ID EN

Dari Warisan Indra Sjafri ke Visi John Herdman: PSSI di Titik Balik Sistemik

Jumat, 19 Desember 2025 | 09:10

Penulis: Rojes Saragih

Kinerja Tim Nasional U-22 Indonesia di Sea Games 2025 menjadi peringatan serius bagi federasi Sepak Bola nasional. Hanya berselang dua tahun sejak merebut Medali Emas (2023), Skuad Garuda Muda justru terhenti di fase grup, memperlihatkan akar masalah ketidakstabilan performa.

Situasi ini tampak kontras dengan pencapaian Timnas Senior yang baru saja melangkah hingga babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Jurang konsistensi ini menuntut kajian mendalam, utamanya dalam kerangka perekrutan pelatih kepala tim nasional yang baru.

Dalam sebuah diskusi eksklusif, pengamat sepak bola Akmal Marhali menggarisbawahi bahwa dunia sepak bola penuh dinamika tak terduga. Ia mengambil contoh Italia, yang meski empat kali juara dunia, tetap bisa mengalami periode sulit. “Penting bagi Indonesia untuk fokus membangun iklim dan filosofi bermain yang kokoh, sebagai pondasi utama,” ungkapnya dalam podcast ITSME.co.id. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa tugas PSSI lebih kompleks daripada sekadar mencari sosok pelatih.

Kepemimpinan dan Pelajaran dari Masa Lalu

Marhali menekankan bahwa kegagalan di SEA Games tidak bisa dilihat semata sebagai kesalahan pelatih U-22 Indra Sjafri dan manajer tim Sumardji, yang telah mengundurkan diri. “Kontribusi mereka nyata. Persoalan yang ada bersifat sistemik,” tegasnya. Pendekatan ini mengajak untuk menghargai nilai setiap pengalaman yang telah dilalui sebagai bahan pertimbangan vital dalam perekrutan pelatih tim nasional utama.

Kandidat dan Arah Baru Sepak Bola Indonesia

Di tengah kekosongan posisi pelatih, tiga nama mengemuka sebagai calon Pengganti Patrick Kluivert: John Herdman, Giovanni van Bronckhorst, dan Jesús Casas. Sorotan banyak tertuju pada John Herdman, yang dinilai memiliki rekam jejak relevan.

Kesuksesan Herdman membangun tim Kanada dari dasar hingga tampil di Piala Dunia 2022 sejalan dengan kebutuhan Indonesia akan perencanaan jangka panjang dan penanaman filosofi bermain. Keputusan PSSI nantinya akan menjadi penentu arah: apakah tetap pada pola reaktif atau memilih transformasi sungguhan dengan figur seperti Herdman.

Pilar Penting: Liga Domestik dan Regenerasi

Di luar pencarian pelatih, kesehatan kompetisi domestik menjadi faktor krusial. Persaingan ketat di puncak klasemen Liga 1 (Super League) antara Borneo FC, Persija Jakarta, dan Persib Bandung perlu dilihat sebagai motor penggerak. Liga yang kompetitif adalah sumber pasokan pemain berkualitas bagi tim nasional. Pembenahan dari dalam ini tidak kalah pentingnya dalam peta jalan kebangkitan Sepak Bola Indonesia.