Pasar Malam Indonesia Menyala di Phnom Penh: Jejak Rindu Nusantara di Jantung Kamboja
Selasa, 18 November 2025 | 13:00
Penulis: Arif S

Sumber: Antara
Aroma bakso dan sate ayam menyeruak di Chaktomuk Walk Street, Phnom Penh. Bukan dari warung setempat, melainkan dari sebuah festival yang membawa nuansa Nusantara ke jantung ibu kota Kamboja. Untuk pertama kalinya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh menghadirkan “Phsaar Reatrei Indonesia”.
Pasar Malam Indonesia ini menjadi sebuah selebrasi budaya yang memadukan keramaian khas pasar malam tanah air dengan denyut hidup kota tropis di Asia Tenggara.
Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto menyebut acara itu sebagai sebuah “perayaan persahabatan.”
BACA JUGA
NTB Siap Jadi Magnet Wisata 2026, Kunjungan Ditargetkan Naik
Festival Musik Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Daya Tarik Wisata Baru Indonesia
Wisata Indonesia 2025 Meledak, Pergerakan Wisman dan Wisatawan Lokal Tembus Rekor
"Musik, tari, dan makanan adalah bahasa universal yang diharapkan dapat menghubungkan orang Kamboja dengan budaya Indonesia dengan cara yang berkesan dan menyenangkan,"* ujarnya dalam keterangan resmi KBRI Phnom Penh.
Keramaian Khas Nusantara Mengalir di Tepi Sungai Mekong
Digelar pada 15-16 November 2025, festival ini menandai upaya diplomasi budaya lewat cara paling dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu makanan, musik, dan tarian.
Dari kejauhan, lampu-lampu berwarna menggantung dan riuh musik dangdut menyatu dengan langkah pengunjung yang larut dalam suasana baru.
Acara dibuka Dubes Santo, didampingi Sekretaris Negara Kementerian Pariwisata Kamboja Katoeu Mohammad Nossry dan Wakil Gubernur Phnom Penh Imran Hassan.
Festival ini seolah menegaskan, Pasar Malam Indonesia bukan hanya festival kuliner, tetapi wujud nyata jembatan budaya dua bangsa.
Selain warga Phnom Penh, KBRI juga menargetkan komunitas internasional yang menetap di ibu kota Kamboja. Menghadirkan ragam rasa dan warna Indonesia ke panggung kosmopolitan Asia Tenggara.
12 Stan Kuliner dan Produk Indonesia
Di sepanjang jalan, 12 stan kuliner dan produk Indonesia diserbu pengunjung yang penasaran atau sekadar rindu cita rasa Nusantara.
Ada bakso, sate ayam, hingga martabak yang mengajak siapa saja untuk berhenti dan mencicipi kehangatan Indonesia.
Selain panganan, produk Indonesia yang semakin populer di Kamboja juga dipamerkan mulai dari perawatan tubuh hingga obat tradisional.
Keramaian stan menjadi bukti bahwa budaya Indonesia telah menemukan tempatnya di hati masyarakat Kamboja.
Atmosfer semakin hidup ketika panggung mulai terisi. Para siswa Pusat Budaya Indonesia (Pusbudi) Nusantara menampilkan tarian dan musik tradisional.
Sementara kolaborasi musik Indonesia-Khmer memperlihatkan bagaimana budaya dapat saling menjalin.
Pasar Malam Indonesia menjadi bagian dari strategi memperkenalkan budaya dan produk Indonesia serta mendukung pengembangan sektor pariwisata dan perdagangan kedua negara.
KBRI Phnom Penh juga melihat festival ini sebagai dukungan terhadap langkah pemerintah Kamboja menjadikan Chaktomuk Walk Street sebagai pusat budaya dan ikon wisata kota.***










