ID EN

Dari Desa Wisata hingga Michelin Keys, 2025 Jadi Tahun Positif Pariwisata Indonesia

Selasa, 10 Februari 2026 | 10:30

Penulis: Arif S

Astindo Travel Fair 2026 di Hall 1 ICE–BSD City, Tangsel
Astindo Travel Fair 2026 di Hall 1 ICE–BSD City, Tangsel.
Sumber: Kemenpar

Pariwisata Indonesia menutup 2025 dengan pertumbuhan tidak hanya soal jumlah, tetapi juga pengakuan dunia. Dari Desa Wisata di Bali dan Banyuwangi hingga hotel-hotel yang mendapat Michelin Keys, pariwisata Indonesia menunjukkan wajah baru, lebih matang, berkelanjutan, dan percaya diri di panggung internasional.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengungkapkan kinerja sektor pariwisata nasional sepanjang 2025 mencatat tren sangat positif. Pertumbuhan tersebut, menurutnya, lahir dari sinergi kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam membangun pariwisata Indonesia yang semakin berkualitas dan berdaya saing.

“Capaian yang diraih memperlihatkan hasil kolaborasi yang baik dari seluruh pemangku kepentingan sektor pariwisata,” ujar Ni Luh Puspa dalam sambutannya pada pembukaan Astindo Travel Fair 2026 di Hall 1 ICE–BSD City, Tangsel.

Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan Wisatawan Mancanegara, tumbuh 10,80 persen dibanding tahun sebelumnya. 

Di saat yang sama, pergerakan Wisatawan Nusantara mencapai 1,20 miliar perjalanan, melonjak 17,55 persen. 

Ini bukan sekadar pemulihan pasca-pandemi, melainkan tanda perjalanan telah kembali menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun kisah paling menarik datang dari panggung global. Sepanjang 2025, pariwisata Indonesia meraih 154 Penghargaan Internasional

Sebanyak 33 hotel di Tanah Air menerima Michelin Keys, sementara Desa Wisata Pemuteran di Bali dan Desa Wisata Osing Kemiren di Banyuwangi mendapat pengakuan sebagai Best Tourism Village dan Best Tourism Village Upgrade Programme dari UN Tourism. 

Indonesia juga menyabet “The New Destination Champion Award 2026” dari La Liste, Prancis, di antara deretan penghargaan bergengsi lainnya.

“Ini adalah kebanggaan bersama bagi seluruh pemangku kepentingan pariwisata Indonesia. Pengakuan internasional ini tidak hanya meningkatkan standar kualitas pariwisata kita, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat global. Semakin baik citra Indonesia di mata dunia, semakin besar pula minat wisatawan untuk berkunjung ke berbagai destinasi dan daya tarik wisata kita,” kata Ni Luh Puspa.

Di balik euforia capaian tersebut, pemerintah menegaskan pertumbuhan kuantitatif harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas. 

Fokus pariwisata Indonesia ke depan bukan sekadar mendatangkan lebih banyak pengunjung, tetapi menciptakan pengalaman bermakna dan berdampak jangka panjang bagi masyarakat lokal.

“Saya mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk terus berkolaborasi. Fokus kita bukan semata pada angka kunjungan, tetapi pada pengalaman wisata yang bermakna, berkelanjutan, dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Semangat kolaborasi itu tercermin dalam Astindo Travel Fair 2026 yang berlangsung 5–8 Februari 2026, di Hall 1 ICE–BSD City, Tangerang Selatan. 

Beragam elemen ekosistem pariwisata hadir di ajang ini, dari Maskapai Penerbangan, Destinasi Wisata, perhotelan, biro perjalanan, operator tur, cruise lines, hingga penyedia travel gear dan apparel. 

Kehadiran mereka menegaskan pariwisata Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan dibangun dengan jaringan luas dan saling terhubung.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!