ID EN

Filosofi Baru Traveler Muda: Bukan Pelarian Rutinitas Tapi Ruang untuk Mencari Makna

Minggu, 19 Oktober 2025 | 19:46

Penulis: Respaty Gilang

Backpacker
Ilustrasi traveler muda.
Sumber: Freepik

Beberapa tahun lalu, rencana liburan biasanya dimulai dengan satu pertanyaan klasik, “Mau ke mana kali ini?” Kini, pertanyaan itu bergeser menjadi, “Mau ngapain di sana nanti?”

Perubahan sederhana ini menandai pergeseran besar dalam dunia traveling. Generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, tak lagi memandang traveling hanya sebagai pelarian dari rutinitas, tapi sebagai ruang untuk mencari makna, sensasi, dan pengalaman yang bisa mereka bawa pulang dalam bentuk cerita.

Dalam laporan terbarunya berjudul “The Evolving Role of Experiences in Travel”, McKinsey & Company menulis bahwa,
Para pelancong kini semakin sering merencanakan perjalanan mereka berdasarkan aktivitas yang ingin dilakukan.

Ini bukan sekadar tren kecil, melainkan perubahan cara berpikir. Liburan kini bukan tentang lokasi, tapi tentang emosi dan pengalaman yang bisa dirasakan di sana.

Menurut analisis McKinsey, pasar aktivitas wisata global mulai dari tur berpemandu, konser, atraksi, hingga petualangan local, kini bernilai antara USD 250 hingga 310 miliar per tahun. Jika digabungkan dengan seluruh ekosistem pengalaman perjalanan, angkanya bisa menembus USD 3 triliun di tahun-tahun mendatang.

“Pasar global untuk tur, atraksi, dan berbagai aktivitas,berdasarkan analisis kami, nilainya bisa lebih dari 3 triliun dolar,” tulis McKinsey dalam laporan tersebut.

Di balik angka yang fantastis ini, ada satu penggerak Utama, generasi muda. Mereka bukan hanya konsumen paling aktif, tapi juga paling idealis dalam mencari makna di balik setiap perjalanan.

Data McKinsey menunjukkan bahwa 52 persen Gen Z rela mengeluarkan lebih banyak uang demi pengalaman yang berkesan, dibandingkan dengan hanya 29 persen baby boomer yang berani berinvestasi pada hal yang sama.

Menurut survei McKinsey, 52 persen Gen Z mengatakan mereka lebih suka berbelanja untuk pengalaman, dibandingkan hanya 29 persen dari generasi baby boomer.

Marsya, 26 tahun, misalnya, bukan tipe traveler yang sibuk menandai destinasi di peta. Perjalanannya ke India tahun lalu bukan tentang Taj Mahal, tapi tentang bagaimana ia belajar memasak masala di dapur rumah warga Jaipur.

“Rasanya bukan cuma liburan,” katanya sambil tertawa. 

“Aku benar-benar ngerasa nyambung sama mereka, kayak nambah keluarga baru di tempat yang asing.”

Cerita Marsya menggambarkan esensi dari tren baru ini. Bagi banyak anak muda, perjalanan bukan lagi soal tempat yang dikunjungi, tapi apa yang mereka alami di sana. Mereka ingin menyelam bersama nelayan di Flores, belajar menari samba di Brasil, atau ikut festival panen di desa kecil Italia. Aktivitas-aktivitas inilah yang kini menjadi alasan utama seseorang memesan tiket pesawat.

Laporan McKinsey juga mencatat bahwa fenomena ini memicu munculnya istilah baru di dunia pariwisata, activity-first travel mindset, kebiasaan memilih aktivitas terlebih dahulu, baru kemudian menentukan destinasi. Media sosial punya andil besar di sini. Banyak traveler muda menemukan pengalaman seru lewat video pendek atau vlog, lalu merancang perjalanan berdasarkan aktivitas yang terlihat autentik dan “punya cerita”.

Industri pun cepat beradaptasi. Hotel-hotel kini tak hanya menjual kamar, tapi juga pengalaman. Maskapai bekerja sama dengan penyelenggara tur lokal, sementara platform seperti Airbnb memperluas fitur “Airbnb Experiences” yang menghubungkan wisatawan dengan warga lokal. Semua berangkat dari satu fakta sederhana, traveler masa kini tidak ingin jadi penonton, mereka ingin ikut terlibat.

Namun di balik semua angka dan inovasi itu, ada sesuatu yang lebih personal, keinginan manusia untuk benar-benar merasakan hidup. Generasi muda, yang tumbuh dalam derasnya dunia digital, mencari koneksi yang nyata, dengan alam, budaya, bahkan diri sendiri. Mereka ingin pulang dari perjalanan bukan hanya dengan foto-foto indah, tapi dengan cerita yang mengubah cara pandang mereka.

McKinsey juga menyoroti bahwa semakin banyak traveler muda menjadikan perjalanan sebagai bentuk pertumbuhan diri personal growth. Mereka tak sekadar mencari hiburan, tapi refleksi. Dari ekspedisi ke desa terpencil hingga perjalanan solo ke kota asing, semua dilakukan dengan satu tujuan, menemukan versi terbaik dari diri sendiri.

Mungkin itu sebabnya, di hari Minggu, saat kebanyakan orang bersantai di rumah banyak anak muda justru membuka peta digital, mencari rute baru, atau sekadar menelusuri ide perjalanan berikutnya. Traveling bukan lagi pelarian, tapi cara mereka memahami dunia sekaligus diri sendiri.

“Masa depan pariwisata tidak lagi ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh pengalaman yang ditawarkan,” seperti yang disimpulkan McKinsey dalam laporan tersebut.

Generasi muda sudah membuktikan satu hal, mereka tidak hanya ingin melihat dunia mereka ingin merasakannya.