Mo Salah dan Deretan Pemain Sepak Bola Paling Egois Versi AI
Sabtu, 25 Oktober 2025 | 12:50
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Nama Mohamed Salah belakangan ini kembali jadi perbincangan hangat bukan karena torehan gol spektakulernya, tapi karena performanya yang disebut mulai menurun dan sikapnya di lapangan yang dinilai semakin egois.
Dalam beberapa laga terakhir bersama Liverpool, Salah kerap terlihat menahan bola terlalu lama, memaksakan tembakan dari sudut sempit, bahkan mengabaikan rekan setim yang berdiri bebas.
Bagi sebagian fans, hal ini terasa seperti versi “lama” dari Salah yang dulu sempat berseteru secara halus dengan Sadio Mané di masa jayanya. Namun, bagi pendukung setianya, ini hanyalah bentuk dari ambisi tanpa kompromi dorongan seorang penyerang untuk tetap jadi pusat sorotan dalam tim yang kini mulai banyak bintang baru.
BACA JUGA
Piala Dunia 2026 Semakin Dekat! Ini Deretan Negara yang Sudah Lolos
Pertahanan Liverpool di Titik Terlemah Kebobolan 15 Gol dalam 9 Laga, Virgil van Dijk Buka Suara
Legenda Hidup Manchester United, Luis Nani Nyaman di Indonesia 'Serasa di Rumah Sendiri'
Fenomena Salah ini membuka kembali diskusi lama, apakah sikap egois dalam sepak bola selalu buruk? Atau justru, seperti halnya insting pembunuh di depan gawang, ego adalah bagian penting dari DNA pemain besar?
Faktanya, banyak bintang besar di dunia sepak bola yang membangun karier mereka dengan bahan bakar ambisi pribadi. Mereka haus gol, haus pengakuan, dan kadang haus sorotan kamera. Tapi justru karena itu, permainan mereka selalu meninggalkan jejak entah dicintai, atau dibenci.
Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), kami merangkum daftar 10 pemain paling egois di dunia sepak bola saat ini, termasuk Mo Salah di dalamnya.
10. Cole Palmer
Kata AI: “Sering merebut penalti dan bola mati, bikin frustrasi rekan setim, sering dibandingkan secara negatif dengan kreator tanpa pamrih seperti Hazard atau Messi.”
Sebagai motor serangan utama Chelsea, Cole Palmer nyaris tak bisa menghindari label egois. Kualitas individunya jelas di atas rata-rata, dan statusnya sebagai salah satu penendang penalti terbaik di dunia membuktikan bahwa Pep Guardiola mungkin terlalu cepat melepasnya pada musim panas 2023.
Chelsea jelas sangat bergantung pada keahliannya dalam bola mati. Palmer sering tampil sebagai penyelamat di momen krusial, tapi gaya mainnya yang suka mengambil alih semua tanggung jawab kadang menimbulkan pertanyaan, apakah performa dan chemistry-nya dengan tim bisa bertahan lama?
9. Noni Madueke
Kata AI: “Pengambilan keputusan buruk,sering menggiring bola ke ruang mati daripada mengoper, dikritik sebagai pemain paling egois di Premier League karena minim kontribusi akhir.”
Di bawah asuhan Mikel Arteta di Arsenal, Madueke terlihat seperti pemain yang terlahir kembali. Tapi ketika masih berseragam Chelsea, reputasinya lain cerita. Ia sering membuat keputusan aneh, seperti memilih menggiring bola ke pinggir lapangan meski rekan setim sudah berteriak minta bola.
AI menyoroti kelemahannya dalam penyelesaian akhir, sementara legenda Arsenal, Martin Keown, bahkan pernah menyebut Madueke “terlalu egois”. Kini, tinggal menunggu waktu apakah ia bisa membuktikan bahwa pandangan itu salah.
8. Alejandro Garnacho
Kata AI: “Menolak umpan sederhana (misalnya abaikan overlap full-back), masih muda tapi sudah terkenal karena serangan balik yang sering gagal akibat ego.”
Dulu digadang-gadang sebagai “the next big thing” di Manchester United, Garnacho kini mencoba peruntungan di Chelsea setelah pindah pada musim panas 2025 demi mendapat menit bermain lebih banyak. Tapi langkah itu sejauh ini belum berbuah manis.
Di lapangan, Garnacho kerap mengabaikan rekan setim yang siap membantu. Ia lebih memilih menggiring bola sendiri, meski peluangnya tipis. Energinya memang besar, tapi keputusannya sering membuat serangan Chelsea berakhir sia-sia.
7. Bruno Fernandes
Kata AI: “Selalu mengambil bola mati dan tembakan, bahkan dari posisi sulit, frustrasi saat dicadangkan menunjukkan sikap ‘aku duluan’ dalam laga ketat.”
Sejak datang ke Old Trafford, Bruno Fernandes adalah figur paling penting di era pasca-Sir Alex Ferguson. Kreativitasnya luar biasa, tapi terkadang ia membuat fans geregetan dengan bola-bola spekulatif yang tak perlu.
Fernandes juga dikenal emosional, sering terlihat mengangkat tangan ketika rekan setim gagal memberi bola sesuai keinginannya. Meski begitu, tak bisa disangkal bahwa ia punya etos kerja yang luar biasa dan menjadi jantung permainan Manchester United.
6. Erling Haaland
Kata AI: “Murni bermental predator. Sering abaikan kerja sama tim, efektif tapi bikin pemain kreatif di sekitarnya terpinggirkan.”
Tidak ada yang meragukan Erling Haaland sebagai mesin gol. Di klub mana pun ia bermain, dari Dortmund hingga Manchester City, pemain asal Norwegia itu selalu jadi jaminan gol.
Namun gaya mainnya memang sangat individualistis, sedikit menyentuh bola, tapi sekali dapat peluang, langsung dieksekusi tanpa pikir panjang. Apakah itu egois? Mungkin. Tapi tanpa naluri haus gol seperti itu, Haaland tak akan jadi rekor-breaker seperti sekarang.
5. Vinícius Jr
Kata AI: “Sering terlalu lama membawa bola di momen penting, tak hadir di Ballon d’Or 2024 dan membuat rekan setim ikut memboikot, bukti perburuan prestasi individu.”
Saat dunia menanti hasil Ballon d’Or 2024, dua nama besar jadi sorotan, Vinícius Jr dan Rodri. Ketika Rodri diumumkan sebagai pemenang, Vinícius memilih tak hadir dan rekan setimnya ikut boikot. Sebuah gestur yang memperlihatkan sisi ambisi pribadinya.
Di lapangan, Vinícius sering memilih untuk mencetak momen ajaib ketimbang mengambil keputusan sederhana. Tak selalu salah, tapi jelas memperkuat citra bahwa sang bintang Real Madrid punya “DNA” pemain egois.
4. Neymar Jr
Kata AI: “Terlalu banyak menggiring bola hingga bikin rekan setim frustrasi, gaya showboat dan fokus pada trik tetap terbawa hingga di Saudi.”
Neymar Jr adalah simbol kegembiraan sepak bola modern. Saat masa jayanya di Barcelona, ia memukau dengan skill dan keajaiban bola, tapi sering kali juga bikin orang geleng kepala karena terlalu sering show-off.
Ia punya tingkat keberhasilan tinggi dalam duel satu lawan satu, tapi tak selalu demi kepentingan tim. Mungkin karena itu juga, karier gemilangnya tak pernah sampai ke puncak Ballon d’Or seperti yang diprediksi banyak orang.
3. Mohamed Salah
Kata AI: “Terkenal karena enggan mengoper di momen besar (misal berselisih dengan Mané), Graeme Souness menyebutnya ‘pemain paling egois yang pernah saya lihat.’”
Sejak datang ke Liverpool pada 2017, Mohamed Salah menjelma jadi legenda Anfield. Gol demi gol ia ciptakan, tapi di balik kejayaannya, sifat egoisnya juga kerap muncul.
Souness bahkan pernah terang-terangan menyebut Salah sebagai pemain paling egois yang pernah ia saksikan. Tak jarang, Salah memilih menembak sendiri ketimbang memberi umpan ke rekan setim yang lebih bebas. Memang, semua demi kemenangan Liverpool, tapi sisi “aku duluan” itu sulit diabaikan.
2. Cristiano Ronaldo
Kata AI: “Nafsu mencetak gol membuatnya sering abaikan rekan setim; di luar lapangan, ambisi Ballon d’Or dan tuntutan transfer menunjukkan fokus pada warisan pribadi.”
Cristiano Ronaldo adalah definisi pemenang sejati. Namun di balik semua trofi dan rekor, ada sisi ego yang sulit disembunyikan. Kini mendekati usia 40, Ronaldo masih menunjukkan reaksi kesal tiap kali tak diberi umpan, baik di klub maupun timnas.
Ambisinya untuk menjadi yang terbaik sepanjang masa kadang membuatnya mengesampingkan harmoni tim. Tak heran, banyak yang menilai keegoisannya adalah bagian tak terpisahkan dari kehebatannya.
1. Kylian Mbappé
Kata AI: “Sering dijuluki ‘pemain paling egois di dunia’ karena terlalu sering menggiring bola ketimbang mengoper mudah, egonya mengguncang harmoni tim setelah pindah ke Real Madrid.”
Kylian Mbappé mungkin adalah pemain paling berbahaya di dunia saat ini. Dari AS Monaco ke PSG dan kini Real Madrid, kariernya penuh dengan gol spektakuler dan momen bersejarah.
Namun di balik kemampuan luar biasanya, ada sisi egosentris yang sering muncul. Ia sering memilih menggiring bola ke area padat ketimbang memberikan umpan mudah ke rekan setim.
Ego besarnya sempat menimbulkan gesekan di PSG dan kini jadi sorotan di Madrid. Mungkin nanti, setelah ia menambah koleksi gelar, narasinya akan berubah tapi untuk saat ini, sulit menyangkal bahwa Mbappé adalah wajah dari ego di sepak bola modern.










