Masjid Ali bin Abi Thalib, Oase Kesederhanaan di Tengah Riuh Nabawi
Selasa, 4 November 2025 | 19:00
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Di jantung Kota Madinah, hanya beberapa ratus meter dari kemegahan Masjid Nabawi yang tak pernah sepi dari langkah para peziarah, berdiri sebuah tempat ibadah kecil yang justru memancarkan ketenangan berbeda.
Namanya Masjid Ali bin Abi Thalib, masjid mungil di kawasan Al-Manakhah yang menyimpan kisah sejarah, spiritualitas, dan misteri yang tak lekang oleh waktu.
Berbeda dari masjid-masjid besar di sekitarnya, Masjid Ali tampil dalam balutan arsitektur sederhana. Dindingnya berwarna putih bersih, berpadu dengan aksen abu-abu dan coklat di bagian bawah, serta menara ramping berujung kerucut yang menjulang tenang di sisi kiri bangunan.
Dengan luas sekitar 682 meter persegi, masjid ini berdiri berdekatan dengan beberapa situs penting lain seperti Masjid Ghamamah, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Masjid Umar bin Khattab.
BACA JUGA
Ramadan Trip: 5 Masjid Estetik di Jawa Barat Cocok untuk Wisata Religi
Tren Wisata Ramadhan 2026: Iftar Hiking hingga Kota Nokturna Dunia Muslim
Jelajah Istanbul: Dari Masjid Megah Hingga Bazaar Rempah yang Legendaris
Namun, ada satu hal yang membuatnya unik dan sering jadi bahan pembicaraan para jamaah, burung merpati nyaris tak pernah hinggap di masjid itu. Fenomena itu sudah lama diperhatikan oleh warga Madinah.
“Coba lihat, bersih sekali. Tidak ada kotoran burung sedikit pun dibanding masjid lain di sekitarnya,” ujar Ustaz Ahmad Kosim, pembimbing umrah asal Indonesia, sambil menunjuk ke arah kubah masjid.
Padahal, hanya beberapa meter di belakangnya, ratusan merpati beterbangan bebas di lapangan terbuka.
Warga percaya, kebersihan kubah Masjid Ali adalah simbol kesucian sosok Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW.
“Sayyidina Ali itu orang yang sangat suci. Dari lahir sampai wafat tidak pernah melihat auratnya sendiri. Karena itu, setiap kali disebut namanya, kita mendoakannya dengan karramallahu wajhah, semoga Allah memuliakan wajahnya,” tutur Ustaz Kosim.
Fenomena ini pun hidup sebagai bentuk penghormatan menjadikan masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang kontemplasi spiritual yang penuh makna.
Jejak Sejarah dan Peninggalan Shalat Id
Selain kisah tentang kesuciannya, Masjid Ali juga menyimpan jejak sejarah penting dalam perkembangan Islam di Madinah.
Tempat ini diyakini sebagai lokasi Sayyidina Ali bin Abi Thalib melaksanakan Shalat Idul Fitri, mengikuti tradisi Rasulullah SAW yang menunaikan salat Id di tanah lapang.
“Dulu di sini masih tanah lapang. Sayyidina Ali shalat Id di tempat ini mengikuti sunnah Rasulullah,” ujar Kosim.
Seiring waktu, area ini berubah. Tanah lapang itu kini menjadi bagian dari kawasan bersejarah yang dikelilingi masjid-masjid peninggalan sahabat Nabi.
Masjid Ali diperkirakan pertama kali dibangun pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (93–97 H), lalu diperbarui oleh Gubernur Madinah Dhaigham al-Manshuri (881 H), dan kembali direnovasi besar oleh Sultan Abdul Majid (1269 H).
Renovasi terakhir dilakukan pada masa Raja Fahd (1411 H), memperluas area ibadah sekaligus menambahkan menara ramping yang kini jadi ciri khasnya.
Keheningan yang Menenangkan Hati
Bagi sebagian jamaah, beribadah di Masjid Ali bukan sekadar ziarah sejarah, tapi juga pengalaman spiritual yang menyentuh.
Begitu memasuki ruang utama, suasana hening langsung menyelimuti.
Tak ada ornamen rumit, tak ada ukiran mewah. Hanya dinding putih bersih berpadu dengan motif bata merah yang menenangkan pandangan.
Lampu gantung sederhana memancarkan cahaya lembut, menciptakan atmosfer khusyuk dan intim.
Para jamaah biasanya berdiam sejenak, berdoa, atau sekadar menatap kubahnya yang bersih tanpa noda.
Ada yang mengambil foto, ada pula yang berzikir dalam diam. Semua larut dalam ketenangan yang seolah menegaskan makna kesederhanaan nilai yang menjadi cerminan kehidupan Ali bin Abi Thalib.
Spiritualitas yang Hidup dalam Arsitektur
Masjid Ali mungkin tidak megah seperti Nabawi, tapi justru di sanalah letak pesonanya. Masjid itu berdiri sebagai pengingat bahwa spiritualitas tak selalu hadir dalam kemewahan. Bahwa keindahan sejati bisa lahir dari bentuk paling sederhana, asal dilandasi ketulusan dan kebersihan hati.
Bagi banyak peziarah, mengunjungi Masjid Ali terasa seperti menapaki halaman sejarah Islam yang masih bernapas. Sebuah perjalanan sunyi yang membawa kedamaian, bukan hanya untuk mata, tapi juga untuk jiwa.
Di tengah arus wisata religi yang kian ramai, Masjid Ali bin Abi Thalib hadir seperti oase tenang bagi mereka yang ingin menemukan makna perjalanan spiritual yang lebih personal.
Masjid Ali bukan hanya bangunan batu dan semen, melainkan ruang hidup bagi nilai-nilai kesederhanaan, ketulusan, dan kemuliaan hati warisan abadi dari sang khalifah keempat umat Islam.










