Indonesia U-17 Dihajar Brasil U-17, Ini Kata Nova Arianto, Erick Thohir dan Pemain
Sabtu, 8 November 2025 | 07:00
Penulis: Arif S

Sumber: (Antara/Rauf Adipati
Skuad Indonesia U-17 masih berjuang menjaga asa lolos ke babak 32 besar Piala Dunia U-17 2025 meski belum mengantongi poin dari dua laga di Grup H. Setelah kalah 1-3 dari Zambia dan 0-4 dari Brasil di Aspire Academy, Doha, Garuda Muda kini menatap laga terakhir kontra Honduras pada Senin 10 November 2025.
Pelatih Nova Arianto menilai kekalahan dari Brasil menjadi pelajaran penting bagi timnya, terutama terkait kelemahan dasar permainan para pemain.
“Menurut saya itu memang menjadi salah satu kelemahan dari secara individual pemain, dan itu yang memang harus menjadi catatan besar kami, ya mungkin bukan hanya di timnas U17, di U20 maupun U23, tapi saya lihat itu menjadi salah satu kelemahan dari pemain kita,” ujar Nova.
BACA JUGA
Garuda Muda Tantang Brasil, Nova Arianto Siapkan Strategi Redam Calon Juara Dunia
Indonesia dan 3 Wakil Asia Tersingkir, 4 Tim Lainnya ke Babak 32 Besar Piala Dunia U-17 2025
Indonesia U-17 Hadapi Laga Krusial Lawan Brasil, Nova Arianto Tantang Mental Garuda Muda
Nova menegaskan, pembenahan kemampuan individu menjadi fokus utama agar Indonesia bisa bersaing di level Asia dan dunia.
“Itu yang memang harus menjadi concern kita untuk ke depannya, bagaimana kita mau bersaing di dunia, di Asia, ya kita harus lebih siap lagi dalam masalah individual,” katanya.
Meski peluang lolos tipis, Nova meminta anak asuhnya tetap fokus meraih kemenangan di laga terakhir.
“Jujur saya sampaikan ke pemain, satu game itu memang harus kita perjuangkan, terlepas nanti kita menang, kita lolos atau tidak, tapi saya tidak peduli itu, tapi saya ingin besok kita dapat tiga poin,” tegasnya.
Kekuatan Brasil Masih Jauh di Atas Indonesia
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengakui kekuatan Brasil masih jauh di atas Indonesia, namun tetap memberikan apresiasi terhadap perjuangan tim.
“Ya memang Brasil di atas kita jauh, dan kemarin kita ada kesempatan sama Zambia. Kita kecolongan tiga gol dalam tujuh menit. Di babak kedua kita main lebih bagus, ada banyak kesempatan tapi belum gol,” kata Erick di Doha.
Ia menilai, perbedaan pengalaman bermain menjadi faktor pembeda besar.
“Di Brasil itu mereka satu pemain bisa main 70 game (per tahun) tapi kita belum. Jadi kita harus buat terobosan sepertinya,” tambahnya.
Meski begitu, Erick tetap bangga terhadap pelatih, pemain, dan suporter Indonesia yang menunjukkan sikap sportif selama turnamen.
“Saya barusan mendapat pujian dari teman-teman di Qatar. Fans Indonesia sangat tertib, sangat suportif. Inilah contoh-contoh yang kita lihat, kita dapat apresiasi,” katanya.
Menatap laga kontra Honduras, Erick tetap optimistis timnas bisa meraih hasil positif.
“Artinya kita sama Honduras seimbang, jadi ada kesempatan. Tinggal semoga kita lihat cederanya... mudah-mudahan tidak begitu parah,” harapnya.
Banyak Belajar dari Pertandingan Lawan Brasil
Dari sisi pemain, penyerang Fadly Alberto Hengga mengaku banyak belajar dari pertandingan melawan Brasil.
“Yang bisa kita ambil ya itu adalah perlawanan dari Brasil yang sangat ketat sekali pressing-pressing-nya, tapi kita nggak lepas dari yang kita lakukan latihan waktu sebelum lawan Brasil,” kata Alberto.
Alberto menambahkan seluruh pemain tetap saling mendukung.
“Kami dari babak pertama sampai selesai, kami terus menguatkan sesama tim, meskipun ada yang buat kesalahan, kita bantu terus untuk jangan sampai dia merasa bersalah,” katanya.
Ia optimistis tim masih punya peluang untuk lolos.
“Tadi pelatih ngomong tidak ada yang tidak mungkin juga kan kita lawan Brasil cuma kalah 0-4, sedangkan Honduras 0-7. Nah itu menjadi tantangan kita untuk final besoknya untuk lawan Honduras masih bisa lolos,” harapnya.
Dengan semangat untuk memperbaiki performa dan meraih tiga poin terakhir, Indonesia U-17 siap menjadikan laga melawan Honduras sebagai momentum kebangkitan di Piala Dunia U-17 2025.(Antara)










