ID EN

Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia Picu Gelombang Penolakan

Sabtu, 1 Agustus 2026 | 11:11

Penulis: Arif S

Bendera FIFA
Bendera FIFA.
Sumber: FIFA

Rencana FIFA membentuk perusahaan baru yang memungkinkan penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta memicu gelombang penolakan dari berbagai konfederasi sepak bola dunia. UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan Concacaf sama-sama menyuarakan kekhawatiran terhadap proposal yang dinilai dapat mengubah tata kelola sepak bola global.

Kontroversi mencuat setelah media Inggris The Times melaporkan Presiden FIFA Gianni Infantino tengah mengkaji skema penjualan sebagian kepemilikan hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pembahasan dengan sejumlah investor bahkan telah dilakukan bersama tokoh-tokoh yang dekat dengan pemerintahan Donald Trump.

Skema itu disebut berpotensi menghasilkan pendapatan hingga puluhan miliar dolar Amerika Serikat melalui pembentukan sebuah perusahaan yang akan mengelola kompetisi-kompetisi terbesar FIFA, termasuk Piala Dunia putra, Piala Dunia putri, hingga Piala Dunia Antarklub.

Di tengah munculnya kabar tersebut, FIFA juga mengumumkan rencana meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola hingga lebih dari 10 miliar dolar AS melalui pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), dengan syarat memperoleh persetujuan dari asosiasi anggota FIFA.

Namun, langkah tersebut langsung menuai reaksi keras dari UEFA. Konfederasi sepak bola Eropa itu menilai gagasan menjual saham Piala Dunia telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah disentuh oleh badan pengatur sepak bola.

"UEFA menanggapi hal ini dengan sangat serius. Demikian pula seharusnya setiap asosiasi sepak bola nasional dan setiap pemangku kepentingan: liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, serta siapa pun yang peduli terhadap masa depan olahraga ini," demikian pernyataan resmi UEFA.

UEFA menegaskan sepak bola bukanlah aset komersial yang bisa diperjualbelikan begitu saja, terlebih tanpa transparansi mengenai pihak yang akan memperoleh keuntungan dari transaksi tersebut.

"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan—terlebih lagi tanpa adanya transparansi mengenai siapa yang memperoleh keuntungan finansial. Tak satu pun dari kita adalah pemilik sepak bola. Sepak bola bukanlah milik FIFA untuk dijual," lanjut pernyataan resmi UEFA.

Penolakan serupa datang dari Concacaf. Konfederasi yang membawahi kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia menggelar pertemuan bersama 41 asosiasi anggota serta anggota Dewan FIFA setelah mengetahui adanya proposal pembentukan FIFA Forward Enterprise.

Concacaf menilai proses penyusunan proposal tidak memenuhi prinsip tata kelola yang semestinya karena dilakukan dalam waktu sangat singkat tanpa pembahasan memadai.

"Para anggota (Concacaf) menyatakan keprihatinan mendalam tentang kurangnya proses yang semestinya terkait proposal tersebut, tenggat waktu yang terlalu singkat yang diberlakukan secara artifisial, dan tidak adanya peninjauan atau persetujuan oleh badan tata kelola FIFA yang relevan," demikian pernyataan Concacaf dalam laman resminya.

Selain mempertanyakan urgensi investasi swasta, Concacaf menilai FIFA sebenarnya memiliki cadangan dana sangat besar sehingga pendanaan program FIFA Forward seharusnya tidak memerlukan penjualan saham turnamen paling bergengsi di dunia tersebut.

Melalui hasil pertemuan itu, Concacaf memutuskan menolak proposal FIFA serta meminta anggota Dewan FIFA dari kawasan Concacaf mendorong penggunaan cadangan dana FIFA untuk memperkuat pengembangan sepak bola tanpa melibatkan investor eksternal.

Concacaf juga meminta Presiden FIFA memastikan seluruh kebijakan strategis mengikuti prosedur tata kelola yang berlaku sesuai Statuta FIFA. Konfederasi tersebut menegaskan masa depan sepak bola harus tetap berada di tangan keluarga besar sepak bola dunia.

"Sejarah telah menunjukkan kepada FIFA dan keluarga sepak bola apa yang terjadi ketika para penjaga permainan kehilangan pandangan terhadap nilai-nilai tersebut,"** demikian Concacaf.

Sikap kritis juga ditunjukkan AFC. Konfederasi sepak bola Asia mengaku kecewa karena tidak pernah diajak berdiskusi sebelum proposal FIFA Forward Enterprise muncul ke ruang publik.

"AFC tidak dimintai pendapat mengenai proposal (FFE) tersebut dan kecewa bahwa masalah sepenting ini menjadi perhatian publik sebelum keluarga AFC diberi kesempatan untuk memeriksa dan mendiskusikannya melalui saluran tata kelola yang tepat dan telah ditetapkan," demikian pernyataan AFC.

Meski mengakui pentingnya inovasi dalam pengembangan sepak bola global, AFC menegaskan setiap kebijakan yang berpotensi mengubah struktur komersial dan keuangan sepak bola dunia harus dibahas secara terbuka bersama seluruh konfederasi, asosiasi anggota, dan pemangku kepentingan terkait.

Menurut AFC, seluruh pihak harus memperoleh informasi yang lengkap serta waktu yang cukup untuk mengevaluasi implikasi tata kelola, hukum, komersial, dan strategis sebelum keputusan besar diambil. Proses tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan terhadap sistem tata kelola FIFA.

Di tengah derasnya kritik, Gianni Infantino membela proposal tersebut. Presiden FIFA itu menegaskan pembentukan FIFA Forward Enterprise bukanlah keputusan final, melainkan hanya sebuah opsi yang akan diputuskan secara demokratis oleh seluruh anggota FIFA.

"FIFA Forward Enterprise (FFE) sejatinya adalah sebuah proposal, sebuah tawaran. Itu merupakan bagian dari proses demokratis, sebuah proses konsultasi, dan yang terpenting, itu adalah sebuah peluang, bukan kewajiban," kata Infantino dalam video yang dirilis FIFA dikutip dari beIN Sports.

Infantino menjelaskan tujuan utama pembentukan perusahaan tersebut adalah membuka potensi nilai komersial kompetisi FIFA yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. 

Ia menambahkan pengelolaan hak siar, lisensi, kerja sama komersial, dan berbagai peluang bisnis baru akan memberikan manfaat bagi seluruh 211 asosiasi anggota FIFA apabila nantinya disetujui melalui mekanisme pemungutan suara dan Dewan FIFA.

"Untuk memanfaatkan nilai tersebut dibutuhkan keahlian dan wawasan tambahan yang berbeda dari tugas mengatur dan mengembangkan olahraga ini," katanya.

Menutup penjelasannya, Infantino membantah proposal tersebut akan menghilangkan identitas sepak bola sebagai olahraga milik publik. Ia justru meyakini tambahan pendanaan dari sektor komersial akan mempercepat pembangunan sepak bola di seluruh dunia.

"Para penggemar di seluruh dunia akan memperoleh manfaat yang sangat besar dari potensi perubahan ini karena akan mentransformasi sepak bola di negara mereka masing-masing," pungkasnya.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!