ID EN

Piala Dunia 2026: Jepang dan Maroko Unjuk Kelas, Belgia dan Uruguay Belum Menemukan Ritme

Selasa, 23 Juni 2026 | 10:40

Penulis: Rojes Saragih

Sentul, Bogor – Peta persaingan Piala Dunia 2026 mulai terlihat setelah sebagian besar peserta menyelesaikan dua pertandingan fase grup. Menariknya, sorotan tidak hanya tertuju kepada negara-negara unggulan yang sejak awal dijagokan, tetapi juga kepada tim-tim yang tampil melampaui ekspektasi.

Perkembangan terbaru turnamen menjadi salah satu topik utama dalam podcast analisis Piala Dunia ITSMe yang dipandu Gilang Respaty dan Yatna dari Studio ITSMe, Sentul, Bogor. Bersama pengamat sepak bola Ronny Pangemanan dan Haris Pardede atau Bung Harpa, diskusi menyoroti tim-tim yang tampil di atas perkiraan sekaligus negara-negara besar yang masih berusaha menemukan konsistensi menjelang fase gugur.

Jepang menjadi salah satu tim yang paling mengesankan sejauh ini. Samurai Biru membuka turnamen dengan hasil imbang 2-2 melawan Belanda sebelum menghancurkan Tunisia 4-0. Kemenangan tersebut diraih meski tanpa Takefusa Kubo yang mengalami cedera.

Absennya Kubo justru menunjukkan kedalaman skuad Jepang. Ayase Ueda mencetak dua gol ke gawang Tunisia, sementara Daichi Kamada dan Junya Ito turut menyumbang gol. Tim asuhan Hajime Moriyasu kembali memperlihatkan ciri khas mereka, yakni organisasi permainan yang rapi, disiplin tinggi, dan kemampuan menjaga kualitas permainan meski melakukan perubahan pemain.

Belanda juga menunjukkan respons positif setelah ditahan Jepang pada laga pertama. Oranje bangkit dengan kemenangan telak 5-1 atas Swedia. Menurut para narasumber, Swedia tampil terlalu terbuka sehingga memberi ruang bagi Belanda untuk mengembangkan permainan dan memaksimalkan kualitas lini serang mereka.

Di Grup C, Maroko kembali membuktikan bahwa pencapaian sebagai semifinalis Piala Dunia 2022 bukanlah kebetulan. Singa Atlas membuka turnamen dengan menahan Brasil 1-1 sebelum mengalahkan Skotlandia 1-0. Kekuatan utama mereka tetap sama, yakni pertahanan yang solid, disiplin taktik, dan kemampuan melakukan transisi cepat saat menyerang.

Brasil memang bangkit dengan kemenangan 3-0 atas Haiti, tetapi permainan tim asuhan Carlo Ancelotti dinilai belum sepenuhnya menghilangkan keraguan mengenai kapasitas mereka sebagai kandidat juara. Laga terakhir fase grup tetap penting untuk menentukan posisi mereka di klasemen.

Sementara itu, Meksiko menjadi salah satu tim pertama yang memastikan tiket ke fase gugur. Sebagai tuan rumah, El Tri tampil efektif dan mampu mengatasi tekanan ekspektasi tinggi publik. Korea Selatan yang kalah tipis masih dinilai memiliki peluang besar untuk lolos mendampingi Meksiko.

Sebaliknya, Turki menjadi salah satu kekecewaan terbesar turnamen. Dua kekalahan beruntun dari Australia dan Paraguay membuat mereka tersingkir lebih awal, padahal sebelum turnamen dimulai sempat disebut sebagai kandidat kuda hitam. Australia sendiri mendapat pujian karena disiplin menjalankan strategi bertahan dan efektif memanfaatkan serangan balik.

Kejutan lain datang dari Tanjung Verde. Tim asal Afrika itu berhasil menahan imbang Spanyol dan Uruguay, dua tim yang secara kualitas berada di atas mereka. Hasil tersebut menjadikan Tanjung Verde sebagai salah satu kisah paling inspiratif di fase grup dan membuktikan bahwa semangat kolektif masih mampu menandingi perbedaan kualitas individu.

Di sisi lain, Uruguay masih menjadi tanda tanya. Setelah bermain imbang melawan Arab Saudi dan Tanjung Verde, mereka menghadapi tekanan besar menjelang laga melawan Spanyol. Menurut Ronny Pangemanan dan Bung Harpa, Uruguay belum mampu menerjemahkan kualitas individu para pemainnya menjadi performa kolektif yang konsisten.

Situasi serupa juga dialami Belgia. Generasi baru Belgia belum mampu menampilkan performa sebaik era emas mereka beberapa tahun lalu. Belgia hanya mampu bermain imbang melawan Mesir dan Iran sehingga posisi mereka masih jauh dari kata aman.

Mesir justru mencuri perhatian setelah mencatat kemenangan pertama dalam sejarah penampilan mereka di putaran final Piala Dunia. Tim berjuluk Pharaohs itu bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Selandia Baru 3-1 dan menjaga Peluang Lolos ke fase gugur.

Sementara itu, Iran mendapat apresiasi dari para narasumber karena menunjukkan ketangguhan mental dan daya saing tinggi di tengah berbagai tantangan yang mengiringi perjalanan mereka menuju Piala Dunia 2026. Hasil imbang melawan Belgia memperlihatkan bahwa Iran tetap mampu bersaing dengan tim-tim yang secara tradisional lebih diunggulkan.

Menurut Ronny Pangemanan dan Bung Harpa, dua pertandingan pertama fase grup menunjukkan bahwa jarak kualitas antarnegara semakin tipis. Jepang dan Maroko menjadi contoh bagaimana organisasi permainan, disiplin taktik, dan kekuatan kolektif mampu bersaing bahkan melampaui tim-tim yang dihuni pemain dengan reputasi lebih besar.

Dengan satu pertandingan grup tersisa, persaingan menuju fase gugur masih terbuka. Namun hingga saat ini, Jepang dan Maroko layak disebut sebagai dua tim yang paling banyak mencuri perhatian, sementara Belgia, Uruguay, dan sejumlah kekuatan tradisional lainnya masih harus membuktikan diri sebelum memasuki fase penentuan Piala Dunia 2026.