Bogor – Dalam kancah Sepak Bola Indonesia, nama Ismed Sofyan bukan sekadar pemain; ia adalah monumen hidup bagi Persija Jakarta. Namun, di balik 21 tahun pengabdiannya bersama Macan Kemayoran, tersimpan kisah-kisah dramatis yang jarang terungkap ke publik, mulai dari teror mental di laga El Clasico hingga ujian kesetiaan di tengah krisis finansial klub.
Teror Baracuda dan Rivalitas 90 Menit
Berbicara soal duel panas melawan Persib Bandung, Ismed mengenang atmosfer yang melampaui batas kewajaran olahraga. Pengalaman naik kendaraan taktis (Rantis) Baracuda menuju stadion sudah menjadi "menu wajib" tahunan. Namun, salah satu memori yang paling membekas adalah ketika seorang oknum suporter lawan berhasil menyusup ke tempat latihan dan menjitak kepalanya—sebuah intimidasi fisik yang nyata.
Meski begitu, Ismed memberikan perspektif berkelas. "Tensi tinggi itu murni hanya 90 menit di lapangan. Di luar itu, hubungan kami dengan pemain Persib sangat akrab," tegasnya dalam obrolan hangat bersama Syafira dan Gilang Respaty di kanal YouTube ITSME. Baginya, rivalitas adalah bumbu yang menghidupkan kompetisi, namun persaudaraan antar-pemain tetap di atas segalanya.
BACA JUGA
Persija Belum Pikirkan Persib, Mauricio Souza Tegaskan Fokus Penuh ke Persijap Jepara
Dramatis! Bhayangkara FC Comeback dan Kalahkan Persija 3-2
Persija vs PSM di Pembuka Super League Ramadhan: Peluang Samai Poin Persib
H-2 Batal ke Palembang: Tuah Doa Ibu
Momen paling krusial dalam karier Ismed terjadi pada tahun 2013. Saat itu, Persija sedang dihantam krisis finansial hebat. Ismed, yang ditawari kontrak fantastis oleh Sriwijaya FC, hampir saja angkat kaki. Tiket pesawat sudah dipesan, kesepakatan lisan sudah bulat.
Namun, sejarah berubah tepat dua hari sebelum keberangkatan. Sebuah petuah sakti dari sang ibu menjadi titik balik. "Jangan takut, rezeki tak akan tertukar," ucap sang ibu kala itu. Nasihat tersebut meruntuhkan godaan nilai kontrak besar dan menguatkan tekadnya untuk bertahan di Jakarta. Keputusan yang terbukti tepat, mengingat ia akhirnya menjadi legenda yang tak tergantikan di ibu kota.
Etos Kerja "Gila" Sejak di PPLP Medan
Rahasia kebugaran Ismed hingga usia kepala empat ternyata berakar dari kedisiplinan ekstrem sejak masa remaja di PPLP Diklat Medan. Di saat rekan-rekannya memanfaatkan waktu istirahat untuk tidur siang, Ismed justru "mencuri" waktu untuk lari di bawah terik matahari mengenakan rompi pemberat.
Etos kerja ini terus berlanjut hingga ia profesional, di mana latihan mandiri untuk mengasah akurasi tendangan bebas menjadi ritual harian. Siapa sangka, dedikasi raksasa ini berawal dari motivasi sederhana masa kecil di Aceh: bermain bola demi iming-iming segelas sirup dari sang pelatih.
Prediksi Liga Super: Persib Kandidat Juara
Secara objektif, sang legenda juga memberikan analisis tajam mengenai peta persaingan Liga Super saat ini. Ismed tidak ragu menyebut Persib Bandung sebagai kandidat terkuat peraih gelar juara musim ini, berkat kedalaman skuad yang sangat merata di setiap lini. Sementara untuk mantan timnya, ia berharap Persija segera membenahi konsistensi dan mentalitas bertanding jika ingin kembali bersaing di papan atas.
Simak kisah inspiratif lengkap sang legenda dalam program podcast eksklusif di YouTube ITSME (@Indotravelsport).










