ID EN

Sarat Prestasi Penuh Kontroversi, Media Swiss Sebut PSSI Blunder Tunjuk John Herdman

Senin, 22 Desember 2025 | 15:51

Penulis: Respaty Gilang

John Herdman
John Herdman.
Sumber: Antaranews

Bursa calon Pelatih Timnas Indonesia kembali memanas setelah nama John Herdman mencuat ke permukaan sebagai kandidat kuat pengganti di kursi kepelatihan. Sosok pelatih asal Inggris itu memang punya rekam jejak yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama setelah sukses membawa Kanada menembus Piala Dunia 2022. Namun di balik pencapaian tersebut, Herdman juga menyisakan sederet kontroversi yang kini mulai menjadi bahan perdebatan serius di Tanah Air.

Laporan Sky Sports menyebutkan bahwa Direktur Teknik PSSI Alexander Zwiers bersama dua anggota Exco federasi telah bertolak ke Eropa untuk melakukan wawancara langsung dengan Herdman.

Langkah ini mempertegas bahwa federasi benar-benar mempertimbangkan pelatih berusia 50 tahun itu sebagai figur sentral proyek besar Timnas Indonesia ke depan.

Secara prestasi, Herdman memang menawarkan CV yang menggiurkan. Ia adalah arsitek kebangkitan Sepak Bola Kanada, baik di level putri maupun putra. Puncaknya terjadi ketika ia mengantar Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar, sebuah pencapaian historis setelah penantian lebih dari tiga dekade. Namun, justru di turnamen itulah sisi lain Herdman mulai menuai sorotan negatif.

Kontroversi terbesar datang jelang laga Kanada melawan Kroasia di fase grup Piala Dunia 2022. Dalam sebuah sesi internal tim yang kemudian bocor ke publik, Herdman melontarkan kalimat kasar, “Nobody will fck us”, yang dimaksudkan sebagai pemantik semangat juang para pemainnya. Alih-alih menjadi bahan bakar motivasi, ucapan tersebut justru memicu kemarahan publik Kroasia dan dianggap sebagai bentuk arogansi yang tidak pantas di panggung internasional.

Reaksi keras pun datang. Media-media Kroasia menjadikan pernyataan Herdman sebagai headline, sementara para pemain Kroasia meresponsnya langsung di lapangan.

Hasilnya menjadi bumerang telak. Kanada kalah 1-4, dan ucapan sang pelatih terus diulang sebagai simbol kegagalan mengendalikan emosi. Momen itu melekat kuat dalam narasi karier Herdman, seolah menegaskan bahwa keberaniannya dalam berbicara kerap berjalan beriringan dengan risiko besar.

Bayang-bayang kontroversi tersebut kini ikut terbawa ke Indonesia. Publik mulai mempertanyakan apakah gaya komunikasi Herdman yang meledak-ledak cocok dengan kultur sepak bola nasional. Indonesia dikenal memiliki nilai budaya yang menjunjung kesantunan, kehati-hatian dalam berbicara, serta stabilitas emosi dari seorang pemimpin. Dalam konteks ini, gaya kepemimpinan Herdman dinilai berpotensi menimbulkan gesekan, baik di ruang ganti maupun di hadapan publik.

Kritik terhadap wacana perekrutan Herdman bahkan datang dari luar negeri. Media Swiss The International Window secara terbuka menyebut bahwa Indonesia berpotensi melakukan blunder jika benar-benar merekrut John Herdman. Dalam ulasannya, media tersebut menilai Herdman tidak jauh berbeda dengan Patrick Kluivert, figur pelatih besar yang namanya mentereng sebagai pemain, namun kerap meninggalkan tanda tanya besar dalam karier kepelatihannya. Perbandingan ini bukan tanpa alasan, karena keduanya dinilai memiliki jarak antara reputasi dan konsistensi hasil jangka panjang.

Di sisi lain, Herdman memang telah membela diri terkait insiden di Piala Dunia. Ia menegaskan bahwa ucapannya hanyalah luapan emosi sesaat untuk memotivasi tim, bukan bentuk penghinaan atau arogansi. Namun bagi federasi seperti PSSI, pembelaan semacam itu tentu tidak cukup. Rekam jejak kepemimpinan, pengendalian emosi, dan kemampuan membaca konteks budaya menjadi faktor penting yang tak bisa diabaikan.

Apalagi, Timnas Indonesia saat ini sedang berada di fase krusial. Ambisi untuk naik level di Asia dan bersaing di kancah global menuntut sosok pelatih yang bukan hanya kuat secara taktik, tetapi juga matang secara psikologis. Kesalahan komunikasi sekecil apa pun bisa berdampak besar, terutama di era media sosial yang serba cepat dan reaktif.

Di sinilah dilema besar PSSI muncul. Di satu sisi, John Herdman menawarkan pengalaman Piala Dunia dan pemahaman sepak bola modern. Di sisi lain, ada risiko bahwa karakter dan gaya komunikasinya justru menjadi distraksi baru bagi tim nasional.

Penunjukan pelatih asing tidak lagi sekadar soal metode latihan atau skema permainan, tetapi juga soal kecocokan nilai, stabilitas, dan kemampuan meredam tekanan.

Kini, bola panas sepenuhnya berada di tangan PSSI. Keputusan yang akan diambil bukan hanya menentukan arah permainan Timnas Indonesia di lapangan, tetapi juga wajah kepemimpinan sepak bola nasional di mata publik dan dunia internasional.

Apakah federasi akan memilih pengalaman level dunia dengan segala kontroversinya, atau mencari figur yang lebih selaras dengan karakter dan kebutuhan jangka panjang Sepak Bola Indonesia, masih menjadi tanda tanya besar.