ID EN

Wisata Bawah Laut Tanpa Menyelam, Indonesia Jadi Target Ekspansi Kapal Selam China

Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:40

Penulis: Arif S

Kapal selam wisata berawak sipil milik China
Kapal selam wisata berawak sipil milik China menyelesaikan pengujian bawah air terbaru.
Sumber:

Di sebuah danau tenang yang dikelilingi pegunungan Chongqing, China barat daya, masa depan Pariwisata bawah laut tengah diuji. Di Danau Shuanglong, wilayah Wushan, Kapal Selam Wisata berawak sipil bernama Jiaozi baru saja menyelesaikan putaran pengujian bawah air terbarunya.

Pengujian ini menjadi tahapan penting sebelum wahana ini berlayar jauh menuju perairan tropis Indonesia, termasuk Bali.

Kapal selam wisata yang dikembangkan secara mandiri China ini telah memasuki tahap akhir penerimaan dan pengemasan. 

Setelah melalui verifikasi teknis ketat, Jiaozi akan dioperasikan di kawasan wisata laut, seperti Pulau Bali, menghadirkan cara baru menikmati dunia bawah laut tanpa harus menjadi penyelam profesional.

Pengujian di Danau Shuanglong menunjukkan performa stabil. Dalam simulasi tersebut, Jiaozi mampu beroperasi mulus pada kedalaman 23 meter sesuai target, lalu mengapung kembali secara otomatis mengikuti program yang telah ditetapkan. 

Uji coba ini menjadi fondasi kepercayaan sebelum kapal selam tersebut ditempatkan di laut terbuka.

Jiaozi dikembangkan dan diproduksi sebuah perusahaan teknologi berbasis di Kawasan Industri Wilayah Wushan, Chongqing. 

Sejak berdiri pada 2018, perusahaan ini fokus membangun rantai industri kapal selam sipil berawak, dengan visi mendorong pemanfaatan teknologi bawah air untuk pariwisata, edukasi sains, hingga penyelamatan.

Secara teknis, kapal selam ini menggunakan sistem listrik murni dan struktur tahan tekanan yang dirancang sesuai standar kedalaman hingga 200 meter. 

Kabin Jiaozi mampu menampung empat orang, lengkap dengan sistem penghindaran rintangan otomatis serta sistem pengapungan keselamatan. 

Dengan konfigurasi ini, wisatawan umum dapat merasakan pengalaman bawah laut tanpa memerlukan pelatihan khusus.

"Kami merancang kapal selam ini dengan prinsip agar semakin banyak wisatawan umum dapat mengenal laut dalam kondisi aman dan terkontrol," ujar Jiang Zhidi, pemimpin perusahaan tersebut.

Alih-alih mengejar performa ekstrem, tim pengembang memilih jalur lebih membumi. Fokus utama diarahkan pada stabilitas sistem, kemudahan pengoperasian, dan keandalan jangka panjang, tiga elemen krusial untuk wahana wisata yang akan beroperasi setiap hari.

Menurut Jiang, proyek ini diperkaya proses penelitian dan pengembangan selama lima tahun, serta lebih dari 100 ribu kali pengujian ekstrem. 

Produksi massal dimulai pada Januari 2024 di pabrik Wushan, dan hingga kini lebih dari 30 unit telah dikerahkan di berbagai Destinasi Wisata China, termasuk Sanya di Hainan dan Pulau Weizhou di Beihai, Guangxi.

Indonesia menjadi salah satu tujuan terpenting dalam ekspansi internasional proyek ini. Pada Oktober 2025, Jiaozi dinyatakan lulus inspeksi Kementerian Perhubungan RI dan mengantongi izin operasi di perairan wisata lokal. 

Kerja sama kemudian diteken untuk penempatan bertahap 100 unit kapal selam di kawasan wisata seperti Bali, Kepulauan Seribu di Jakarta, dan Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat. Saat ini, tiga unit telah memulai uji coba operasi di Bali.

"Setiap negara memiliki karakteristik berbeda dalam hal kondisi laut, sistem regulasi, dan metode operasional. Sebelum memasuki pasar Indonesia, kami telah melakukan beberapa kali penyesuaian teknis dan verifikasi sesuai persyaratan setempat," kata Jiang.

Lebih jauh, perusahaan ini berharap dapat terlibat secara berkelanjutan dalam pengembangan pariwisata bawah air global. 

Dengan lebih dari 30 tenaga penelitian dan pengembangan, termasuk para doctor dan lebih dari 100 paten independen hingga akhir 2025, ambisi tersebut didukung fondasi teknologi yang kuat.

Di tingkat daerah, pejabat dari Komite Manajemen Kawasan Industri Wilayah Wushan menilai proyek ini mendorong integrasi manufaktur peralatan tingkat tinggi dengan industri budaya dan pariwisata, sekaligus mempercepat transformasi struktur industri menuju teknologi maju.(Xinhua)