Ketika Perjalanan Menjadi Destinasi, Menyusuri Jalur Selatan Jawa dengan Kereta Panoramic
Kamis, 8 Januari 2026 | 14:46
Penulis: Arif S

Sumber: PT KAI
Di jalur selatan Pulau Jawa, perjalanan tak lagi sekadar titik berangkat dan tujuan. Melalui kaca lebar Kereta Panoramic, lanskap perlahan bergulir. Perbukitan hijau berlapis, hamparan sawah menguning, sungai berkelok tenang, hingga terowongan bersejarah dan jembatan ikonik menandai lintasan waktu. Di sinilah perjalanan berubah menjadi pengalaman.
Transformasi ini terlihat selama masa angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2025/2026. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat Kereta Panoramic melayani 11.819 pelanggan dengan tingkat okupansi 120 persen dari total 9.576 tempat duduk.
Angka ini mencerminkan perubahan cara masyarakat memaknai perjalanan, bukan lagi sekadar berpindah tempat, tetapi menikmati proses bergerak di dalam lanskap.
BACA JUGA
Pelanggan Kereta Panoramic Melonjak Tajam, Kini Perjalanan Kereta Api Jadi Destinasi Wisata
Tren Positif Wisatawan Asing Naik Kereta Api, Gambir dan Yogyakarta Titik Favorit
Naik Kelas, KA Bangunkarta dan KA Singasari Gunakan Rangkaian Stainless Steel Modern
“Minat masyarakat untuk menikmati perjalanan kereta api sebagai bagian dari pengalaman wisata terus menunjukkan tren positif,” ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dikonfirmasi di Jakarta, Kamis 8 Januari 2026.
Kereta Panoramic menjadi representasi pergeseran global menuju experience-based tourism, di mana nilai perjalanan terletak pada sensasi, visual, dan keterhubungan dengan ruang yang dilalui.
Layanan ini hadir pada rangkaian KA Argo Wilis dan Turangga relasi Bandung–Surabaya Gubeng, KA Pangandaran relasi Gambir–Banjar, KA Papandayan relasi Gambir–Garut, serta KA Parahyangan relasi Gambir–Bandung.
Jalur-jalur ini menghubungkan kota besar dengan kawasan kaya akan alam, budaya, dan ekonomi lokal.
Dikatakan Anne, Kereta Panoramic menjawab tren perjalanan masa kini, di mana masyarakat tidak hanya ingin sampai tujuan, tetapi juga menikmati proses perjalanannya.
Kontur tanah vulkanik, sawah berteras, hutan tropis, dan desa-desa yang berdenyut pelan mengikuti ritme alam.
Pengalaman visual ini menjadikan perjalanan sebagai bagian dari destinasi itu sendiri.
Namun dampak Kereta Panoramic melampaui pengalaman personal penumpang. Kehadirannya mendorong pergerakan wisatawan ke kota dan kabupaten tujuan, menghidupkan sektor perhotelan, kuliner, UMKM, hingga industri kreatif lokal.
Di sepanjang relasi yang dilalui, ekonomi lokal bergerak seiring datangnya wisatawan yang tidak hanya singgah, tetapi hadir dengan rasa ingin tahu terhadap tempat.
Dalam konteks keberlanjutan, kereta api juga menawarkan model perjalanan lebih rendah emisi dibanding moda lain.
Di tengah meningkatnya kesadaran wisatawan terhadap jejak karbon perjalanan mereka, Kereta Panoramic memosisikan diri sebagai bagian dari Pariwisata yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab.
Di ujung perjalanan, yang tertinggal bukan hanya foto atau catatan jarak tempuh, melainkan ingatan tentang bentang alam yang perlahan bergeser di balik kaca.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!