AirCab Siap Mengudara, Wisata China Masuki Era Baru Wisata Premium
Kamis, 11 Juni 2026 | 15:28
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/X-GAC_Motor
Industri Pariwisata China bersiap memasuki babak baru setelah Guangzhou Automobile Group (GAC) resmi memulai produksi pesawat electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) bernama AirCab. Kehadiran kendaraan udara futuristis ini diproyeksikan membuka pengalaman wisata berbeda, terutama untuk layanan Wisata Udara.
Selama ini GAC dikenal sebagai salah satu raksasa otomotif China. Namun perusahaan tersebut kini memperluas bisnisnya ke sektor mobilitas udara melalui merek Govy dengan menghadirkan AirCab, sebuah Taksi Terbang komersial.
Langkah ini menjadi sinyal, sektor Pariwisata dan teknologi semakin terhubung. Wisatawan di masa depan berpotensi menikmati Perjalanan Udara jarak pendek dengan pemandangan spektakuler tanpa harus menggunakan helikopter konvensional.
BACA JUGA
Smart Tourism: Teknologi Eksoskeleton Bantu Wisatawan Taklukkan Gunung
Dari Infrastruktur ke Wisata Ekstrem, Jembatan Tertinggi Dunia Ada di China
Salju Ubah Tembok Besar China Jadi Arena Seluncur, Otoritas Keluarkan Peringatan
Produksi AirCab pada tahap awal dibatasi sekitar 100 unit per tahun. Meski jumlahnya belum besar, kehadirannya dinilai cukup untuk menguji pasar Wisata Premium yang terus berkembang di China.
Pesawat ini telah memperoleh seluruh sertifikasi yang dibutuhkan untuk beroperasi secara komersial dan telah melewati program uji tabrak penuh.
Secara desain, AirCab menggunakan material komposit serat karbon. Struktur pesawat dilengkapi enam lengan memanjang dari kabin, dengan masing-masing lengan membawa sepasang baling-baling untuk menghasilkan daya angkat saat lepas landas maupun mendarat secara vertikal.
Meski spesifikasi lengkapnya belum diumumkan, GAC sebelumnya menyebut AirCab menggunakan baterai silinder berdensitas tinggi yang terisi penuh hanya dalam waktu sekitar 25 menit. Teknologi ini menjadi salah satu keunggulan untuk mendukung operasional wisata udara dengan frekuensi tinggi.
Jarak tempuh pesawat memang belum dipublikasikan secara rinci. Namun, AirCab diperkirakan lebih cocok digunakan untuk penerbangan wisata jarak pendek.
Berbeda dengan sejumlah perusahaan lain yang mengembangkan eVTOL untuk transportasi massal, GAC memilih focus lebih spesifik. Perusahaan melihat sektor pariwisata sebagai pasar awal paling potensial bagi AirCab.
Untuk saat ini, perusahaan memperkirakan pesawat tersebut akan digunakan operator pariwisata yang menawarkan layanan wisata udara. Strategi tersebut dianggap lebih realistis karena wisatawan cenderung tertarik mencoba pengalaman baru yang memadukan teknologi dan rekreasi.
GAC telah melakukan sejumlah penerbangan demonstrasi pada tahun lalu di Kawasan Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Makau. Uji coba tersebut memberikan gambaran bagaimana AirCab dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan perspektif baru dalam menikmati Destinasi Wisata dari udara.
Salah satu fitur paling revolusioner dari AirCab adalah kemampuan penerbangan otonom Level 4. Teknologi ini memungkinkan pesawat melakukan penerbangan dan navigasi secara mandiri tanpa membutuhkan pilot di dalam kabin.
Kemampuan tersebut diyakini dapat membantu mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi layanan wisata udara pada masa mendatang. Meski demikian, aspek keselamatan tetap menjadi faktor utama sehingga akan terus diawasi regulator penerbangan.
Dari sisi harga, AirCab memang menyasar pasar premium. Taksi Terbang ini dibanderol mulai 1,68 juta yuan atau sekitar Rp4,5 miliar per unit. Dengan nilai investasi sebesar itu, layanan wisata yang menggunakan AirCab diperkirakan akan menawarkan tarif eksklusif bagi wisatawan.
Kehadiran AirCab menunjukkan masa depan pariwisata tidak hanya berbicara tentang destinasi baru, tetapi juga cara baru untuk menikmati perjalanan.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!