ID EN

Slow Travel: Seni Menikmati Hidup yang Bikin Kamu Nggak Butuh Libur Lagi

Senin, 2 Februari 2026 | 21:00

Penulis: Respaty Gilang

Slow Travel
Ilustrasi - traveler sedang menikmati slow travel.
Sumber: Freepik

Pernah nggak sih kamu merasa kalau pulang liburan justru butuh libur lagi karena badan capek banget? Kalau iya, itu tandanya kamu terjebak dalam pola fast Traveling. Tapi tenang, tahun 2026 ini ada satu tren yang bakal menyelamatkan kewarasan kamu yakni Slow Travel.

Lupakan agenda padat dari subuh ke subuh atau obsesi harus ke luar negeri demi konten. Slow travel adalah tentang menikmati momen, bukan mengejar jumlah stempel di paspor. Kamu diajak buat "hidup" sebentar di satu tempat dan meresapi setiap detiknya.

Ada pergeseran pola pikir di kalangan Traveler Muda. Liburan bukan lagi soal pamer kemewahan, tapi soal mencari kedamaian yang terjangkau. 

Alih-alih berdesakan di kota metropolis, cobalah melipir ke kota kecil. Di sana, kamu bisa nongkrong di toko roti legendaris atau sekadar jalan kaki santai di Taman Kota tanpa gangguan hiruk pikuk.

Farcia Harvey, seorang content creator perjalanan berusia 27 tahun yang sering membagikan pengalaman liburan ke kota-kota kecil, mengatakan bahwa perjalanan ke kota yang tidak populer justru memberi ketenangan.

"liburan terbaiknya justru terjadi di Cincinnati, bukan kota besar. Ia merasa perjalanan ke kota yang gak terlalu terkenal memberi kenangan yang lebih kuat karena suasananya tenang dan gak melelahkan. Menurutnya, kamu bisa bersenang-senang bahkan di tempat yang dianggap “biasa saja” oleh banyak orang."

Bayangkan bangun pagi disambut suara alam, memasak bahan organik langsung dari kebun, dan jauh dari notifikasi pekerjaan. Konsep farm stay ini lagi naik daun banget sebagai bentuk pelarian dari beton perkotaan.

Aricka Giglia, seorang profesional muda berusia 28 tahun yang mengadakan acara perayaan bersama teman-temannya di sebuah farm dekat Dallas, memilih konsep ini.

Sekarang lagi ngetren yang namanya Reading Retreat. Kamu cukup cari penginapan estetik dengan pemandangan sunyi, lalu habiskan waktu buat baca buku favoritmu. Mackenzie Newcomb, pendiri komunitas Bad Bitch Book Club dari New York, mengungkapkan bahwa kota besar gak cocok untuk retreat membaca karena terlalu banyak distraksi. Ia lebih memilih lokasi dengan pemandangan alam dan suasana tenang agar peserta bisa fokus membaca dan bersantai.

Slow travel otomatis bikin dompet lebih aman. Kamu nggak perlu beli banyak Tiket Pesawat atau kereta antar-kota dalam waktu singkat. Uangnya bisa kamu pakai buat makan enak di warung lokal atau ikut kelas workshop warga sekitar.

Menurutr Melanie Fish, pakar perjalanan dari platform akomodasi global, banyak orang mencari slow travel karena ingin rehat dari rutinitas tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Menurutnya, traveler tertarik pada aktivitas seperti berjalan di alam, berinteraksi dengan hewan, dan menikmati suasana pedesaan."