ID EN

Tren Liburan Musim Hujan 2026, 5 Destinasi Populer dari Bali hingga Bogor

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:35

Penulis: Arif S

Sawah Ubud, Bali
Suasana di Ubud, Bali dengan hamparan sawahan membentang.
Sumber: Envato

Musim Hujan kerap dianggap sebagai jeda dalam kalender perjalanan. Namun bagi sebagian pelancong, justru di musim hujan, lanskap menemukan warna paling jujur. Hijau lebih pekat, kabut menggantung rendah, dan ritme kota yang melambat.

Sebuah platform perjalanan digital membagikan daftar Destinasi Wisata yang menjadi favorit masyarakat Indonesia saat musim hujan.

“Musim hujan turut mempengaruhi tren perjalanan, dengan semakin banyak wisatawan mencari destinasi yang tetap menawarkan pengalaman menarik terlepas dari kondisi cuaca,” kata Senior Country Director Agoda untuk Indonesia Gede Gunawan dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

Gede mengatakan lanskap alam Indonesia beragam dengan kekayaan budaya terus menarik minat wisatawan yang ingin merasakan suasana khas saat hujan.

Berdasarkan data pencarian akomodasi pada periode 1-25 Januari 2026 dengan tanggal check-in antara Februari-Maret 2026, berikut lima Destinasi Favorit warga Indonesia saat musim hujan:

1. Bali

Bali menempati posisi teratas dengan peningkatan pencarian akomodasi sebesar 27 persen dibanding tahun lalu. Di Ubud, hujan tropis menjadikan sawah berundak dan hutan tropis tampak semakin menghijau.

Kabut tipis sering turun perlahan, menyelimuti lembah dan pura dalam suasana meditatif. Musim hujan di Bali memang bukan tentang berjemur di pantai, melainkan memperlambat langkah.

Wisatawan dapat menikmati spa, retret yoga, dan kafe butik sambil menyaksikan hujan turun di tengah alam. 

Selain itu, mengunjungi galeri seni atau menyaksikan pentas tari tradisional Bali juga menjadi pilihan menarik saat musim hujan.

2. Bandung, Jawa Barat

Bandung berada di posisi kedua dengan peningkatan pencarian akomodasi sebesar 27 persen. Iklim sejuk berpadu dengan hujan membuat kota ini nyaman dikunjungi.

Kota berjuluk “Paris van Java” ini dikenal dengan arsitektur kolonial dan perkembangan fesyennya. 

Saat hujan turun, aroma tanah basah bercampur dengan wangi kuliner jalanan. Menikmati batagor, seblak, atau cuanki di tengah udara dingin dan berkabut menjadi pengalaman tersendiri.

Wisatawan juga dapat menuju kawasan dataran tinggi seperti Lembang atau Dago Pakar untuk menikmati restoran dengan panorama lembah berselimut kabut.

3. Yogyakarta

Yogyakarta berada di urutan ketiga dengan peningkatan pencarian akomodasi 40 persen dibanding tahun sebelumnya.

Saat musim hujan, kota ini menghadirkan suasana lebih tenang dengan nuansa nostalgik, seolah ritmenya melambat dan terasa semakin hangat. 

Banyak destinasi tetap nyaman dinikmati di dalam ruangan atau area beratap, seperti Keraton Yogyakarta dan museum.

Budaya minum kopi khas seperti kopi joss terasa semakin pas saat hujan turun. Wisatawan juga dapat mengikuti kelas membatik atau mengunjungi Museum Ullen Sentalu di Kaliurang yang menghadirkan suasana misterius sekaligus berkesan.

4. Malang dan Batu, Jawa Timur

Malang berada di urutan keempat dengan peningkatan pencarian akomodasi 47 persen dibanding tahun sebelumnya. Udara sejuk kota ini terasa semakin segar saat musim hujan.

Sementara itu, Batu menawarkan beragam museum dalam ruangan, seperti Museum Angkut dengan koleksi transportasi, Museum Brawijaya bertema militer, serta Museum Mpu Purwa yang menyimpan artefak sejarah Hindu-Buddha.

Pilihan destinasi dalam ruangan ini membuat kawasan Malang dan Batu tetap nyaman dikunjungi, sekaligus menghadirkan suasana perjalanan yang hangat di tengah musim hujan.

5. Bogor, Jawa Barat

Dikenal dengan julukan “Kota Hujan”, Bogor memang seolah berdamai dengan musim basah. Kota ini berada di posisi kelima dengan peningkatan pencarian akomodasi 15 persen dibanding tahun sebelumnya.

Di Kebun Raya Bogor, hamparan pepohonan rimbun tampak semakin hijau dan segar setelah hujan. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan tua menghadirkan atmosfer teatrikal.

Ragam kuliner kaki lima seperti asinan Bogor dan soto kuning terasa semakin nikmat disantap saat udara dingin. 

Wisatawan juga dapat mengunjungi sentra kerajinan gong tradisional untuk mengenal budaya lokal, atau bersantai di vila kawasan Puncak sambil menyesap secangkir teh panas dari perkebunan sekitar.

Musim hujan, bagi banyak pelancong, bukan lagi penghalang tetapi justru menjadi alasan untuk menjelajah dengan cara berbeda. Lebih perlahan, lebih intim, dan lebih reflektif.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!