ID EN

Maskapai Global Terdampak Harga Avtur Naik, Wisatawan Terancam Gangguan Penerbangan

Jumat, 24 April 2026 | 12:00

Penulis: Arif S

Pesawat Lufthansa
Pesawat Lufthansa di landasan pacu Bandar Udara Frankfurt, Jerman.
Sumber: Antara/Xinhua/Lu Yang

Bagi banyak pelancong, Perjalanan Udara adalah tiket dibeli, koper ditutup, pesawat lepas landas tepat waktu. Saat ini, industri Penerbangan Global tengah menghadapi guncangan besar. Lonjakan Harga Avtur memaksa sejumlah maskapai memangkas rute, membatalkan penerbangan, dan menghitung ulang setiap kursi yang terbang.

Gelombang tekanan itu paling terasa di Eropa. Lufthansa, salah satu maskapai terbesar di benua tersebut, mengumumkan pembatalan 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober setelah harga avtur melonjak tajam.

Maskapai asal Jerman itu memperkirakan keputusan tersebut dapat menghemat sekitar 40.000 ton bahan bakar, menyusul kenaikan harga avtur hingga dua kali lipat setelah pecahnya perang di Iran.

Dalam sebuah pernyataan, Lufthansa mengatakan penyesuaian jadwal tersebut akan mengurangi jumlah penerbangan jarak pendek yang tidak menguntungkan di seluruh jaringan grup itu.

Gelombang pertama pembatalan, berdampak pada 120 penerbangan per hari, mulai berlaku pada Senin 20 April dan akan terus berjalan hingga akhir Mei. 

Sebelumnya, Lufthansa juga telah mengumumkan penarikan permanen 27 pesawat operasional dari unit Lufthansa CityLine.

Maskapai tersebut menyebut kombinasi aksi mogok dan melonjaknya biaya bahan bakar di tengah ketegangan Timur Tengah sebagai alasan utama, ketika perusahaan berupaya menahan kerugian yang terus membesar.

KLM Royal Dutch Airlines Batalkan 160 Penerbangan

Di Belanda, KLM Royal Dutch Airlines mengambil langkah serupa. Maskapai ini akan membatalkan 160 penerbangan di Eropa bulan depan sebagai respons atas kenaikan biaya bahan bakar.

Dalam sebuah pernyataan, KLM mengatakan telah melakukan sejumlah penyesuaian pada jadwal penerbangannya untuk bulan mendatang.

"Ini menyangkut sejumlah kecil penerbangan di Eropa yang, karena kenaikan biaya avtur, saat ini tidak lagi layak secara finansial untuk dioperasikan," katanya.

KLM menegaskan tidak ada kekurangan bahan bakar jet. Pembatalan itu mencakup 80 penerbangan pulang pergi dari dan menuju Bandara Schiphol, atau kurang dari satu persen dari total operasi Eropa selama periode tersebut. 

Meski demikian, pengurangan sekecil apa pun pada musim Liburan dapat berdampak pada ribuan rencana perjalanan.

Maskapai Nigeria Berencana Hentikan Penerbangan

Di Afrika Barat, situasinya bahkan lebih keras. Maskapai Nigeria dilaporkan berencana menghentikan penerbangan mulai 20 April akibat lonjakan harga bahan bakar.

Mengutip Direktur Asosiasi Operator Penerbangan Nigeria (AON) Abdulmunaf Sarina, harga avtur per liter melonjak hampir 300 persen dari 900 naira menjadi 3.300 naira (dari Rp11.529 menjadi Rp42.272).

Kenaikan setajam itu menekan operasional maskapai domestik dan berpotensi mengganggu konektivitas udara di negara dengan jaringan darat yang terbatas di banyak wilayah.

Akar persoalan ini adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mendorong kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama setelah blokade lalu lintas maritim di sekitar Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan jalur strategis yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair dunia. Ketika arteri energi global terganggu, efeknya merambat cepat ke Tiket Pesawat, jadwal penerbangan, dan biaya liburan.***

Sumber: Xinhua, Anadolu, The Guardian Nigeria

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!