ID EN

Hiu Paus Jadi Andalan Pulau Miang, Daya Tarik Ekowisata Baru Kaltim

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:00

Penulis: Arif S

Wisatawan berenang bersama hiu paus
Wisatawan berenang bersama hiu paus di perairan Pulau Miang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Sumber: Pokdarwis Pulau Miang

Kalimantan Timur mengembangkan destinasi wisata bahari yang memadukan keindahan alam dengan upaya pelestarian lingkungan. Kemunculan hiu paus di perairan Pulau Miang, Kabupaten Kutai Timur dioptimalkan sebagai daya tarik utama ekowisata.

Tak sekadar menawarkan pengalaman menyelam bersama ikan terbesar di dunia, pengembangan wisata di Pulau Miang juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem laut.

Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur Muhammad Faisal mengatakan, kemunculan hiu paus telah menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata bahari dengan pengalaman berbeda.

"Kehadiran mamalia laut yang ramah terhadap manusia ini telah menjadi magnet pariwisata di Pulau Miang, Kutai Timur," ujar Faisal di Samarinda.

Pemerintah ingin memastikan meningkatnya jumlah wisatawan tidak mengganggu habitat alami hiu paus maupun kekayaan bawah laut yang selama ini menjadi daya tarik Pulau Miang.

Sebagai langkah awal, pemerintah melakukan pemetaan untuk mengetahui pola kemunculan hiu paus di kawasan perairan tersebut. Data itu nantinya menjadi dasar dalam mengatur jadwal kunjungan wisatawan agar aktivitas penyelaman berlangsung lebih aman dan tertata.

"Pemetaan titik lokasi dan waktu kemunculan sangat krusial agar jadwal kunjungan penyelaman wisatawan dapat diatur secara terstruktur serta terjamin keamanannya," kata Faisal.

Hasil observasi bersama kelompok sadar wisata setempat menunjukkan terdapat sekitar empat ekor hiu paus terlihat di sekitar Pulau Miang. Kehadiran satwa itu semakin melengkapi pesona kawasan yang dikenal memiliki terumbu karang dengan keanekaragaman hayati memukau.

Pemerintah juga tengah menyusun standar operasional prosedur (SOP) untuk mengatur interaksi wisatawan dengan hiu paus. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan antara pariwisata dan konservasi, 

"Kami terus merancang standar operasional prosedur yang tegas guna memastikan seluruh bentuk interaksi wisatawan sama sekali tidak mengganggu habitat alami satwa tersebut," katanya.

Penyusunan SOP dilakukan dengan konsultasi bersama pemerintah daerah dan para ahli kelautan agar seluruh aktivitas wisata tetap mengutamakan keselamatan satwa maupun pengunjung.

Di sisi lain, pengembangan ekowisata ini juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Warga pesisir didorong menjadi pelaku utama melalui penyediaan jasa wisata, mulai dari pemandu lokal hingga pengelolaan penginapan berbasis rumah tinggal (homestay).

"Pemberdayaan masyarakat pesisir sebagai pelaku utama penyedia jasa wisata ini menjadi kunci penting bagi terwujudnya kemandirian perekonomian desa secara berkelanjutan," pungkasnya.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!