Batu Art Flower Carnival 2025: Wajah Kota Batu Banjir Warna, Bunga dan Budaya
Senin, 27 Oktober 2025 | 12:00
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Ananto Pradana
Kota Batu kembali menyapa wisatawan dengan kemeriahan yang penuh warna. Minggu pagi itu, sepanjang Jalan Panglima Sudirman berubah menjadi lautan bunga dan kain tradisional dalam Batu Art Flower Carnival 2025. Kostum berhiaskan bunga hias, musik tradisional yang menggema, hingga senyum para penari menjadi perpaduan harmoni antara alam dan budaya Kota Batu.
Mengusung tema “Pesona Harmoni Alam dan Budaya Kota Batu Sae”, karnaval ini menjadi cara kreatif Pemerintah Kota Batu memperkenalkan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki daerah berhawa sejuk di kaki Gunung Panderman itu.
“Tentang potensi alam dan budaya khas dari setiap wilayah di Kota Batu, kami perkenalkan melalui acara ini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardiansyah, di Kota Batu, Jawa Timur.
BACA JUGA
Mengenal Tradisi Labuhan Sarangan yang Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Kampung Kayutangan, Magnet Wisata Kota Malang Bantu Capai Target 3,4 Juta Kunjungan
Rahasia Telaga Sarangan Jadi Magnet Wisata Jawa Timur Sepanjang 2025
Perayaan Ulang Tahun Kota Batu Penuh Makna
Digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-24 Kota Batu, karnaval ini bukan sekadar pesta bunga tetapi simbol semangat warga untuk terus mengembangkan potensi wisata lokal.
Pemerintah menargetkan jumlah kunjungan wisata pada tahun 2025 mencapai 11,5 juta wisatawan, meningkat dari realisasi 10,8 juta di tahun sebelumnya.
Dengan target ambisius itu, Batu Art Flower Carnival menjadi magnet baru yang memikat hati pengunjung.
Deretan bunga hias dan kreasi busana kontingen menjadi pemandangan yang tak kalah indah dari taman-taman wisata yang tersebar di kota ini.
“Penyelenggaraan event dalam rangkaian Hari Ulang Tahun ke-24 Kota Batu itu diharapkan meningkatkan daya tarik dan sebagai sarana mempromosikan pariwisata di wilayah setempat,” kata Onny.
Kreativitas Tanpa Batas dari 67 Kontingen
Tahun ini, sebanyak 67 kontingen ikut memeriahkan acara. Mereka berasal dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah desa, kelurahan, hingga instansi swasta.
Bahkan tamu dari luar daerah seperti Kota Malang, Kabupaten Sumenep, dan Kota Pasuruan turut hadir menyaksikan pesta warna ini.
“Setiap kontingen mampu menyuguhkan kreativitas beragam pada kostum yang digunakan, yakni dengan memadukan pakaian tradisional dengan balutan hiasan bunga hias berwarna-warni,” kata Onny.
Bunga hias memang menjadi ikon utama Kota Batu. Dari kebun-kebun bunga yang membentang di lereng gunung, lahirlah inspirasi bagi para desainer lokal untuk menciptakan busana spektakuler.
Tak hanya visual, tiap langkah peserta juga diiringi dengan **pertunjukan kesenian tradisional, membuat suasana karnaval semakin hidup dan berwarna.
“Harapannya yang itu tadi bisa semakin menambah dan meningkatkan kreativitas dari teman-teman pelaku budaya dan seni,” tambah Onny.
Dari Karnaval Menuju Penghargaan Pariwisata
Setiap karya terbaik dalam karnaval ini akan mendapatkan apresiasi melalui ajang **Batu Tourism Award.
“Setiap kreativitas para kontingen dinilai oleh juri dan nantinya pemenang akan diumumkan saat Batu Tourism Award. Penilainya hanya empat juara, satu, dua, tiga, dan empat,” pungkasnya.
Lebih dari sekadar kompetisi, Batu Art Flower Carnival adalah cermin dari semangat warga kota menjaga harmoni antara alam dan budaya.
Bunga-bunga yang mekar di kota ini bukan hanya keindahan semata, tapi simbol kreativitas yang terus tumbuh bersama masyarakatnya.
wisatawan yang datang ke Batu, karnaval ini menjadi suguhan yang menegaskan satu hal bahwa Kota Batu tak pernah kehabisan pesona. Dari taman bunga hingga wisata alam dan budaya, semuanya berpadu dalam nuansa yang ramah dan penuh warna.(Antara)










