ID EN

Nasib Bandung Zoo, 700 Satwa Menunggu Kepastian di Balik Pagar Tertutup

Senin, 13 Oktober 2025 | 09:24

Penulis: Respaty Gilang

Bandung Zoo
Suasana di Bandung Zoo setelah ditutup sejak 6 Agustus 2025.
Sumber: Antaranews

Penutupan Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) sejak 6 Agustus 2025 masih menyisakan tanda tanya besar. Di balik pagar tertutup dan area yang sepi dari pengunjung, ratusan satwa kini menunggu kepastian nasib mereka.

Ketua Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT), John Sumampauw, meminta Wali Kota Bandung Muhammad Farhan untuk segera memberi kejelasan mengenai masa depan kebun binatang legendaris ini.

“Ya, secepatnya beri ketegasan apakah mau lanjut sebagai kebun binatang atau tidak. Segera beri kepastian untuk arah kebijakan ini mau ke mana,” kata John di Bandung, Minggu, 11 Oktober 2025.

Menurutnya, penutupan yang sudah berlangsung lebih dari dua bulan ini berdampak besar terhadap kelangsungan hidup lebih dari 700 satwa dan kegiatan operasional harian kebun binatang.

“Satwa-satwa ini juga kan sekarang dijaga tanpa kepastian siapa yang bertanggung jawab atas apa. Sekarang ini serabutan, dan hal seperti ini bisa memicu bentrokan di kemudian hari,” ujarnya.

Dampak Penutupan dari Satwa, UMKM, hingga Pengelola

Selain soal satwa, penutupan Bandung Zoo juga menimbulkan kerugian ekonomi bagi banyak pihak. Beberapa mitra kerja sama seperti penyedia tiket daring, operator mobil listrik wisata, hingga belasan kios UMKM yang berjualan di dalam area kebun binatang ikut terdampak.

“Pasti banyak kerugian. Karena kita punya beberapa kontrak dengan pihak lain. Seperti mobil listrik, itu juga bukan kita beli, tapi kerja sama. Ada juga beberapa restoran di dalam, yang tentunya juga terdampak,” kata John.

Bagi warga Bandung dan wisatawan yang gemar liburan alam atau jalan-jalan keluarga, penutupan ini tentu jadi kabar yang disayangkan. Bandung Zoo bukan hanya tempat rekreasi, tapi juga ruang edukasi tentang satwa dan konservasi lingkungan yang punya nilai sejarah tersendiri di kota kembang.

John berharap agar Pemerintah Kota Bandung segera mengambil langkah konkret untuk membuka kembali kebun binatang ini demi menyelamatkan satwa dan menjaga keberlangsungan para pekerja yang menggantungkan hidup di sana.

“Kalau sampai ada satwa yang mati, siapa yang bertanggung jawab? Apalagi ada beberapa satwa yang berupa pinjaman atau titipan,” tegasnya.

Permasalahan Bukan Karena Konflik Internal

John juga meluruskan anggapan publik bahwa permasalahan Bandung Zoo disebabkan oleh konflik internal di tubuh yayasan. Menurutnya, persoalan sebenarnya muncul karena adanya oknum-oknum yang tidak patuh pada hukum dan aturan administrasi pemerintah daerah.

“Bukan konflik yang sebenarnya terjadi, melainkan ada oknum-oknum dalam yayasan yang terus menerus melawan penegakan hukum dan menghalangi jalannya administrasi yang sah,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Yayasan Margasatwa Tamansari tetap berkomitmen mematuhi semua peraturan dan siap bekerja sama dengan Pemkot Bandung serta Kementerian Kehutanan untuk memastikan pengelolaan kebun binatang berjalan sesuai hukum dan transparan.

“Kami berupaya menjalankan operasional Bandung Zoo dengan transparan dan sesuai koridor hukum, dengan tujuan memaksimalkan fungsi kebun binatang sebagai ruang edukasi, konservasi, dan rekreasi yang dapat dibanggakan masyarakat,” kata John.

Bandung Zoo: Ikon Wisata yang Perlu Diselamatkan

Bagi banyak traveler muda, Bandung Zoo bukan sekadar tempat melihat hewan. Tempat ini adalah ruang hijau bersejarah di tengah kota yang menyatukan edukasi, hiburan, dan nostalgia. Dari anak-anak sekolah yang belajar mengenal fauna, hingga wisatawan luar kota yang datang untuk mencari udara segar, kebun binatang ini punya tempat tersendiri di hati banyak orang.

Dengan statusnya yang belum jelas, harapan besar kini tertuju pada pemerintah dan para pihak terkait agar Bandung Zoo bisa segera hidup kembali lebih tertata, lebih ramah lingkungan, dan tetap menjadi ikon wisata keluarga dan edukasi satwa di Bandung. (Antara)