Main Bola di Usia 46 Tahun, Diego Forlan Alami Cedera Parah, 3 Tulang Rusuk Patah
Sabtu, 25 Oktober 2025 | 18:29
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Ada yang bilang, semangat bermain bola tak pernah menua. Tapi tubuh punya batas yang tak bisa diajak kompromi. Itulah yang baru saja dirasakan Diego Forlán, legenda Manchester United dan Timnas Uruguay, yang harus dilarikan ke rumah sakit usai kolaps di lapangan.
Pada usianya yang ke-46, Forlán masih aktif berlaga di Liga Universitaria Uruguay, kompetisi lokal untuk pemain veteran. Bersama tim Old Boys, ia tampil melawan Old Christians dalam duel yang awalnya berjalan santai, tapi berakhir dengan tragedi kecil bagi sang legenda.
Pertandingan itu sebenarnya berlangsung menyenangkan. Old Boys menang 4-1, namun Forlán tak sempat menikmati kemenangan tersebut. Di babak kedua, ketika mencoba melepaskan tembakan, ia bertabrakan dengan pemain lawan bernama Josema. Benturan itu membuatnya terjatuh keras dan langsung mengerang kesakitan.
BACA JUGA
Piala Dunia 2026 Semakin Dekat! Ini Deretan Negara yang Sudah Lolos
Pelatih Akira Tak Puas Menang 3-1, Garuda Pertiwi Tetap Kejar Tiket Semifinal
Liverpool Terburuk dalam 60 Tahun, Juara Bertahan di Titik Nadir
Rekan-rekan setimnya panik. Petugas medis berlari masuk ke lapangan, memberi isyarat gawat darurat. Beberapa menit kemudian, ambulans datang dan membawa Forlán ke rumah sakit di Montevideo.
Diagnosisnya tak main-main tiga tulang rusuk patah dan robekan kecil pada paru-paru (pneumotoraks).
Menurut laporan AS.com dan El País, Forlán langsung menjalani tindakan medis dengan selang dada untuk menstabilkan pernapasan.
“Mereka langsung merawat saya dan saya dipasangi selang untuk meringankan rasa sakit,” ujar Forlán lewat pesan WhatsApp kepada media Spanyol, El País.
“Saya akan tetap berada di rumah sakit hingga Selasa. Selama 20 tahun berkarier di dunia profesional, hal seperti ini belum pernah terjadi pada saya.”
Tubuh Tak Bisa Diajak Nostalgia
Dalam karier profesionalnya yang gemilang dari Atlético Madrid, Villarreal, Manchester United, hingga Inter Milan, Forlán dikenal sebagai pemain yang disiplin dan jarang cedera. Tapi insiden kali ini jadi pengingat keras bahwa meski semangat tak pernah padam, fisik punya memori dan batas usia.
Ia menceritakan detik-detik benturan itu dengan detail yang menyakitka.
“Saya melihat, saya bisa mengalahkan Quique, lalu saya melihat Josema bergerak ke dalam, sehingga saya berdiri dengan kaki kiri dan saya menendang bola. Saat itulah Josema keluar memblok tembakan, saya menendangnya, melompat, lalu entah saya menyentuhnya atau Josema menyentuh saya. Tapi itu permainannya, bukan salah dia.”
“Tanganku tetap di sana, seolah-olah saya tak bisa mengulurkan tangan untuk menopang badan saya sendiri. Saya terjatuh seperti karung kentang.”
Forlán bahkan mengaku langsung tahu ada yang tidak beres saat tubuhnya menghantam tanah.
“Tangan saya terjepit di bawah dada, itu membuat tulang rusuk saya patah. Ketika saya jatuh, saya berkata ‘Syukurlah pergelangan tangan saya tidak terluka’. Tapi saat itu juga, saya tidak bisa bernapas, saya tidak bisa mendapatkan udara, dan tidak menemukan posisi yang enak.”
“Rasa sakitnya terus-menerus saya rasakan, tak kunjung hilang, bahkan sampai saya tiba di rumah sakit,” pungkasnya.
Main Santai Bukan Berarti Aman
Insiden Forlán membuka mata banyak orang bahwa kompetisi veteran tetap memiliki risiko tinggi. Walau atmosfernya lebih bersahabat dan tanpa tekanan profesional, intensitas dan kontak fisik tetap terjadi. Menurut American College of Sports Medicine, sekitar 30–40% cedera olahraga pada usia di atas 40 tahun terjadi karena ketidaksiapan fisik atau pemanasan yang tidak memadai.
“Kebugaran di usia matang bukan tentang berapa lama kita bisa bertahan di lapangan, tapi seberapa cerdas kita mengelola energi dan batas tubuh,” tulis laporan Sports Medicine Journal (2024).
Dalam kasus Forlán, rasa percaya diri dan refleks kompetitif mungkin membuatnya lupa bahwa tubuh 46 tahun tak bisa lagi bereaksi secepat dulu. Sebuah refleksi yang bisa jadi pelajaran berharga buat generasi muda yang sering memaksakan diri demi ambisi.
Dari Golden Ball ke Rumah Sakit
Nama Diego Forlán tak akan pernah lepas dari sejarah sepak bola dunia. Ia meraih Golden Ball di Piala Dunia 2010, membantu Uruguay menembus semifinal, serta mencetak lebih dari 30 gol internasional dari 112 penampilan. Ia juga pernah meraih gelar Pichichi Trophy dan Golden Boot Eropa saat masih berseragam Villarreal.
Kini, meski tak lagi tampil di panggung besar, kecintaannya pada sepak bola tak luntur. Forlán tetap melatih, bermain di laga amal, dan menjadi inspirasi bagi pemain muda di Uruguay. Hanya saja, kali ini ia harus istirahat sejenak untuk memulihkan diri sebelum mungkin kembali ke lapangan, entah sebagai pemain veteran atau pelatih penuh semangat.










