ID EN

Media Brasil Soroti Kegagalan Tim Samba di Piala Dunia 2026, Ancelotti Jadi Fokus Evaluasi

Selasa, 7 Juli 2026 | 08:00

Penulis: Arif S

Pelatih timnas Brasil, Carlo Ancelotti
Pelatih timnas Brasil, Carlo Ancelotti.
Sumber: Antaranews/CBF

Kegagalan Brasil melaju ke perempat final Piala Dunia 2026 memicu gelombang kritik dari media setempat. Kekalahan dari Norwegia di babak 16 besar bukan hanya mengakhiri langkah Selecao di turnamen, tetapi juga memunculkan evaluasi besar terhadap performa tim dan debut Carlo Ancelotti sebagai pelatih Tim Samba.

Sejumlah media ternama Brasil kompak menilai tersingkirnya Selecao sebagai kemunduran besar dalam upaya mengakhiri penantian panjang meraih gelar Piala Dunia keenam atau hexa.

Surat kabar O Globo menyebut kekalahan itu sebagai akhir dari mimpi Brasil untuk kembali menjadi juara dunia.

"Akhir dari mimpi meraih hexa"

Media itu menyoroti fakta debut Carlo Ancelotti di Piala Dunia bersama Brasil berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Bahkan, tim Samba gagal mencapai babak perempat final, fase yang dalam beberapa edisi terakhir menjadi batu sandungan bagi mereka.

Menurut O Globo, Brasil juga mencatat sejarah tidak diinginkan. Untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 1990, Selecao tersingkir di babak 16 besar. Saat itu, harapan Brasil dipatahkan Argentina yang diperkuat Diego Maradona.

Tak hanya hasil pertandingan, statistik juga menjadi perhatian. Pada laga melawan Norwegia di New Jersey, Brasil hanya menguasai 32 persen penguasaan bola. Angka itu menjadi persentase terendah yang pernah dicatat Selecao dalam pertandingan Piala Dunia sejak data tersebut mulai direkam pada 1966.

Nada serupa juga disampaikan Folha de S.Paulo, yang menggambarkan kegagalan Brasil sebagai akhir dari mimpi besar masyarakat sepak bola negeri itu.

"Brasil tersingkir, dan mimpi itu pun sirna," tulis surat kabar tersebut.

Media tersebut juga memuji Norwegia yang bermain efektif hingga mampu menyingkirkan Brasil lewat dua gol Erling Haaland di babak kedua.

Selain itu, Folha de S.Paulo menyoroti momen emosional bagi Neymar. Penyerang berusia 34 tahun diyakini telah memainkan pertandingan Piala Dunia terakhir dalam kariernya, sehingga kekalahan itu terasa semakin menyakitkan bagi publik Brasil.

Meski demikian, surat kabar itu masih memberikan ruang bagi Carlo Ancelotti untuk membangun proyek jangka panjang. Mereka menilai pelatih asal Italia itu belum memiliki cukup Waktu sejak ditunjuk pada Mei tahun lalu untuk menerapkan seluruh ide permainannya.

Sementara itu, UOL memberikan penilaian yang jauh lebih keras terhadap performa Brasil.

"Kegagalan bersama Selecao merupakan yang terbesar dalam karier Ancelotti, sang raja di level klub," kata media tersebut.

Dalam kolom terpisah di media yang sama, pengamat sepak bola Mauro Cezar Pereira menilai eliminasi Brasil tidak lepas dari keputusan taktis sang pelatih.

"Sebuah eliminasi yang ditentukan oleh pilihan-pilihan sang pelatih. Mulai dari sudut pandang strategis hingga keputusan untuk kembali bermain tanpa menguasai bola," tulisnya.

Pereira juga mengingatkan Brasil kembali disingkirkan tim asal Eropa, memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung sejak Piala Dunia 2006.

Sorotan lain datang dari **Gazeta Esportiva**, yang mengangkat kegagalan Bruno Guimaraes mengeksekusi tendangan penalti pada babak pertama.

Media tersebut mencatat gelandang Newcastle United itu menjadi pemain Brasil pertama yang gagal mencetak gol dari titik penalti pada waktu normal pertandingan Piala Dunia sejak Zico mengalami nasib serupa saat menghadapi Prancis pada edisi 1986.

Beragam reaksi media menunjukkan besarnya kekecewaan publik Brasil terhadap hasil di Piala Dunia 2026. Kini, perhatian beralih kepada Carlo Ancelotti yang dituntut segera membangun kembali kekuatan Selecao demi mengakhiri puasa gelar dunia sejak 2002.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!