Sentul, Bogor – Menentukan sebelas pemain terbaik Piala Dunia ternyata tidak sesederhana memilih para pencetak gol terbanyak atau pemain paling populer.
Di balik sebuah Team of the Tournament, terdapat metodologi yang berbeda-beda. Itulah sebabnya susunan pemain pilihan satu media bisa berbeda dengan media lain, meski mereka menyaksikan turnamen yang sama.
Salah satu pendekatan paling komprehensif datang dari Opta Analyst.
BACA JUGA
Banyak Jalan ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Siapa Lolos, Siapa Tergelincir?
Bedah Taktik Inggris vs Argentina: Mengapa Spanyol Mampu Menjinakkan Prancis
Piala Dunia 2026: TRIONDA FINAL Jadi Bola Resmi Semifinal, Tiga Tuan Rumah Gugur
Setelah Piala Dunia 2026 berakhir, perusahaan analisis sepak bola itu merilis FIFA World Cup Team of the Tournament 2026 – Opta Analyst's Picks, yang disusun berdasarkan keseluruhan pertandingan sejak fase grup hingga final.
Berbeda dengan penilaian konvensional, Opta tidak hanya melihat jumlah gol atau assist, tetapi menganalisis ribuan event data yang terekam sepanjang turnamen, mulai dari kualitas peluang (expected goals/xG), progresi bola, distribusi umpan, duel, tekanan terhadap lawan, hingga kontribusi bertahan.
Dari proses itu lahirlah sebelas pemain pilihan Opta, yakni Gregor Kobel di bawah mistar, Pedro Porro, Pau Cubarsí, Lisandro Martínez, dan Marc Cucurella di lini belakang.
Rodri dan Jude Bellingham mengisi lini tengah, dengan Lionel Messi sebagai playmaker di belakang trio penyerang Kylian Mbappé, Erling Haaland, dan Leandro Trossard.
Namun, pendekatan berbasis data bukan satu-satunya cara memilih pemain terbaik.
ESPN FC menggabungkan statistik dengan konteks pertandingan. Seberapa besar pengaruh seorang pemain dalam laga-laga penting dan kontribusinya terhadap perjalanan tim ikut menjadi bahan pertimbangan.
Sementara The Athletic lebih menitikberatkan pada keseimbangan taktik, yakni apakah sebelas pemain yang dipilih benar-benar dapat membentuk sebuah tim yang utuh.
Media Inggris seperti talkSPORT bahkan menunjukkan bahwa ruang interpretasi tetap terbuka. Dua pundit mereka menghasilkan Team of the Tournament yang tidak sepenuhnya sama.
Ada yang memilih Harry Kane sebagai penyerang, ada pula yang lebih mengutamakan Erling Haaland. Perbedaan juga muncul di sejumlah posisi lain.
Perbedaan metodologi itulah yang membuat tidak pernah ada satu starting eleven yang benar-benar disepakati semua pihak. Statistik bisa menghasilkan satu jawaban, analisis taktik melahirkan jawaban lain, sementara pengalaman dan sudut pandang pengamat menghadirkan perspektif yang berbeda.
Perdebatan itulah yang menjadi tema Podcast ITSMe edisi khusus Piala Dunia 2026.
Dipandu Gilang Respaty dan Yatna dari Studio ITSMe di Sentul, Bogor, podcast ini menghadirkan dua pengamat sepak bola nasional, Ronny Pangemanan dan Kesit Budi Handoyo, yang sama-sama mengikuti seluruh perjalanan turnamen, tetapi memiliki cara pandang berbeda dalam menyusun starting eleven ideal.
Apakah pilihan mereka akan sejalan dengan pendekatan statistik ala Opta, lebih dekat dengan perspektif editorial media internasional, atau justru menghadirkan susunan yang sama sekali berbeda? Jawabannya menjadi inti diskusi dalam Podcast ITSMe.










