Sentul, Bogor - Piala Dunia 2026 baru berjalan beberapa hari, tetapi peta persaingan sudah menghadirkan cerita menarik. Saat Spanyol dan Portugal gagal memenuhi ekspektasi dengan Hasil Imbang yang mengecewakan, Prancis, Argentina, dan Inggris justru menunjukkan kelasnya lewat kemenangan meyakinkan yang mengirim sinyal kuat kepada para pesaing
Fenomena kontras ini menjadi salah satu topik utama dalam Podcast Itsme yang dipandu Gilang Respaty dan Yatna di Studio ITSMe, Sentul, Bogor. Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan dan Erwin Fitriansyah menyoroti bagaimana tekanan turnamen besar sering kali menghasilkan cerita yang berbeda dari prediksi di atas kertas.
Spanyol menjadi sorotan setelah ditahan imbang 0-0 oleh debutan Tanjung Verde. Tim asuhan Luis de la Fuente tampil dominan dalam penguasaan bola dan menciptakan banyak peluang, tetapi gagal mengonversinya menjadi gol.
BACA JUGA
Swedia Pesta Gol 5-1 Kontra Tunisia, Graham Potter Beri Sinyal Bahaya di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026: Brasil Tertekan, Meksiko vs Korea Selatan, Maroko Ditantang Skotlandia
Piala Dunia 2026: Katy Perry hingga Shakira, Hotel Mewah Messi dan Ronaldo Jadi Sorotan
Bahkan, sejumlah media Eropa menyoroti minimnya efektivitas lini depan La Roja meskipun mereka menguasai pertandingan hampir sepanjang laga. Pelatih Luis de la Fuente sendiri mengakui timnya kehilangan ketajaman dan kreativitas di area sepertiga akhir lapangan.
Menurut Ronny Pangemanan, hasil tersebut menunjukkan bahwa dominasi penguasaan bola tidak lagi cukup untuk menjamin kemenangan di level tertinggi.
"Tim-tim yang dianggap kecil sekarang jauh lebih disiplin secara taktik. Spanyol menguasai bola, tetapi tidak mampu membongkar pertahanan lawan. Itu menjadi pekerjaan rumah yang serius," ujarnya.
Sementara itu Portugal juga gagal memenuhi ekspektasi ketika hanya bermain imbang 1-1 melawan Kongo. Sempat unggul lebih dahulu, Portugal kehilangan momentum setelah lawan menyamakan kedudukan.
Penampilan Cristiano Ronaldo kembali menjadi bahan perdebatan. Sejumlah media internasional dan mantan pemain mempertanyakan efektivitas sang megabintang berusia 41 tahun setelah gagal memanfaatkan beberapa peluang penting.
Erwin Fitriansyah menilai kritik terhadap Portugal bukan semata-mata ditujukan kepada Ronaldo, tetapi juga menyangkut pendekatan permainan tim secara keseluruhan.
"Portugal punya banyak pemain muda dan kreatif, tetapi ritme permainan mereka menurun setelah unggul. Kongo mampu membaca situasi dan memanfaatkan celah yang ada," kata Erwin.
Di sisi lain, Prancis, Argentina, dan Inggris justru menunjukkan mentalitas kandidat juara. Ketiga tim mampu mengawali turnamen dengan kemenangan yang meyakinkan, memperlihatkan keseimbangan antara kualitas individu, organisasi permainan, serta efektivitas penyelesaian akhir.
Hasil tersebut sekaligus mengirim pesan kepada para pesaing bahwa mereka datang ke Amerika Utara bukan sekadar untuk meramaikan persaingan, melainkan memburu trofi juara dunia.
Ronny Pangemanan menilai perbedaan terbesar terletak pada efektivitas. "Prancis, Argentina, dan Inggris tidak harus selalu mendominasi pertandingan. Tetapi ketika peluang datang, mereka mampu memaksimalkannya. Itu yang belum terlihat dari Spanyol dan Portugal pada laga pertama."
Piala Dunia 2026 masih panjang. Namun satu pelajaran penting sudah terlihat sejak pekan pembuka: reputasi besar tidak menjamin kemenangan.
Spanyol dan Portugal kini menghadapi tekanan untuk segera bangkit, sementara Prancis, Argentina, dan Inggris telah menempatkan diri sebagai tim yang layak diperhitungkan dalam perburuan gelar juara dunia.
#PialaDunia2026 #SpanyolVsTanjungVerde #PortugalVsKongo #TimnasPrancis #TimnasInggris #TimnasArgentina










