ID EN

Diaspora, Super League, dan Pelatih Timnas Indonesia

Rabu, 19 November 2025 | 11:54

Penulis: Rojes Saragih

Pengamat sepak bola Ophan Lamara mengaku kaget dengan keputusan taktis yang diambil oleh mantan pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, pada laga krusial melawan Arab Saudi di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kekalahan dalam laga yang berstatus "hidup-mati" itu pada akhirnya menjadi salah satu pukulan telak yang mengubur harapan Garuda ke Piala Dunia.

Lamara mengungkapkan keheranannya terutama pada susunan pemain (starting lineup) yang dinilainya tidak biasa dan cenderung mengejutkan. Menurut analisnya, keputusan tersebut justru datang di saat tim membutuhkan stabilitas dan formula terbaik mereka.

"Saya sempat kaget melihat susunan pemain yang diturunkan. Dalam laga sepenting dan serumit itu, yang dibutuhkan adalah formasi dan pilihan pemain yang sudah teruji, yang memiliki chemistry terbangun, terutama di lini tengah dan pertahanan," ujar Lamara.

Ia menduga, Kluivert mungkin ingin memberikan kejutan taktis atau terpaksa melakukan rotasi karena berbagai pertimbangan. Namun, dalam tekanan laga yang mengharuskan tim untuk solid dari menit pertama, keputusan untuk menurunkan komposisi "tidak biasa" dinilainya berisiko tinggi.

"Di level kualifikasi Piala Dunia, sedikit saja kesalahan dalam membaca situasi bisa berakibat fatal. Momentum sulit untuk dikejar. Sayangnya, yang terjadi adalah kita kesulitan mengontrol permainan sejak awal, dan ini berkaitan dengan pilihan pemain serta strategi yang dijalankan," paparnya lebih lanjut.

"Pelatih baru kita nanti haruslah seseorang yang hidup dan bernapas dengan perkembangan timnya setiap hari. Dia harus paham betul detak jantung pemainnya, siapa yang sedang dalam kondisi puncak, dan siapa yang cocok untuk jenis pertandingan tertentu. Bukan hanya teori, tetapi memahami konteks. Bukan nama besar yang kita butuhkan, tapi pengelola tim yang cermat dan berkomitmen penuh," tegas Lamara.

Dengan demikian, kekagetan Ophan Lamara atas keputusan Kluivert bukan sekadar kritik sesaat, melainkan pintu masuk untuk menegaskan kembali betapa pentingnya sosok pelatih yang benar-benar mengakar dan memahami medan laga sepak bola Indonesia.