Mimpi Olimpiade Jadi Motivasi Pesenam Muda Indonesia di Kejuaraan Dunia Senam 2025
Rabu, 22 Oktober 2025 | 12:00
Penulis: Arif S

Sumber: Antara Foto/Fauzan
Sorak penonton di Indonesia Arena, Jakarta, menjadi saksi langkah berani para pesenam muda Indonesia yang tampil di Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025. Meski hasilnya belum membawa mereka ke putaran final semua alat, semangat dan perjuangan tim putri Indonesia patut diacungi jempol.
Setelah melewati sesi kualifikasi pada Selasa 21 Oktober 2025, pelatih tim senam putri Zahari tetap menunjukkan kebanggaan atas kerja keras anak asuhnya.
“Menurut saya, anak-anak memang cukup baik, pada saat latihan, sama saat pertandingan, itu tidak beda. Kadang-kadang ada juga yang lebih baik, lebih baik daripada ini,” ujar Zahari usai kualifikasi.
BACA JUGA
Jakarta Gymnastics 2025 Resmi Bergulir: Panggung Dunia dengan Bayang-bayang Isu Israel
Daftar Lengkap Nomor yang Dipertandingkan di Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta
Di Tengah Kontroversi Penolakan Visa untuk Israel, Tim Senam Putra Indonesia Siap Kejutkan Dunia
Debut di Panggung Dunia
Dua pesenam muda, Salsabilla Hadi Pamungkas dan Alarice Mallica Prakoso, menjalani debut internasional mereka dengan percaya diri.
Salsabilla menempati posisi 65 dengan total 44,432 poin, hasil dari 12,933 poin di kuda lompat, 9,800 poin di palang bertingkat, 10,266 poin di balok keseimbangan, dan 11,433 poin di senam lantai.
Sementara, Alarice berada satu tingkat di bawahnya, di posisi 66 dengan total 44,266 poin. Ia meraih 11,900 poin di kuda lompat, 10,600 poin di palang bertingkat, 10,000 poin di balok keseimbangan, dan 11,766 poin di senam lantai.
Meski belum mampu menembus fiKisah Tim Putri Indonesia di Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025, pengalaman bertanding di level dunia menjadi momen berharga bagi keduanya.
Bagi Salsabilla, tampil di Kejuaraan Dunia merupakan impian yang akhirnya terwujud.
“Ini pertama kali aku turun di kejuaraan dunia, pasti melihat mereka juga menambah motivasi. Aku melihat mereka suatu saat aku juga seperti mereka. Itu menambah motivasi aku untuk melihat mereka untuk Olimpiade juga,” ungkap Salsabilla.
Rekan setimnya, Alarice, juga merasakan hal serupa. Bertanding melawan atlet-atlet top dunia memberinya pandangan baru tentang arti perjuangan dan kedisiplinan.
“Tapi untuk masalah mau upgrade, pasti aku selalu mau upgrade. Enggak usah karena melihat atlet lain. Cuma memang dari diri sendiri, aku memang ada target sendiri,” kata Alarice.
Tantangan dan Semangat yang Tak Padam
Tim putri Indonesia sebenarnya tidak tampil dengan kekuatan penuh. Salah satu pesenam andalan, Larasati Rengganis, harus absen karena cedera tangan akibat kesalahan penggunaan alat palang bertingkat saat sesi latihan beberapa hari sebelum pertandingan.
Manajer tim senam Indonesia, Indra Sibarani, menjelaskan kronologi kejadian itu.
“Podium training masih bisa melakukan tiga alat. Lantai, kemudian balance beam, dan meja lompat, dan masih baik, kami melakukan sesuai dengan kemampuannya,” kata Indra.
Namun kondisi Larasati memburuk dua hari kemudian.
“Namun, setelah dua hari, pembengkakan terjadi. Tangannya semakin sulit digerakkan, sehingga akhirnya tim medis memutuskan Laras terpaksa harus dihentikan, walaupun dia memang sangat bersemangat untuk melakukan pertandingannya,” tambahnya.
Cedera itu menjadi pukulan bagi tim, tapi semangat tak pernah padam. Justru, pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk mereka menghadapi kompetisi berikutnya.
Panggung Dunia yang Penuh Pelajaran
Di sisi lain, para pesenam papan atas dunia menunjukkan kelasnya. Tiga peringkat teratas kualifikasi semua alat ditempati Angelina Melnikova (Rusia), peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020, dengan total 54,566 poin.
Peringkat kedua diraih pesenam Jepang Aiko Sugihara dengan 54,099 poin, dan posisi ketiga ditempati Kaylia Nemour dari Aljazair peraih emas palang bertingkat Olimpiade Paris 2024 dengan 53,865 poin.
Perbedaan skor memang cukup jauh, tapi untuk tim muda Indonesia, keberanian mereka bersaing di level tertinggi sudah merupakan langkah penting.
Bagi Salsabilla, Alarice, dan Larasati, kejuaraan ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju panggung Olimpiade yang mereka impikan sejak kecil.(Antara)











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!