ID EN

Ternyata Monas dan Menteng Punya Beda Usia 100 Tahun, Ini Sejarah yang Jarang Dibahas

Sabtu, 4 Oktober 2025 | 14:00

Penulis: Arif S

Monumen Nasional (Monas) Jakarta
Monumen Nasional (Monas) Jakarta.
Sumber: Pixabay/Rendy_g

Di Jakarta Pusat, hanya dengan berjalan kaki sebentar kita bisa melintasi dua babak sejarah yang berbeda. Kawasan Monas dan sekitarnya, yang pada masa kolonial Belanda dikenal sebagai Weltevreden, berdiri lebih dulu pada awal 1800-an. 

Sementara Menteng, dengan tata kota modern dan taman-taman hijaunya, baru lahir seratus tahun kemudian.

Perbedaan waktu itulah yang dijelaskan Founder SANA Kenal Kota, Abimantra Pradhana, ketika memandu tur berjalan kaki di Jalan Sabang, Jakarta Pusat, Sabtu lalu. 

Jalan ini menjadi semacam garis imajiner yang membatasi Weltevreden dengan Menteng.

“Jadi bedanya antara Weltevreden sama Menteng itu kira-kira 100 tahun. Weltevreden itu dibangun 1800 ketika VOC bangkrut dan kemudian (Gubernur Jenderal) Daendels datang. Sedangkan Menteng dibangun tahun 1910,” kata Abimantara.

Weltevreden sendiri mulai berkembang di masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels (1806–1811), sosok yang juga dikenal lewat proyek ambisiusnya Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan.

Seabad kemudian, Batavia tumbuh pesat. Pelabuhan Tanjung Priok dibuka, ekonomi digerakkan Politik Etis, dan populasi kota melonjak dari 75.000 menjadi 150.000 jiwa. Untuk menampung ledakan penduduk inilah, kawasan Menteng dirancang.

Adalah arsitek sekaligus seniman Belanda, P.A.J. Moojen, yang menggambar peta awal Menteng pada 1910. Konsepnya revolusioner: sebuah kota taman modern dengan ruang hijau luas, jalan-jalan artistik, dan rumah-rumah berpagar pekarangan lega.

“(Pembangunan) Menteng ada dua tahap, yang pertama dibangun 1910 sampai 1918 dengan perancangnya bernama Moojen. Karena Moojen itu seniman, dia menggambar kota dengan sangat artistik. Dia merancang jalan sampai simpang tujuh dan lahan tamannya yang besar-besar jadi dinilai Belanda tidak efisien,” jelas Abimantara.

Namun, kebutuhan praktis akhirnya mengubah wajah Menteng di tahap kedua pembangunan pada 1918-1930.

“Karena terlalu banyak space yang dibuang, jadi (pembangunan) tahap kedua tahun 1918 sampai 1930 adalah area Taman Surapati atau Bappenas itu lebih terstruktur, tamannya lebih kecil dan batasnya ada kanal di situ,” tambahnya.

Menteng juga menandai transisi besar dalam sejarah arsitektur di Jakarta. Sebelum 1900, bangunan-bangunan ikonik seperti Museum Nasional dan Istana Merdeka dirancang insinyur militer dengan gaya seragam.

Baru di awal abad ke-20 lahir generasi arsitek lulusan Belanda, termasuk Moojen, yang membawa warna baru dengan gaya “New Indies”.

“Jadi pada masa itu mulai masuk era modern jadi desain New Indies namanya. Nah inilah Menteng jadi kayak laboratoriumnya arsitek waktu itu,” kata Abimantara.

Dari Weltevreden yang lahir di bawah komando Daendels hingga Menteng yang jadi arena eksperimen para arsitek modern, keduanya adalah saksi bagaimana Batavia yang kini dikenal sebagai Jakarta dibentuk lapis demi lapis, dari masa kolonial hingga menjadi kota metropolitan hari ini.(Antara)