ID EN

Menyulap Banda Neira Menjadi Surga Wisata Sejarah dan Bahari Dunia

Senin, 27 Oktober 2025 | 13:34

Penulis: Arif S

Sejumlah wisatawan mancanegara menikmati suasana di lokasi wisata Banda Neira, Maluku
Sejumlah wisatawan mancanegara menikmati suasana di lokasi wisata Banda Neira, Maluku.
Sumber: Antara Foto/FB Anggoro/tom.

Di jantung Laut Banda, tersembunyi sebuah surga kecil bernama Banda Neira. Pulau yang dulu terkenal karena rempah pala kini bersiap menulis babak baru dalam sejarahnya, bukan lagi sekadar pulau beraroma masa lalu, tapi menjadi pusat integrasi konservasi laut, arkeologi, dan budaya maritim.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan Banda Neira sebagai model percontohan dalam program unggulan bertajuk “Laut untuk Kesejahteraan” (Lautra). 

Program ini memadukan keindahan alam, nilai sejarah, dan kesejahteraan masyarakat pesisir dalam satu visi besar, menjaga laut sambil menumbuhkan ekonomi lokal.

“Program Lautra menempatkan Banda Neira sebagai kawasan prioritas karena memiliki kekayaan ekosistem laut sekaligus nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Kami ingin membangun model pengelolaan laut yang tidak hanya lestari, tetapi juga mensejahterakan,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, dikutip dari siaran resmi di Jakarta, Senin.

Dari Laut ke Laboratorium Kehidupan

KKP memproyeksikan Banda Neira menjadi laboratorium ekonomi pesisir, tempat di mana ekologi, ekonomi, dan sosial budaya saling berpadu. 

Tak hanya menjaga laut, masyarakat juga akan mendapat manfaat nyata dari pengelolaan yang berkelanjutan.

Koswara menyebutkan program Lautra mencakup 11 provinsi, 20 kawasan konservasi, dan 3 wilayah pengelolaan perikanan dengan total area mencapai 8,3 juta hektare.

Melalui empat komponen utama, penguatan kelembagaan konservasi, pembangunan ekonomi lokal, pembiayaan berkelanjutan (blue financing), dan manajemen proyek terpadu, program ini menargetkan lebih dari 75 ribu penerima manfaat langsung, termasuk 30 persen kelompok perempuan pesisir.

Wisata Bahari dan Budaya Berpadu di Negeri Rempah

Sebagai kawasan prioritas, Banda Neira memiliki daya tarik yang sulit ditandingi. Laut birunya adalah surga bagi penyelam, sementara jejak sejarahnya, dari benteng kolonial hingga rumah pengasingan Bung Hatta menjadi saksi kejayaan masa lampau.

Kini, KKP bersama mitra akademik tengah mengembangkan lima pilar utama untuk memperkuat potensi Banda Neira melalui diversifikasi ekowisata bertema sejarah dan bahari, pembentukan koperasi wisata maritim, pembangunan infrastruktur local seperti dermaga wisata dan museum budaya laut, hingga pelatihan masyarakat menjadi storyteller dan pemandu wisata bersertifikat.

Semua langkah itu bertujuan menjadikan Banda Neira bukan sekadar destinasi, tetapi pengalaman hidup bagi siapa pun yang datang.

“Banda Neira dinilai sebagai pusat pengembangan ekonomi pesisir berkelanjutan yang memadukan alam dan budaya,” kata Koswara.

Pendanaan dan Kolaborasi untuk Laut Lestari

Agar program ini berjalan lancar, KKP menyiapkan tiga skema hibah, mulai dari micro grant senilai Rp150 juta hingga matching grant sebesar Rp1,25 miliar.

“Kami ingin memastikan ekonomi tumbuh tanpa merusak laut,” kata Direktur Jasa Bahari Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP Enggar Sadtopo.

Sementara itu, Rektor Universitas Banda Neira, Muhammad Farid, menggambarkan pulau ini sebagai “laboratorium hidup” pembangunan berkelanjutan yang menuntut kolaborasi lintas sektor.

“Banda Neira adalah laboratorium hidup pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor,” katanya.

Banda Neira, Surga Bahari di Negeri Rempah

Keindahan bawah laut Banda Neira tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi luar biasa. Dari coral triangle yang menakjubkan hingga heritage spice tourism dan agrowisata pala, semua menjadi bagian dari daya tarik yang tak bisa dilepaskan dari sejarah dan budaya lokal.

Kastana Sapanli dari IPB University menekankan potensi Banda Neira sebagai bagian dari coral triangle dan spice islands, yang ideal untuk pengembangan eco-diving, heritage spice tourism, dan agrowisata pala.

Bagi para pencinta laut, sejarah, dan budaya, Banda Neira kini bukan hanya destinasi, tapi simbol masa depan wisata Indonesia yang lestari, berbudaya, dan menyejahterakan.***