ID EN

Mirip Christian Ziege, Pelatih Jerman Geser Ismed Sofyan dari Striker Jadi Bek

Senin, 4 Mei 2026 | 15:50

Penulis: Rojes Saragih

Bogor – Sosok Ismed Sofyan sangat identik dengan posisi bek kanan yang tangguh dan memiliki akurasi tendangan bebas mematikan. Namun, siapa sangka jika perjalanan karier sang Legenda Sepak Bola ini justru bermula dari Olahraga Bulu Tangkis dan murni sebagai penyerang tengah (striker)?

Fakta-fakta mengejutkan ini terungkap secara eksklusif dalam tayangan Podcast Itsme yang dipandu oleh host Syafira dan Gilang Respaty. Berlangsung dalam suasana hangat di kawasan Sentul, Bogor, Ismed membeberkan secara blak-blakan kisah masa lalunya yang penuh liku, dari kampung halaman di Aceh hingga berhasil menembus kerasnya skuad Timnas Indonesia.

Perjalanan Karier Sang Legenda:

Bukan Sepak Bola, Justru Diarahkan ke Bulu Tangkis
Masa kecil Ismed di Aceh ternyata tidak langsung bersentuhan dengan sepak bola secara formal. Ia menceritakan bahwa almarhum orang tuanya justru lebih dulu mengarahkannya untuk bermain bulu tangkis. Meski begitu, kecintaannya pada kulit bundar tak terbendung.

Ismed kecil lebih gemar berkumpul dengan teman-teman kampungnya untuk bermain bola tanpa alas kaki di area persawahan. Saking cintanya pada sepak bola, ia bahkan rela memancing teman-temannya dengan suguhan sirup di rumahnya agar mereka mau berkumpul dan bermain bola bersama.

Perjalanan 16 Kilometer dan Miskonsepsi Sekolah Sepak Bola
Ismed mengakui bahwa dirinya cukup terlambat mengenal pendidikan sepak bola secara terstruktur. Ia baru masuk Sekolah Sepak Bola (SSB) saat menginjak kelas 1 SMP. Perjuangannya pun tidak mudah; ia harus menempuh jarak sejauh 16 kilometer dari desanya ke kota menggunakan angkot.

Ada sebuah kisah lucu di fase ini, di mana Ismed sempat mengira bahwa masuk SSB berarti ia harus berhenti dari sekolah umum. Sebuah miskonsepsi yang akhirnya diluruskan oleh jadwal latihan SSB yang ternyata bisa berjalan beriringan dengan pendidikan formalnya.

Mengadu Nasib ke PPLP Medan Demi Keluarga
Titik balik karier Ismed terjadi ketika pelatih SSB-nya pindah ke Medan dan menawarinya ikut seleksi Diklat Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). Bersaing dengan sekitar 100 anak dari berbagai daerah, Ismed dengan tekad baja berhasil lolos menjadi satu dari 24 pemain yang diterima.

Lebih dari sekadar mengejar mimpi di lapangan hijau, lolosnya Ismed ke PPLP memberikan dampak besar bagi perekonomian keluarganya karena ia mendapatkan fasilitas asrama, sekolah, hingga uang saku gratis. Pada masa ini, Ismed masih bermain murni sebagai seorang striker.

Merajai Panggung Kejuaraan Pelajar Asia
Tempaan keras dengan porsi latihan ekstra di Diklat PPLP Medan berbuah manis. Kemampuannya sebagai penyerang terus terasah hingga ia terpilih mewakili tim pelajar Asia.

Ismed membuktikan ketajamannya di level internasional dengan membawa timnya meraih juara di turnamen yang digelar di Malaysia pada tahun 1996, disusul dengan raihan juara ketiga pada turnamen serupa di India pada tahun 1997. Prestasi ini membuatnya semakin diakui dan menjadi langganan pemusatan latihan di Ragunan.

Sentuhan Pelatih Jerman dan Lahirnya Bek Tangguh Indonesia
Momen transformasi terbesar yang mengubah jalan hidup Ismed terjadi ketika ia dipanggil masuk ke Timnas yang saat itu diarsiteki oleh pelatih asal Jerman, Bernhard Schumm.

Dalam sebuah pertandingan uji coba, secara mengejutkan Schumm menarik posisi Ismed dari lini depan (striker) menjadi seorang bek. Alasannya sederhana namun instingtif: Schumm menilai gaya bermain Ismed sangat mirip dengan Legenda Timnas Jerman, Christian Ziege.

Keputusan berani dari sang pelatih inilah yang menjadi titik awal evolusinya di lini pertahanan. Meski awalnya sempat canggung, sentuhan pelatih Jerman itu terbukti jitu sebelum akhirnya ia paten dan melegenda sebagai salah satu bek kanan terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia.