Bisakah Jerman Kembali Tampil sebagai Calon Juara setelah Kalah dari Ekuador?
Senin, 29 Juni 2026 | 12:00
Penulis: Rojes Saragih

Sumber: ITSMe - ChatGPT AI
Jerman memasuki babak 32 besar Piala Dunia 2026 dengan satu pertanyaan besar: apakah Die Mannschaft benar-benar telah kembali menjadi kandidat juara dunia? Jawabannya akan mulai terungkap saat menghadapi Paraguay di Boston Stadium, Foxborough, Senin (29/6) waktu setempat atau Selasa (30/6) dini hari WIB.
Setelah tampil meyakinkan pada dua laga awal fase grup, kekalahan mengejutkan 1-2 dari Ekuador kembali memunculkan keraguan terhadap tim asuhan Julian Nagelsmann. Meski hasil itu tidak menggagalkan langkah mereka sebagai juara Grup E, alarm kembali berbunyi menjelang dimulainya fase gugur.
Jerman memastikan diri finis di puncak Grup E setelah menghancurkan Curacao 7-1 dan menundukkan Pantai Gading 2-1. Kekalahan dari Ekuador menjadi noda pertama dalam perjalanan mereka di turnamen ini sekaligus memutus rentetan kemenangan yang sebelumnya membawa optimisme tinggi di kalangan pendukung Jerman.
BACA JUGA
Jerman Mulai Temukan Jati Diri, tetapi Ujian Sesungguhnya Masih Menanti
Brasil Ditantang Jepang, Pertahanan Tanjung Verde Diuji Messi di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Daftar Kontestan Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Asia Kirim Dua Wakil
Kegagalan tersebut juga menghidupkan kembali pertanyaan yang terus membayangi sejak tersingkir pada Piala Dunia 2018 dan 2022: apakah Jerman benar-benar siap kembali bersaing memperebutkan trofi dunia?
Sorotan kini tertuju kepada para pemain bintang seperti Florian Wirtz, Jamal Musiala, dan Kai Havertz. Ketiganya dinilai belum memberikan kontribusi maksimal dalam urusan mencetak gol maupun menentukan jalannya pertandingan.
Sebaliknya, Deniz Undav justru tampil sebagai pencetak gol terbanyak Jerman dengan tiga gol, meski lebih sering masuk sebagai pemain pengganti. Situasi itu memunculkan perdebatan mengenai komposisi lini depan yang dipilih Nagelsmann.
Meski demikian, Nagelsmann tetap tenang menghadapi kritik. Dalam konferensi pers menjelang pertandingan, pelatih berusia 38 tahun itu menegaskan tidak merasa harus membuktikan apa pun kepada siapa pun. Menurutnya, tugas utama adalah mempersiapkan tim sebaik mungkin, bukan menjawab kritik publik.
Ia juga mengakui bahwa tekanan di sepak bola Jerman selalu sangat besar, terutama ketika memasuki fase gugur. "Jika menang, semuanya terasa sempurna. Jika kalah, semuanya terasa sangat buruk. Karena itu kami harus menang," ujar Nagelsmann.
Direktur tim nasional Jerman, Rudi Voeller, turut mengingatkan bahwa babak gugur merupakan panggung bagi para pemain kelas dunia. Menurutnya, jika Jerman ingin melangkah jauh, para pemain yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi bintang harus mulai menunjukkan kualitas terbaik mereka sekarang.
Di sisi lain, Paraguay datang dengan kepercayaan diri tinggi. Tim asuhan Gustavo Alfaro lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik setelah bangkit dari kekalahan telak 1-4 atas Amerika Serikat. Mereka kemudian mengalahkan Turki 1-0 meski bermain dengan 10 orang, sebelum bermain imbang tanpa gol melawan Australia untuk mengamankan tiket ke fase gugur.
Pelatih asal Argentina itu bahkan mengingatkan bahwa Paraguay pernah menaklukkan Brasil dan Argentina pada babak kualifikasi Piala Dunia zona CONMEBOL. "Kalau kami bisa mengalahkan Brasil dan Argentina, mengapa tidak Jerman?" katanya penuh keyakinan.
Paraguay dipastikan akan kembali mengandalkan organisasi pertahanan yang disiplin, permainan fisik, dan serangan balik cepat untuk meredam dominasi penguasaan bola Jerman. Kembalinya Miguel Almiron setelah menjalani sanksi juga menjadi tambahan kekuatan penting bagi La Albirroja, meski mereka kehilangan gelandang Diego Gomez akibat akumulasi kartu.
Karena itu, pertandingan di Boston Stadium bukan sekadar perebutan tiket menuju babak 16 besar. Bagi Paraguay, laga ini merupakan kesempatan memperpanjang kisah kejutan mereka di Piala Dunia 2026. Sementara bagi Jerman, pertandingan ini menjadi ujian karakter sekaligus momentum membuktikan bahwa kekalahan dari Ekuador hanyalah sebuah kemunduran sesaat, bukan cerminan bahwa mereka belum pantas disebut sebagai calon juara.
Di fase gugur tidak ada lagi ruang untuk kesalahan. Kemenangan akan mengembalikan kepercayaan diri sekaligus menguatkan status Jerman sebagai salah satu favorit.
Sebaliknya, satu kekalahan akan kembali membuka perdebatan tentang apakah Die Mannschaft benar-benar telah bangkit dari masa-masa sulit yang membayangi mereka dalam dua edisi Piala Dunia sebelumnya.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!