Mengintip Gaji Pemain Padel Top Dunia, Benarkah Masih Kalah Jauh dari Tenis dan Bulu Tangkis?
Minggu, 18 Januari 2026 | 16:00
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Freepik
Olahraga Padel kini tak lagi sekadar tren gaya hidup di kalangan urban. Di level profesional, padel telah berkembang menjadi profesi yang menjanjikan secara finansial, meski skalanya masih berada di bawah cabang olahraga raket yang lebih mapan seperti tenis dan bulu tangkis.
Berdasarkan data yang dirangkum Padel Nirvana, pemain padel papan atas dunia seperti Arturo Coello, Agustin Tapia, hingga Ariana Sanchez berpotensi mengantongi pemasukan hingga 1,5 juta dolar Amerika Serikat per tahun atau setara sekitar Rp25 miliar.
Pendapatan tersebut berasal dari dua sumber utama, yakni prize money turnamen dan kontrak komersial. Dari sisi kompetisi, para pemain elite diperkirakan meraih sekitar 530 ribu dolar AS atau sekitar Rp8,9 miliar per tahun dari total hadiah turnamen yang mereka ikuti sepanjang musim.
BACA JUGA
Padel Kian Populer, Pemprov DKI Tegaskan Soal Izin dan Kebisingan
Agustin Tapia Pemain Padel Paling Populer di Instagram
Alessandro Nesta Hingga Ariel Noah Akan Meriahkan Ajang RANS Padel Wars 2025
Namun, porsi terbesar justru datang dari luar lapangan. Sponsor menjadi sumber pemasukan utama bagi bintang padel dunia. Nilainya diperkirakan mencapai 1 juta dolar AS atau setara Rp16,9 miliar per tahun, tergantung popularitas dan eksposur sang atlet.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pada level tertinggi, prize money di padel lebih berfungsi sebagai fondasi, sementara penghasilan utama ditopang oleh kerja sama komersial. Pola tersebut serupa dengan cabang olahraga profesional lainnya, meski nominalnya masih terpaut jauh.
Jika dibandingkan dengan tenis, jurang perbedaan terlihat sangat jelas. Dalam daftar petenis dengan penghasilan tertinggi versi Forbes tahun 2025, Carlos Alcaraz berada di puncak dengan total pendapatan mencapai 48,3 juta dolar AS atau sekitar Rp815,3 miliar dalam setahun.
Dari jumlah tersebut, Alcaraz memperoleh 13,3 juta dolar AS (Rp224,5 miliar) dari hadiah turnamen, sementara 35 juta dolar AS lainnya (Rp590,8 miliar) berasal dari kontrak sponsor dan aktivitas komersial di luar lapangan.
Bahkan petenis dengan pendapatan terendah dalam daftar 10 besar tersebut, yakni Daniil Medvedev, masih mengantongi 14,3 juta dolar AS atau sekitar Rp241 miliar per tahun. Angka ini jauh melampaui total pemasukan tahunan pemain padel papan atas.
Perbandingan menarik juga muncul jika melihat cabang bulu tangkis. Tunggal putri nomor satu dunia asal Korea Selatan, An Se-young, mencatatkan pendapatan prize money sekitar 1 juta dolar AS atau setara Rp16 miliar sepanjang 2025. Jumlah itu didapat dari 14 turnamen BWF World Tour yang diikutinya.
Capaian An Se-young tergolong luar biasa. Ia meraih 11 gelar juara dari 14 turnamen, menjadikannya salah satu musim paling dominan dalam sejarah tunggal putri bulu tangkis. Sebagai perbandingan, pemain peringkat dua dunia, Wang Zhi Yi asal China, mengumpulkan sekitar 625 ribu dolar AS dari hadiah turnamen, masih lebih tinggi dibandingkan prize money pemain padel elite.
Dari sisi sponsor, An Se-young juga memiliki nilai komersial tinggi. Berdasarkan laporan JoongAng Ilbo, ia menerima kontrak senilai 10 miliar won Korea selama empat tahun dari Yonex. Jika dirata-rata, An memperoleh sekitar Rp28 miliar per tahun hanya dari satu sponsor utama, angka yang bahkan melampaui total pemasukan tahunan sebagian besar pemain padel top dunia.
Perbandingan ini memperlihatkan posisi padel dalam peta Ekonomi Olahraga global. Meski pertumbuhannya cepat dan popularitasnya terus meningkat, terutama di Eropa dan Amerika Latin, secara finansial padel masih berada satu tingkat di bawah tenis dan bulu tangkis.
Namun, dengan ekspansi turnamen, peningkatan nilai sponsor, serta masuknya padel ke pasar-pasar baru, potensi lonjakan ekonomi di cabang olahraga ini masih terbuka lebar dalam beberapa tahun ke depan.










