Penentuan Pemenang Puskas Awards 2025 Tak Lagi dari Hasil Voting, Bisakah Rizky Ridho Menang?
Sabtu, 15 November 2025 | 12:25
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Puskas Award (penghargaan untuk gol terbaik) dulu dikenal sebagai ajang yang benar-benar ditentukan oleh voting publik. Namun setelah kontroversi pada 2018, FIFA merombak mekanisme pemilihan agar prosesnya dianggap lebih adil dan berimbang.
Intinya sekarang pemenang ditentukan dengan melibatkan dua unsur yaitu suara publik dan penilaian panel ahli/legends FIFA.
Untuk edisi 2025, FIFA merilis daftar nominasi, termasuk video semua gol kandidat dan menyediakan mekanisme voting publik lewat situs resmi FIFA. Namun hasil akhir tidak hanya diukur dari akumulasi suara fans, panel ahli (sering disebut panel FIFA Legends atau juri) mempunyai peran penentu dalam babak akhir.
BACA JUGA
Soal Gol Spektakulernya Masuk FIFA Puskas Award 2025, Ini Kata Rizky Ridho
Bukan Rizky Ridho, Tapi Ini Pemain Asia Pertama yang Masuk Nominasi Puskas Award dan Menang
Gol Spektakuler Rizky Ridho Masuk Nominasi FIFA Puskas Award 2025 Bersaing dengan Lamine Yamal
Pembagian bobot suara antara fans dan panelis yang membuat kemenangan tidak bergantung penuh pada jumlah netizen saja.
Masuknya Rizky Ridho (bek Persija dan Timnas Indonesia) ke daftar nominasi Puskás Award 2025 adalah momen bersejarah. Pemain Indonesia jarang muncul di level nominasi internasional seperti ini, apalagi bersanding nama-nama besar dari kompetisi top Eropa dan Amerika. Banyak media Indonesia segera mengangkat berita ini dan mendorong pendukung untuk memberikan suara lewat platform resmi FIFA.
Secara teori dan berdasarkan pengalaman sejumlah penghargaan internasional lain yang pernah bergantung pada voting fans, jika pemenang benar-benar ditentukan hanya oleh jumlah suara publik, kandidat dari negara dengan populasi besar dan pengguna internet aktif punya keunggulan signifikan.
Indonesia, dengan basis suporter sepakbola yang besar dan aktif di media sosial, bisa menjadi driver voting masif untuk kandidat lokal. Artinya, jika hanya publik yang menentukan, kesempatan Rizky Ridho untuk menyalip nama-nama besar dengan dukungan serempak netizen Indonesia bisa menjadi sangat besar. Namun perlu ditekankan, ini adalah skenario hipotetis bukan kondisi sekarang.
Perubahan mekanisme (sejak pasca-2018) memang dimaksudkan untuk menyeimbangkan preferensi publik dengan penilaian teknis/estetika dari panel ahli. Dalam praktiknya berarti, publik memilih shortlist atau memberi peringkat pada pilihan mereka, lalu panel juri menilai kualitas teknis, konteks gol, tingkat kesulitan, kreativitas, dan nilai historisnya.
Jadi meski dukungan publik sangat penting bahkan bisa menentukan siapa yang masuk ke tiga besar, keputusan akhir bergantung juga pada opini panel, yang bisa memilih aspek yang berbeda dari sekadar popularitas.
Aturan Puskas sekarang adalah gabungan voting publik dan penilaian panel. Jadi meskipun dukungan netizen besar membantu, hasil akhir bukan semata-mata soal jumlah klik.
Masuknya Rizky Ridho sangat berharga untuk eksposur sepakbola Indonesia, peluang menang nyata jika dukungan publik diikuti presentasi yang meyakinkan soal konteks dan kualitas gol di mata juri.










