Wisata Wastra: Menjelajah Pesona Batik Jabar, Dari Mega Mendung hingga Gumading Priangan
Jumat, 31 Oktober 2025 | 16:00
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/HO-Wastraprema)
Bandung dan Garut kembali menjadi panggung bagi keindahan budaya lokal. Selama dua hari, 29-30 Oktober 2025, warna-warni wastra dan motif batik khas Jawa Barat berpadu dalam kegiatan tahunan bertajuk “Wisata Wastra” yang digelar Himpunan Wastraprema.
Ajang yang diikuti 35 peserta dari berbagai komunitas pecinta wastra ini bukan sekadar perjalanan wisata budaya.
Di balik setiap helai kain, tersimpan sejarah, filosofi, dan semangat untuk melestarikan identitas bangsa.
BACA JUGA
Bandung Zoo Direncanakan Buka Gratis Saat Lebaran
Ramadan Trip: 5 Masjid Estetik di Jawa Barat Cocok untuk Wisata Religi
Generasi Z Dorong Tren Wisata Visual, Destinasi Bekasi Kian Dilirik
Merayakan Ragam Warna dan Sejarah Batik Priangan
Ketua Umum Himpunan Wastraprema Sri Sintasari Iskandar (Neneng Iskandar) mengingatkan, batik Jawa Barat memiliki akar sejarah panjang yang tak kalah menarik dibandingkan daerah lain di Nusantara.
“Masyarakat Priangan sudah mengenal ragam hias batik sejak masa kerajaan. Budaya membatik di Jawa Barat dibawa oleh masyarakat Jawa Tengah di era Kerajaan Mataram,” ujar Sri dalam keterangan tertulis, Kamis.
Dalam paparannya, Sri menjelaskan, setiap daerah memiliki ciri khas batik tersendiri. Batik Cirebon dengan motif Mega Mendung yang legendaris, Batik Indramayu atau Dermayon yang kaya pengaruh Tiongkok, hingga Batik Kuningan dan Batik Ciamis yang menonjolkan motif khas alam Priangan.
“Pesona batik Jawa Barat terletak pada warna cerah dan dinamis yang mencerminkan alam dan budaya lokal. Batik Jawa Barat merupakan karya adi luhung yang tidak kalah indahnya dengan batik dari daerah lain di Indonesia,” katanya.
Gumading Priangan: Cahaya dari Batik Garutan
Dalam sesi bertema “Gumading Priangan: Cahaya dari Batik Garutan,” Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat Komarudin Kudiya mengulas tentang karakter batik Garut yang sederhana namun penuh makna.
“Batik Garutan berpijak pada teknik tutup celup, dengan ragam hias flora dan fauna seperti burung merak yang menjadi ikonnya. Motif merak melambangkan kegembiraan, martabat, dan semangat kemenangan,” katanya.
Kehadiran narasumber sekaligus pelaku budaya batik ini membuat suasana diskusi semakin hidup. Tak hanya berbicara teori, peserta juga diajak memahami filosofi dan keindahan di balik setiap goresan malam di atas kain.
Mengunjungi Perajin, Menyapa Warisan Nusantara
Bagi Wastraprema, kegiatan “Wisata Wastra” bukan sekadar seremoni tahunan. Sri Sintasari menegaskan, perjalanan ini menjadi cara untuk memperluas wawasan dan memberikan edukasi langsung kepada masyarakat tentang kekayaan wastra Nusantara.
“Melalui Wisata Wastra, kami ingin memberikan edukasi langsung dengan mengunjungi para perajin dan melihat proses pembuatan batik di daerah,” katanya.
Selain sesi diskusi, acara ini juga menggandeng UMKM perajin batik dan tenun lokal Jawa Barat. Para peserta bisa langsung berinteraksi, membeli hasil karya, dan menyaksikan bagaimana kreativitas tradisional tetap hidup di tengah modernitas.
“Apresiasi ini merupakan hasil kerja keras semua pihak yang mendukung pengembangan wastra di Jawa Barat. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berjuang memajukan warisan budaya,” tambah Sri.
Batik Sebagai Identitas dan Kebanggaan
Kegiatan “Wisata Wastra” menjadi bukti warisan budaya bukan sekadar peninggalan, melainkan sumber inspirasi dan kebanggaan. Dari Mega Mendung Cirebon hingga Gumading Garutan, setiap motif adalah cerita tentang alam, masyarakat, dan semangat hidup orang Jawa Barat.
Dengan dukungan Yayasan Batik Jawa Barat dan antusiasme para pecinta kain Nusantara, kegiatan ini diharapkan terus berlanjut, menjadikan batik bukan hanya busana, tetapi juga gaya hidup, destinasi wisata, dan simbol kebanggaan Indonesia di mata dunia.(Antara)










