya benar-benar membentuk era baru. Dalam delapan musim terakhir, hanya Manchester City dan Liverpool yang menjuarai liga yang menandai persaingan paling intens dalam sejarah modern Liga Inggris.
Pep membawa The Citizens juara enam kali, dua di antaranya dengan selisih hanya satu poin dari Liverpool (musim 2018/2019 dan 2021/2022).
Di sisi lain, Klopp mencatat satu gelar bersejarah pada musim 2019/2020, membawa The Reds unggul 18 poin dari City, kemenangan yang mengakhiri penantian panjang Liverpool selama 30 tahun.
Namun, cerita tidak berhenti di sana. Rivalitas berlanjut bahkan setelah Klopp meninggalkan Anfield. Arne Slot yang menggantikannya musim lalu kembali membawa Liverpool ke puncak, meraih gelar liga dengan 84 poin, unggul 10 dari Arsenal dan 13 dari City.
Slot bahkan dua kali menumbangkan Pep, baik kandang maupun tandang, dengan skor identik 2-0.
Dari Bayern, Barca, hingga City
Pep sudah berkelana ke berbagai klub besar dunia. Dari Barcelona, tanah kelahirannya dan memulai warisan tiki-taka, hingga Bayern Munich, di mana ia menajamkan filosofi permainan posisional. Namun, di Inggris, ia menemukan sesuatu yang lain, rivalitas hidup yang menguji batas kesempurnaan.
Bagi Pep, Liverpool bukan sekadar lawan. Mereka adalah cermin yang membuatnya terus berinovasi, terus lapar akan kemenangan.
“Kami harus tampil sebaik mungkin. Saya tahu betapa cepatnya segalanya berubah di sini. Seminggu lalu Liverpool kalah enam kali, semua orang bilang mereka hancur, lalu mereka menang dua kali dan kini kembali ke performa terbaiknya,” katanya.
Laga Ke-1.000: Antara Sejarah dan Tantangan
Pep menatap laga spesial ini dengan percaya diri. The Citizens datang dengan modal enam kemenangan dari tujuh pertandingan terakhir, termasuk tiga kemenangan dalam sepekan terakhir.
“Kemenangan atas Swansea sangat berarti, kami menunjukkan banyak hal bagus di pertandingan itu. Lalu melawan Bournemouth dan Dortmund juga begitu, tapi kami tahu lawan yang akan kami hadapi,” kata Pep.
Tak lupa ia memuji kualitas lawan yang bakal dihadapinya.
“Saya menyaksikan laga mereka melawan Real Madrid, kualitas mereka luar biasa. Mereka adalah tim papan atas, top level. Semoga para pendukung kami datang untuk merayakan pertandingan ke-1.000 saya di stadion, dan bersama-sama kita bisa mengalahkan rival penting ini,” tutupnya.
Seribu pertandingan bukan sekadar angka di buku sejarah. Bagi Pep Guardiola, laga ini adalah simbol perjalanan panjang, penuh filosofi dan rivalitas yang membentuknya sebagai pelatih terbaik dunia.
Ketika peluit kick-off dibunyikan di Etihad, bukan hanya tiga poin yang dipertaruhkan, melainkan warisan dua raja sepak bola modern yang tak pernah berhenti menulis sejarah baru.***










