Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan sengit di atas lapangan, tetapi juga memunculkan perdebatan mengenai kualitas permukaan lapangan (playing surface) di New York New Jersey Stadium, stadion yang akan menjadi lokasi partai final. Sejumlah pemain bintang menilai kondisi lapangan belum memberikan karakter permainan yang mereka harapkan. Kritik tersebut memunculkan perhatian terhadap kesiapan salah satu venue paling bergengsi di turnamen ini, mengingat laga final merupakan etalase sepak bola dunia yang menuntut standar terbaik di setiap aspek penyelenggaraan.
Sorotan mulai mencuat setelah Prancis mengalahkan Senegal 3-1 pada laga pembuka mereka. Gelandang Prancis Adrien Rabiot secara terbuka mengaku permukaan lapangan terasa keras dan kaku. Menurutnya, karakter lapangan bahkan lebih menyerupai rumput sintetis dibanding rumput alami yang lazim digunakan pada pertandingan sepak bola internasional. Pelatih Prancis Didier Deschamps juga menilai karakter pantulan bola di lapangan tersebut berbeda dengan yang biasa ditemui pada turnamen besar.
Keluhan serupa sebelumnya disampaikan penyerang Brasil Vinicius Junior seusai laga melawan Maroko. Vinicius mengatakan cuaca panas membuat permukaan lapangan cepat mengering sehingga laju bola menjadi lebih lambat. Kondisi itu membuat Brasil kesulitan memainkan tempo cepat yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama mereka. Kritik dari dua tim unggulan tersebut membuat kualitas lapangan New York New Jersey Stadium menjadi perhatian publik internasional.
BACA JUGA
Banyak Jalan ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Siapa Lolos, Siapa Tergelincir?
Piala Dunia 2026: Belanda dan Spanyol Kejar Tiga Poin, Jerman Waspadai Ancaman Pantai Gading
Ujian Awal Favorit Juara Piala Dunia 2026: Prancis Hadapi Senegal, Argentina Ditantang Aljazair
Keluhan para pemain bukan tanpa alasan. Stadion yang sebelumnya dikenal sebagai MetLife Stadium merupakan markas dua klub National Football League (NFL), yakni New York Giants dan New York Jets. Dalam penggunaan sehari-hari, stadion ini menggunakan permukaan sintetis FieldTurf. Menjelang Piala Dunia 2026, FIFA mewajibkan seluruh pertandingan dimainkan di atas rumput alami sehingga permukaan lapangan harus dimodifikasi menggunakan sistem rumput alami sementara yang dipasang di atas konstruksi lapangan yang sudah ada.
Dalam Podcast Seputar Piala Dunia 2026 (Spildun) produksi ITSMe, di Sentul, Bogor, Pakar Rumput Rangga Alfathan, Direktur Kaerpe, menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar mengganti rumput sintetis dengan rumput alami. Menurutnya, konstruksi stadion NFL sejak awal dirancang untuk kebutuhan olahraga yang berbeda. Karena itu, sistem drainase, sirkulasi udara, media tanam, hingga tingkat kelembapan harus disesuaikan agar mampu menghasilkan karakter permukaan lapangan yang sesuai dengan standar sepak bola internasional.
FIFA sebenarnya telah mempersiapkan proyek ini selama bertahun-tahun melalui riset bersama Michigan State University dan University of Tennessee. Berdasarkan kondisi iklim di setiap kota tuan rumah, FIFA menggunakan dua formula utama rumput. Stadion di wilayah beriklim hangat menggunakan Bermuda grass, sedangkan stadion di wilayah yang lebih sejuk menggunakan campuran Kentucky Bluegrass dan Perennial Ryegrass. Pendekatan ini dilakukan agar karakter lapangan tetap konsisten meski kondisi cuaca di 16 kota penyelenggara sangat berbeda.
Menurut Rangga Alfathan, kualitas lapangan tidak hanya ditentukan oleh jenis rumput yang digunakan. Kerataan permukaan harus terjaga demi keselamatan pemain, kelembapan harus dikontrol agar lapangan tidak terlalu keras maupun terlalu lunak, sementara tingkat surface hardness wajib berada dalam batas aman sesuai standar FIFA. Selain itu, perawatan rutin menjadi faktor yang sangat menentukan karena kerusakan kecil akibat injakan sepatu atau tekel pemain dapat memengaruhi karakter lapangan pada pertandingan berikutnya.
Tantangan itu semakin besar karena New York New Jersey Stadium dijadwalkan menggelar delapan pertandingan selama Piala Dunia 2026, termasuk partai final. Artinya, tim perawatan lapangan harus bekerja secara intensif sepanjang turnamen untuk menjaga kualitas playing surface tetap konsisten meski digunakan secara berulang dalam waktu yang relatif singkat.
Polemik di New York New Jersey Stadium menjadi pengingat bahwa keberhasilan penyelenggaraan Piala Dunia tidak hanya ditentukan oleh megahnya stadion atau kualitas pertandingan. Detail teknis seperti kualitas permukaan lapangan memegang peranan penting dalam menjaga ritme permainan, menghasilkan pertandingan yang berkualitas, sekaligus meminimalkan risiko cedera bagi para pemain di ajang sepak bola terbesar di dunia.










