Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Lebih Pilih Perkuat Timnas Belgia Dibanding Indonesia
Kamis, 30 Oktober 2025 | 11:30
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Usia memang tak bisa diputar ulang, begitu juga keputusan yang sudah diambil di masa lalu. Di penghujung kariernya, Radja Nainggolan, eks gelandang Inter Milan berdarah Batak itu akhirnya mengakui sesuatu yang dulu mungkin tak pernah terpikirkan olehnya. Penyesalan karena memilih membela timnas Belgia, bukan Indonesia.
Dalam sebuah podcast bersama Junior Vertongen, pemain berusia 37 tahun itu berbicara secara gamblang. Ia membandingkan pengalaman membela Belgia dengan apa yang kini ia lihat dari para pemain keturunan yang memperkuat Timnas Indonesia.
Nainggolan memang menjadi bagian dari generasi emas Belgia, bersama nama-nama seperti Eden Hazard, Kevin De Bruyne, hingga Romelu Lukaku. Namun, di balik gemerlap skuad itu, ada rasa kecewa yang belum tuntas.
BACA JUGA
John Herdman Sebut Indonesia Punya Potensi Besar Mirip Kanada
Jadwal Padat Menanti, Ujian Awal John Herdman Bersama Timnas Indonesia
Gagal ke Piala Dunia 2026, Ranking FIFA Indonesia Tertinggal dari Malaysia
Nainggolan mengaku, selama membela Belgia di bawah asuhan Roberto Martinez, ia tak merasa benar-benar diberi ruang untuk berkontribusi. Dalam nada jujur, ia menyebut sang pelatih sebagai sosok yang gagal memaksimalkan potensi skuad terbaik yang pernah dimiliki Belgia.
"Saya tidak memberikan dampak yang cukup untuk apa yang seharusnya saya berikan, saya tahu itu. Tapi itu bukan hanya karena pilihan saya," ujar Nainggolan.
"Martinez mencoret saya tanpa alasan, jika ada alasannya tetap omong kosong bagi saya. Menurut saya dia bukan pakar sepak bola."
"Dia pelatih yang sangat buruk. Ia tidak pernah menyingkirkan saya, karena memang ia tidak menginginkan saya," lanjutnya.
Perkataan itu menggambarkan betapa dalam luka yang ditinggalkan pada masa itu. Baginya, Martinez bukan hanya gagal membawa Belgia juara, tapi juga gagal memberi keadilan bagi pemain yang sebenarnya punya kualitas untuk tampil di panggung besar.
Menoleh ke Arah Indonesia
Di tengah refleksi kariernya, Nainggolan justru menyinggung sesuatu yang jauh lebih personal, asal-usul dan identitas. Ia kini menyesal tak pernah mencoba mengenakan seragam merah putih dan bermain untuk negara leluhurnya, Indonesia.
Rasa penyesalan itu bukan muncul karena dendam pada Belgia, melainkan karena rasa hormat yang ia lihat tumbuh di Indonesia terhadap para pemain keturunan.
"Sekarang saya katakan setiap hari, saya lebih suka bermain untuk Indonesia, bukan karena saya menentang Belgia," katanya jujur.
"Karena saya bermain di semua jenjang pemain muda di Belgia, tetapi karena rasa hormat yang saya dapatkan dari orang-orang di sana," lanjutnya.
Baginya, penghargaan dan rasa cinta dari publik jauh lebih berarti daripada sekadar status atau prestasi di atas kertas.
"Lihat saja Sandy Walsh atau Ragnar Oratmangoen, mereka hanyalah pemain biasa, tetapi mereka dikagumi di sana," tandasnya.
Ucapan itu terdengar sederhana, tapi punya makna besar, tentang bagaimana kebanggaan dan rasa memiliki bisa membuat seseorang lebih dihargai daripada sekadar popularitas.
Antara Eropa dan Tanah Air
Nainggolan memang tak pernah sempat mengenakan seragam timnas Indonesia. Tapi perjalanan kariernya sempat bersinggungan dengan sepak bola Tanah Air. Pada musim 2023/2024, ia sempat membela Bhayangkara FC di Liga 1. Meski hanya setengah musim, kehadirannya memberi warna tersendiri bagi publik sepak bola nasional.
Sementara itu, debut Nainggolan bersama Belgia terjadi pada Mei 2009. Dalam perjalanannya, ia mencatatkan 30 caps dan enam gol. Kini, ia kembali ke tanah kelahirannya, bermain untuk klub kasta kedua Liga Belgia, KSC Lokeren. Kontraknya diperpanjang pada Juni 2025 dan masih akan berjalan hingga 2026.
Di usia yang tak lagi muda, Radja mungkin tak akan punya kesempatan untuk memperbaiki keputusan masa lalu. Namun, pernyataannya kali ini menjadi refleksi yang kuat tentang arti identitas dan rasa hormat, sesuatu yang tak bisa dibeli oleh ketenaran atau trofi sekalipun.










