ID EN

Dari Desa Kecil di Borobudur ke Panggung Dunia, Wisata Energi Hijau PGN Dilirik Eropa

Sabtu, 1 November 2025 | 22:30

Penulis: Arif S

Destinasi wisata Desa Energi Berdikari (DEB) Balai Ekonomi Desa (Balkondes) PGN Karangrejo, di kawasan Borobudur Magelang, Jawa Tengah.
Destinasi wisata Desa Energi Berdikari (DEB) Balai Ekonomi Desa (Balkondes) PGN Karangrejo, di kawasan Borobudur Magelang, Jawa Tengah.
Sumber: Antara

Udara pagi di Desa Karangrejo, Magelang, terasa sejuk dengan hamparan hijau sawah yang mengelilingi kawasan Balai Ekonomi Desa (Balkondes) PGN Karangrejo. Dari kejauhan, tampak deretan homestay bergaya tradisional berdiri berdampingan dengan panel surya yang berkilau terkena sinar matahari. 

Siapa sangka, desa kecil di sekitar kawasan Candi Borobudur ini kini tengah mencuri perhatian dunia, bahkan hingga ke pasar pariwisata Eropa.

Melalui ajang Discovering the Magnificence of Indonesia (DMI) Expo 2025 di Utrecht, Belanda, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) memperkenalkan Desa Energi Berdikari (DEB) Balkondes Karangrejo sebagai salah satu contoh nyata dari sinergi energi ramah lingkungan dan pariwisata berkelanjutan.

“Langkah ini menjadi bagian dari komitmen PGN dalam mendukung ekosistem Destinasi Super Prioritas (DSP) pemerintah, khususnya di kawasan Borobudur, Jawa Tengah,” ujar Division Head Corporate Social Responsibility PT PGN Tbk, Krisdyan Widagdo Adhi, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Dari Homestay Sederhana ke Ekowisata Mandiri

Perjalanan Balkondes Karangrejo berawal dari sebuah homestay sederhana yang kini berkembang menjadi ekosistem wisata terpadu. Kawasan ini tidak hanya menawarkan tempat menginap yang nyaman, tetapi juga pengalaman autentik tentang kehidupan desa dan keindahan alam pedesaan Borobudur.

PGN turut menghadirkan inovasi energi bersih berupa Compressed Natural Gas (CNG) cluster untuk memenuhi kebutuhan energi sekitar 150 rumah tangga, serta panel surya yang menyuplai sebagian listrik kawasan. Kombinasi inilah yang menjadikan Karangrejo sebagai Desa Energi Berdikari, sebuah konsep wisata yang menggabungkan keberlanjutan lingkungan dengan kemandirian ekonomi.

Tak heran, pada 2024 Balkondes PGN Karangrejo mencatat omzet hingga Rp3,6 miliar, dengan 80 persen tenaga kerja lokal yang dilatih untuk mengelola homestay, restoran, dan berbagai paket wisata seperti tur VW Safari, bersepeda, arung jeram, hingga wisata edukasi pertanian.

Menumbuhkan Semangat Gotong Royong

Lebih dari sekadar angka, keberhasilan ini membawa perubahan sosial yang mendalam bagi warga.

“Yang paling berharga bukan sekadar peningkatan omzet, tapi lahirnya kemandirian dan semangat gotong royong masyarakat. Mereka kini menyadari bahwa potensi desa bisa menjadi sumber kesejahteraan tanpa merusak lingkungan,” kata Krisdyan.

Pendapatan dari aktivitas wisata dikembalikan ke desa melalui Pendapatan Asli Desa (PADes), yang kemudian digunakan untuk mendukung pendidikan, kesehatan, dan pengembangan usaha mikro warga.

Dilirik Agen Wisata Eropa

Keikutsertaan PGN di DMI Expo 2025 ternyata membuahkan hasil menggembirakan. Setelah sesi business matching, sejumlah agen perjalanan asal Belanda menyatakan minat untuk memasukkan Balkondes PGN Karangrejo ke dalam paket wisata mereka.

“Potensi kolaborasi ini membuka peluang promosi lebih luas bagi pariwisata berbasis budaya dan ekowisata komunitas desa di pasar Eropa,” kata Krisdyan optimistis.

Duta Besar Indonesia: Momentum Emas untuk Promosi Wisata

Dukungan juga datang dari Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Mayerfas, yang menilai DMI Expo sebagai momentum penting memperkuat hubungan bisnis dan pariwisata antara Indonesia dan Eropa.

“Potensi kekayaan alam, rempah, dan pariwisata Indonesia sangat besar. Destinasi di luar Bali seperti Borobudur harus terus dikembangkan agar tidak kalah bersaing dengan negara Asia Tenggara lainnya,” katanya.

Harmoni Energi, Alam, dan Budaya

Kini, Balkondes Karangrejo bukan sekadar tempat singgah bagi wisatawan, tetapi juga simbol transformasi desa menuju kemandirian. Setiap pengunjung yang datang bisa merasakan langsung harmoni antara teknologi energi hijau, budaya lokal, dan keramahan masyarakat desa.(Antara)