Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026, Anton Sanjoyo Minta John Herdman Tetap Dipertahankan
Sabtu, 8 Agustus 2026 | 18:00
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Facebook
Kegagalan Timnas Indonesia melaju ke semifinal Piala AFF 2026 dinilai belum menjadi alasan untuk mengubah arah pembangunan skuad. Pengamat sepak bola nasional Anton Sanjoyo justru melihat hasil tersebut sebagai bagian dari proses menuju target yang lebih besar, yakni Piala Asia 2027.
Menurut Anton, Piala AFF seharusnya tidak menjadi satu-satunya tolak ukur keberhasilan Timnas Indonesia di bawah asuhan John Herdman. Fokus utama skuad Garuda, kata dia, harus diarahkan pada persaingan di level Asia.
"Sejak John Herdman menangani tim pada Januari 2026, saya selalu menekankan bahwa tolak ukur utama adalah Piala Asia, bukan Piala AFF," kata Anton Sanjoyo dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026.
BACA JUGA
Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026, Erick Thohir Pastikan Timnas Indonesia Dievaluasi
Indonesia Gagal Lolos Semifinal ASEAN Championship 2026 Usai Diimbangi Singapura
Hasil Indonesia vs Vietnam: Garuda Takluk 0-3, Nasib Ditentukan di Laga Terakhir
Indonesia dipastikan gagal melanjutkan perjalanan di Piala AFF 2026 setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, Singapura, Jumat, 7 Agustus 2026.
Hasil tersebut membuat skuad Garuda tidak mampu menembus fase semifinal. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah kemampuan pemain pelapis ketika menghadapi lawan di kawasan Asia Tenggara.
Menurut Anton, kegagalan membongkar pertahanan Singapura menjadi sinyal bahwa kedalaman skuad Indonesia masih perlu diperkuat. Pemain pelapis dinilai belum sepenuhnya mampu memberikan persaingan ketika mendapatkan kesempatan tampil.
John Herdman Diminta Tetap Bertahan
Anton juga meminta suporter tidak melihat kegagalan Timnas Indonesia secara sempit. Ia menilai perjalanan menuju Piala Asia membutuhkan proses yang lebih panjang, terutama karena level persaingannya jauh lebih tinggi dibandingkan kompetisi ASEAN.
Menghadapi tim seperti Jepang, Korea Selatan, maupun Australia, Indonesia membutuhkan peningkatan signifikan dari sisi kualitas individu pemain dan strategi permainan.
Karena itu, Anton merekomendasikan agar PSSI tidak mengambil keputusan terburu-buru dengan mengganti John Herdman. Menurutnya, pergantian pelatih justru berpotensi mengganggu fondasi yang sedang dibangun.
"Proses itu masih berjalan, dan pergantian pelatih hanya akan merusak fondasi yang sedang dibangun," katanya.
Meski meminta Herdman dipertahankan, Anton menegaskan bahwa pelatih asal Inggris tersebut tetap harus melakukan evaluasi besar-besaran. Herdman dinilai tidak boleh merasa aman setelah kegagalan di Piala AFF 2026.
Ia perlu menemukan formula permainan yang paling sesuai dengan karakter serta kualitas pemain yang tersedia. Salah satu aspek yang disorot adalah penggunaan formasi tiga bek.
Skema 3-4-3, menurut Anton, harus kembali dikaji apabila kualitas bek tengah yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan permainan. Evaluasi tersebut penting agar sistem yang digunakan benar-benar sesuai dengan kekuatan skuad Indonesia.
Komunikasi dengan Klub Jadi Kunci
Selain persoalan taktik, Anton menilai Herdman perlu membangun komunikasi yang lebih intens dengan para pelatih di kompetisi domestik.
Pelatih-pelatih yang bekerja di Liga Super dan Divisi Satu dinilai memiliki informasi penting mengenai perkembangan pemain lokal. Kolaborasi tersebut dapat membantu Herdman menemukan pemain yang sesuai dengan kebutuhan Timnas Indonesia.
Dengan waktu menuju Piala Asia 2027 yang semakin terbatas, Herdman dituntut segera menunjukkan hasil dari proses pembangunan skuad yang sudah berjalan sejak awal tahun.
"Herdman dibayar mahal untuk membawa timnas bersaing di level elite Asia. Waktu menuju Piala Asia semakin sempit. Sekarang saatnya bagi Herdman untuk membuktikan kapasitasnya dalam meramu strategi dan memaksimalkan potensi pemain Indonesia," katanya.
Kegagalan di Piala AFF 2026 dengan demikian diharapkan tidak menjadi titik akhir bagi proyek Herdman. Sebaliknya, hasil tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kedalaman skuad, strategi, serta kesiapan Timnas Indonesia sebelum menghadapi tantangan yang lebih berat di Piala Asia 2027.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!