KAI Kembangkan Kereta Tematik Experience, Dukung Pertumbuhan Wisata di Jawa
Jumat, 20 Februari 2026 | 16:41
Penulis: Arif S

Sumber: KAI.
Di Pulau Jawa, perjalanan dengan kereta bukan sekadar perpindahan dari satu titik ke titik lain tetapi pengalaman visual dan historis yang menyatu dengan lanskap Nusantara. PT Kereta Api Indonesia (KAI) membawa narasi itu ke level baru melalui konsep experience, luxury, dan heritage.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan inovasi layanan ini menjadi bagian dari strategi besar mendukung pertumbuhan wisata di Jawa.
"KAI terus melakukan inovasi layanan dengan menyiapkan rangkaian kereta berkonsep experience, luxury, dan heritage yang saat ini dalam tahap pengerjaan di Balai Yasa Surabaya Gubeng," ujar Bobby, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
BACA JUGA
Pelanggan Kereta Suite Class Compartment Meningkat di 2025, Ketika Perjalanan Menjadi Tujuan
KA Pangandaran Jadi Pilihan Liburan, Tren Wisata Rel Kian Populer
Revolusi Wisata Udara: Perjalanan Internasional Tanpa Dokumen Fisik Segera Terwujud
Lokasi pengembangan berada di Balai Yasa Surabaya Gubeng, sebuah pusat perawatan dan rekayasa sarana yang kini menjelma menjadi laboratorium transformasi kereta wisata masa depan.
Pada Rabu 18 Februari 2026, Bobby meninjau langsung progres proyek tersebut bersama Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.
"Hingga saat ini, progres tahap pertama telah mencapai 38 persen dan ditargetkan memasuki tahap uji coba pada Juni 2026 sebelum diluncurkan secara komersial," katanya.
Wisata Jawa Terus Bertumbuh
Pengembangan konsep ini tidak lahir di ruang hampa.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan signifikan Perjalanan Wisata domestik di Pulau Jawa, dari 706 juta lebih perjalanan pada 2024 menjadi 777 juta lebih pada 2025, tumbuh sekitar 10,1 persen dalam setahun.
Kunjungan Wisatawan Mancanegara melalui bandara-bandara di Jawa meningkat sekitar 8 persen pada periode yang sama.
Lebih menarik lagi, jumlah wisman yang menggunakan Kereta Api Jarak Jauh melonjak drastis dalam tiga tahun terakhir, dari 300 ribu lebih pada 2022 menjadi hampir 700 ribu pada 2025.
"Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan wisatawan global terhadap layanan transportasi berbasis rel di Indonesia," jelas Bobby.
Dalam periode 2022-2025, terjadi pertumbuhan kumulatif sebesar 131 persen.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal, kereta api semakin dipandang sebagai cara ideal menjelajahi Destinasi Wisata di Jawa.
Lebih lambat, lebih intim, dan lebih terhubung dengan lanskap.
Perjalanan sebagai Destinasi
Pulau Jawa menyimpan lapisan sejarah di sepanjang relnya, dari kota pesisir utara hingga pedalaman yang dikelilingi pegunungan.
Kereta melintas di tengah panorama sawah bertingkat, sungai berkelok, hingga bangunan kolonial yang berdiri sejak abad ke-19.
"Kereta api melintasi berbagai wilayah dengan panorama yang kuat secara visual dan historis. Melalui konsep experience, luxury, dan heritage ini, KAI menghadirkan perjalanan yang memadukan kenyamanan premium dengan nilai historis dalam satu rangkaian layanan," kata Bobby.
Rangkaian yang tengah dipersiapkan terdiri atas 12 kereta. Di dalamnya terdapat kereta sleeper dengan ruang privat, kereta makan berkonsep fine dining, kereta lounge dengan fasilitas hiburan, serta kereta pendukung operasional.
Menariknya, seluruhnya dirancang melalui pendekatan revitalisasi sarana era 1980 hingga 1990-an, sebuah era ketika desain kereta memiliki karakter kuat, yang kini dikembangkan ulang dengan standar kenyamanan modern.
"Kami merancang ulang kereta heritage dengan sentuhan modern agar tetap mempertahankan nilai sejarahnya dan menghadirkan standar layanan yang semakin meningkat. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem pariwisata berbasis kereta api di Indonesia," lanjut Bobby.
Ke depan, operasional akan difokuskan pada perjalanan tematik dengan rute pilihan yang menawarkan panorama terbaik dan terintegrasi dengan destinasi unggulan.
Konsep ini menggeser paradigma bahwa perjalanan hanyalah jeda menuju tujuan. Dalam pendekatan experience-luxury-heritage, justru perjalanan itu sendiri menjadi destinasi.










