Sentul, Bogor - Piala Dunia selalu menghadirkan cerita yang lebih besar daripada sekadar pertandingan Sepak Bola. Selain persaingan memperebutkan trofi paling bergengsi, turnamen ini juga menjadi panggung bagi kisah emosional dan inovasi yang mencerminkan perkembangan olahraga modern.
Dua sisi menarik ini menjadi pembahasan dalam podcast Seputar Piala Dunia yang dibawakan Syafira dan Dila dari Studio ITSMe di Sentul, Bogor. Dalam episode terbaru, keduanya mengulas dua artikel yang tayang di ITSMe.co.id, yakni penghormatan Timnas Portugal kepada mendiang Diogo Jota serta kehadiran Trionda sebagai bola resmi Piala Dunia 2026.
Bagi Portugal, Piala Dunia 2026 bukan hanya kesempatan mengejar gelar juara dunia pertama dalam sejarah mereka. Turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu juga menjadi momen untuk mengenang Diogo Jota, pemain yang meninggal dunia akibat Kecelakaan mobil di Spanyol pada 2025.
BACA JUGA
Kisah Emosional di Balik Gelang Timnas Portugal untuk Mendiang Diogo Jota
Piala Dunia 2026 Kejar Rekor Baru, dari Stadion Raksasa hingga Fenomena Sepatu Pink
Surat Mengharukan Istri Diogo Jota untuk Andy Robertson Jelang Piala Dunia 2026
Menjelang turnamen, para Pemain Portugal terlihat mengenakan gelang penghormatan khusus saat menjalani persiapan di Amerika Utara. Gelang tersebut diberikan oleh Perdana Menteri Portugal, Luis Montenegro, sebelum keberangkatan tim menuju Piala Dunia. Di dalamnya tercantum nama seluruh anggota skuad Portugal, termasuk nama Jota.
Penggunaan gelang itu tidak diwajibkan, namun banyak pemain memilih memakainya sebagai bentuk penghormatan kepada rekan yang pernah menjadi bagian penting tim nasional. Selama membela Portugal, Jota mencatatkan 49 penampilan dan mencetak 14 gol. Namun bagi rekan-rekannya, warisan terbesar yang ditinggalkan bukan sekadar statistik, melainkan semangat, dedikasi, dan kebersamaan yang selalu ia bawa ke dalam tim.
Dari kisah yang penuh emosi, pembahasan kemudian beralih ke Trionda, bola resmi Piala Dunia 2026 yang diperkenalkan FIFA bersama Adidas. Nama Trionda berasal dari gabungan kata “Tri” dan “Onda” atau “tiga gelombang”, yang merepresentasikan tiga negara tuan rumah, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Konsep ini tercermin dalam desain bola yang memadukan warna merah, biru, dan hijau serta simbol khas dari ketiga negara. Namun keunggulan Trionda tidak hanya terletak pada tampilannya. Bola ini dibekali Connected Ball Technology yang memungkinkan sensor di dalamnya mengirimkan data pergerakan secara real time ke sistem pertandingan.
Teknologi ini membantu perangkat pertandingan, termasuk VAR dan sistem offside semi-otomatis, dalam mengambil keputusan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Dari sisi konstruksi, Trionda menggunakan empat panel utama yang disatukan dengan teknologi thermal-bonded tanpa jahitan tradisional. Struktur ini dirancang untuk meningkatkan stabilitas terbang, kontrol, dan akurasi bola selama pertandingan.
Melalui dua kisah itu, Syafira dan Dila menunjukkan bahwa Piala Dunia selalu memiliki banyak lapisan cerita. Ada sisi kemanusiaan yang mengingatkan bahwa sepak bola dibangun oleh kenangan dan emosi. Di saat yang sama, ada inovasi yang terus mendorong permainan menuju era yang lebih modern dan presisi.
Dari gelang penghormatan untuk Diogo Jota hingga teknologi canggih yang tertanam dalam Trionda, Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah. Turnamen ini juga menjadi ruang tempat sejarah, teknologi, dan harapan bertemu dalam satu perayaan olahraga terbesar di dunia.










