Roger Federer Kembali ke Australian Open 2026, Nostalgia 4 Mantan Petenis Nomor Satu Dunia
Jumat, 16 Januari 2026 | 19:00
Penulis: Arif S

Sumber: Envato
Roger Federer kembali melangkah ke Melbourne Park dengan sedikit gugup. Kehadiran Federer sebagai bintang utama dalam seremoni pembukaan Australian Open 2026 yang akan mempertemukan empat mantan petenis peringkat satu dunia dalam satu panggung nostalgia.
Legenda Tenis Swiss itu akan tampil pada Sabtu 17 Januari, sehari sebelum babak pertama dimulai pada Minggu 18 Januari, dalam sebuah acara spesial bersama Pat Rafter, Andre Agassi, dan Lleyton Hewitt.
Meski hanya seremoni, atmosfer Grand Slam ternyata tetap memberi tekanan tersendiri bagi Federer.
BACA JUGA
Roger Federer Tak Sabar Menonton Aksi Lionel Messi di Piala Dunia 2026
Main Bareng Donnie Yen, Federer Buktikan Pesonanya Tak Pernah Padam
Roger Federer Selangkah Lagi Abadi di Hall of Fame
“Saya merasa sedikit gugup,” ujar Federer yang kini berusia 44 tahun, dikutip dari laman resmi Australian Open, Jumat.
“Sejujurnya, saya sudah lama tidak menjalani konferensi pers seperti ini.”
Bagi penggemar, momen ini lebih dari sekadar pembukaan turnamen tetapi salam perpisahan tertunda.
Federer tidak pernah mengucapkan selamat tinggal secara resmi kepada Melbourne Park, tempat ia menorehkan enam gelar Australian Open dan kenangan paling ikonik dalam kariernya.
Federer terakhir kali tampil di Australian Open pada 2020, ketika mencapai semifinal sebelum kalah straight set dari Novak Djokovic.
Cedera kemudian memaksanya menepi hingga akhirnya mengakhiri karier profesional selama 24 tahun pada 2022. Kini, ia Kembali bukan sebagai petarung, melainkan simbol era emas tenis.
“Saya senang bisa kembali ke lapangan besar seperti Rod Laver Arena. Akan sangat mudah bagi saya untuk tetap tinggal di rumah dan mengatakan tidak perlu melakukannya, tetapi saya memilih untuk datang,” kata Federer.
Pertarungan antar mantan petenis peringkat satu dunia ini juga sarat emosi personal. Federer berbagi panggung dengan para rival dan sahabat yang membentuk kisah panjang rivalitas global.
“Saya senang ada momen khusus untuk para penonton dan juga untuk diri saya sendiri. Apalagi bisa berada di lapangan bersama Lleyton, yang punya banyak kesamaan dengan saya, serta Pat, lawan yang selalu saya nikmati meskipun saya tidak pernah mengalahkannya.”
“Dia adalah salah satu pemain favorit saya. Lalu ada Andre, saya beruntung bisa bermain melawannya sekitar 10 kali. Berada bersama mereka semua membuat saya merasa lebih nyaman,” kata juara Grand Slam 20 kali itu.
Kepulangan ini semakin personal karena Federer datang bersama anak dan orang tuanya untuk perjalanan sepekan menyusuri kenangan.
Sosok yang dikenal emosional namun tenang itu juga mengenang salah satu final paling bersejarah dalam kariernya, Australian Open 2017 melawan Rafael Nadal.
“Rasanya seperti mimpi. Saya datang ke sini tanpa ekspektasi besar; bahkan mencapai Perempat Final saja sebenarnya sudah membuat saya senang,” kata Federer.
“Saya tahu undian saya berat dan saya harus melewati banyak pemain hebat untuk bisa mendekati gelar. Karena itu, bisa mencapai final membuatnya menjadi salah satu final paling istimewa yang pernah saya jalani.”
Federer juga mengakui transisi menuju pensiun bukan proses instan. Ia membutuhkan waktu dua tahun untuk benar-benar menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar lapangan setelah perpisahan emosional di Laver Cup bersama Nadal.
“Akhir karier saya diwarnai cedera dan minim pertandingan, sehingga saya sudah terbiasa hidup tanpa latihan dan kompetisi. Saya benar-benar siap untuk pensiun, dan saat itu terjadi rasanya sangat melegakan,” ungkap Federer.
“Saya telah meraih jauh lebih banyak dari yang pernah saya bayangkan. Ini sangat menyenangkan dan terasa seperti mimpi. Bahkan jika saya hanya memenangi setengah dari pencapaian itu, saya tetap akan bangga duduk di sini,” pungkasnya.










