ID EN

8 Kawasan Pecinan Ikonik dan Sarat Sejarah di Indonesia, Nomor 2 dan 3 Satu Kota

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:04

Penulis: Arif S

Pecinan Glodok
Pecinan Glodok.
Sumber: jakarta-tourism.go.id

Kawasan Pecinan di Indonesia menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kota-kota besar. Dari masa kolonial hingga era modern, kawasan ini tumbuh sebagai pusat perdagangan, budaya, dan kuliner.

Saat Imlek tiba, Pecinan selalu berubah menjadi ruang perayaan. Dari Jakarta hingga Kalimantan Barat, berikut delapan kawasan Pecinan ikonik yang masih hidup dan terus bercerita.

1. Glodok - Jakarta

Glodok dikenal sebagai Pecinan tertua di Indonesia. Kawasan di Jakarta Barat ini lahir dari sejarah panjang. Hingga kini, jejak masa lalu itu masih terasa.

Di balik gedung-gedung modern, Glodok mempertahankan wajah lamanya. Gang sempit, klenteng berusia ratusan tahun, serta toko-toko lama yang menjual kebutuhan elektronik dan kuliner khas membuat kawasan ini selalu ramai dan berdenyut.

2. Kya Kya (Kembang Jepun) - Surabaya

Di Surabaya, Kya Kya atau Kembang Jepun sudah lama menjadi pusat perdagangan. Pada masa kolonial, kawasan ini dikenal sebagai Handelstraat. 

Nama Kembang Jepun sendiri muncul saat pendudukan Jepang dan bertahan hingga sekarang.

Bangunan bersejarah seperti Rumah Abu Keluarga Han dan Klenteng Hok An King menjadi penanda kuat identitas Pecinan di kawasan ini. 

Pertunjukan budaya dan deretan kuliner khas menjadikan Kya Kya hidup dari siang hingga malam.

3. Pecinan Kapasan Dalam - Surabaya

Masih di Surabaya, Pecinan Kapasan Dalam menawarkan suasana Chinatown yang lebih visual. Kampung heritage ini berada tepat di belakang Klenteng Boen Bio dan resmi diperkenalkan sebagai kawasan wisata pada 2020.

Lampion merah, mural bernuansa Dinasti Qing, serta ornamen naga di pintu masuk kampung langsung menyambut pengunjung. Kapasan Dalam juga dikenal dengan jajanan khas oriental.

4. Sudiroprajan (Kampung Balong) - Solo

Pecinan Solo berpusat di Kampung Balong, Sudiroprajan. Komunitas Tionghoa telah tinggal di kawasan ini sejak abad ke-18. Nama “Balong” memiliki banyak versi cerita, dari kisah pertempuran hingga asal-usul saudagar Tionghoa.

Sejak dahulu, Sudiroprajan berkembang sebagai kawasan perdagangan. Rumah bergaya arsitektur Tionghoa dan toko-toko lama masih berdiri, menjadikan kawasan ini bagian penting dari sejarah dan ekonomi Kota Solo.

5. Pecinan Kauman - Semarang

Pecinan Kauman terletak tak jauh dari Kota Lama Semarang. Kawasan ini lahir dari perpindahan komunitas Tionghoa setelah peristiwa 1740. Dari pemukiman baru itu, Pecinan Kauman tumbuh sebagai pusat perdagangan dan budaya.

Gang Waru, Sebandaran, dan Gang Pinggir menjadi denyut utama aktivitas warga. Tata ruang kawasan ini dipercaya mengikuti prinsip feng shui, sekaligus memadukan fungsi religi, kuliner, dan perdagangan dalam satu kawasan.

6. Bukit Nagoya - Batam

Meski namanya bernuansa Jepang, Bukit Nagoya justru dikenal sebagai Chinatown di Batam. Berada di kawasan Sungai Jodoh, wilayah ini kini berkembang menjadi pusat hiburan dan pertokoan.

Komunitas Tionghoa di Bukit Nagoya masih aktif menjalankan tradisi keagamaan di berbagai vihara dan klenteng. Kawasan ini juga menyimpan cerita lama tentang jalur penyeberangan tradisional ANTARA Batam dan Singapura.

7. Singkawang - Kalimantan Barat

Singkawang mendapat julukan “Kota Seribu Klenteng” karena kuatnya budaya Tionghoa di kota ini. Kehidupan sehari-hari warganya sangat lekat dengan tradisi, terutama saat Imlek dan Cap Go Meh.

Festival Cap Go Meh di Singkawang dikenal luas berkat pawai tatung, pertunjukan seni, dan hiasan kota yang meriah. Tradisi yang terus dijaga membuat Singkawang menjadi Pecinan paling khas di Indonesia.

8. Asia Mega Mas - Medan

Berbeda dengan Pecinan lama, Asia Mega Mas di Medan mencerminkan wajah Pecinan modern. Kawasan ini menjadi pusat aktivitas komunitas Tionghoa sekaligus destinasi kuliner populer.

Menjelang sore, area ini mulai ramai. Deretan makanan khas Pecinan mudah ditemukan, menjadikannya tujuan favorit Wisata Kuliner dan tempat berkumpul warga Medan.

Pecinan di Indonesia bukan sekadar kawasan etnis. Ia adalah ruang hidup yang merekam sejarah, pertemuan budaya, serta perubahan zaman. Menyusuri Pecinan berarti membaca kembali perjalanan panjang kota-kota di Indonesia.