ID EN

Viral! Camp Château Khusus Perempuan Eksklusif di Prancis, Serasa Liburan di Negeri Dongeng

Rabu, 15 Oktober 2025 | 07:14

Penulis: Respaty Gilang

Château
Château tempat liburan khusus perempuan di Perancis yang viral di media sosial.
Sumber: campchateau.com

Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak konten kreator Allison Wolf mengunggah reel tentang pengalamannya di Camp Château, dua perempuan asal Amerika Kimberly Green dan Lindsey Zurn, langsung memesan tempat untuk musim panas tahun ini di kamp eksklusif khusus perempuan di Prancis bagian selatan.

Unggahan Wolf yang kini sudah ditonton lebih dari 24 juta kali itu benar-benar menciptakan imajinasi khas negeri dongeng. Ia memperlihatkan suasana liburan yang tenang dan manis, hari-hari dihabiskan berkeliling kastel abad pertengahan dengan gaun melayang, segelas rosé tea yang tak pernah habis, dan pemandangan rusa yang sedang merumput di pagi hari. Aktivitasnya pun beragam, dari menunggang kuda, kayaking, yoga, hingga membuat selai rumahan.

“Saya tinggal di kamp musim panas khusus perempuan di sebuah château di pedesaan Prancis, dan ya, tempatnya seindah dan semagis kedengarannya,” kata Wolf dalam reel-nya. 

Ia menyebut pengalaman itu sebagai perjalanan paling santai dan menenangkan yang pernah saya alami.

Bagi Kimberly Green, seorang direktur seni berusia 31 tahun asal New York, unggahan itu seperti panggilan alam.

“Begitu melihat reel Allison, saya tahu kamp itu bakal viral. Jadi saya langsung pesan, nggak sampai 30 menit,” ujarnya seperti dilansir dari Travel + Leisure.

Temannya, Lindsey Zurn, juga memesan di hari yang sama. Ia mengaku ingin menikmati liburan yang berbeda dari biasanya, bukan sekadar bersantai, tetapi juga disconnect dari rutinitas, belajar bahasa Prancis, memasak, berkreasi dengan seni, dan hidup di tengah alam pedesaan Prancis.

Hanya lima hari setelah video itu tayang, seluruh kuota Camp Château untuk tahun 2025 resmi terjual habis. Tahun sebelumnya, daftar tunggu kamp ini mencapai lebih dari 10.000 perempuan. Ketika pendaftaran untuk musim 2026 dibuka, 900 tempat ludes hanya dalam tujuh menit.

Kamp Impian yang Terlahir dari Keisengan

CEO Camp Château, Philippa Girling, tak menyangka tempat yang ia bangun bisa sepopuler itu. Perempuan asal Inggris yang sudah tiga dekade tinggal di Amerika Serikat itu awalnya jatuh cinta pada kastel tua di desa Béduer, wilayah Lembah Lot, sebuah kawasan cantik yang masih jarang dijamah turis.

“Kami sebenarnya tidak butuh château, tapi merasa perempuan membutuhkannya,” kata Girling. 

“Dari situ, ide tentang kamp musim panas khusus perempuan pun lahir, tempat di mana mereka bisa datang ke Prancis, menikmati keindahan, dan menjadi diri sendiri.”

Bersama putrinya Leah Lykins dan sahabatnya Lynda Coleman, Girling merancang konsep yang sederhana tapi kuat, suasana magis yang jauh dari rutinitas, aktivitas bebas pilih, dan ruang aman tanpa penilaian untuk perempuan dari berbagai usia dan latar belakang.

“Misi kami adalah menciptakan ruang yang tenang dan menyenangkan, di mana perempuan bisa melepas semua topeng yang mereka kenakan setiap hari, bukan untuk memperbaiki diri, tapi karena mereka sudah luar biasa apa adanya,” jelas Girling.

Setiap sesi kamp diikuti maksimal 50 orang. Peserta bisa menginap di kamar bergaya bunk bed di dalam château atau tenda glamping di halaman. Tahun 2026, Camp Château juga berencana membuka lokasi kedua di wilayah Ariège, barat daya Prancis, untuk menampung daftar tunggu yang terus membludak.

Lebih dari Sekadar Liburan

Pesertanya beragam, mulai dari perempuan usia 20-an hingga 70-an, datang sendiri, bersama teman, bahkan ibu dan anak. Sekitar 80 persen peserta berasal dari Amerika Utara.

“Kami sering melihat perempuan muda mendengarkan kisah penuh kebijaksanaan dari peserta yang lebih tua, dan sebaliknya, perempuan yang lebih tua ikut terinspirasi oleh semangat generasi muda,” kata Girling.

Ia menambahkan, suasana saling menghargai dan empati terasa kental di kamp itu.

“Ketika kamu mengumpulkan 50 perempuan, memberi tahu mereka bahwa mereka sudah cukup dan pantas beristirahat, mereka akan menjadi versi terbaik dari diri mereka,” ujarnya.

Kesuksesan Camp Château memicu tren baru, kamp musim panas eksklusif untuk perempuan di seluruh Prancis. Salah satunya adalah Château du Tremblay, sekitar tiga jam dari Paris, milik keluarga Louis d’Armaillé sejak abad ke-14. Bersama pasangannya, Lua Andersen, mereka akan membuka kamp perempuan pertama mereka tahun ini.

“Kami akan mengadakan banyak kegiatan kreatif—kelas melukis, memasak, belajar bahasa Prancis, hingga membuat kerajinan seperti bingkai foto dan jepit rambut yang bisa dibawa pulang,” kata Andersen.

Karena keluarga Andersen juga memiliki kebun anggur, sesi wine tasting dan tur kebun menjadi bagian dari agenda.

Sementara itu, di Provence yang terkenal dengan ladang lavendanya, Camp Joli tengah bersiap untuk musim keduanya di sebuah château aristokrat dekat Cassis, pesisir Mediterania.

Salah satu peserta pertamanya, Meagan Rose, datang bersama kelompok konten kreator.

“Saya nggak tahu apa yang akan saya alami, hanya tahu saya akan tinggal di kastel yang indah. Tapi ternyata pengalaman ini benar-benar mengubah hidup saya,” katanya.

Setiap hari, peserta bebas memilih aktivitas, dari menunggang kuda, membuat roti, menjelajah desa, sampai belajar melukis watercolor. Tapi bagi Meagan, hal terbaik justru pertemanan yang terjalin.

“Saya yakin telah menemukan sahabat seumur hidup lewat pengalaman ini. Kami masih sering berhubungan sampai sekarang,” ujarnya.

Harga Sebanding dengan Pengalaman

Meski eksklusif, biaya kamp ini relatif terjangkau untuk ukuran pengalaman yang ditawarkan.

Camp Château 2026: €2.400 (sekitar Rp45 juta) untuk enam hari lima malam, termasuk akomodasi, makan, minuman, camilan, tiga kegiatan pilihan per hari, dan dua wisata tambahan.

Camp Joli: mulai €1.999 (sekitar Rp37 juta), sudah termasuk koki pribadi.

Château du Tremblay: €1.950 (sekitar Rp36 juta) untuk lima malam, mencakup semua fasilitas dan aktivitas.

Pengalaman yang menggabungkan suasana klasik Prancis, seni, dan kehangatan komunitas perempuan ini tampaknya menjadi resep sukses baru bagi tren travel retreat masa kini, di mana liburan bukan sekadar melarikan diri, tapi juga cara untuk reconnect dengan diri sendiri dan sesama.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!