Mahashivaratri 2026 di Candi Prambanan: Dari Warisan Dunia ke Destinasi Wisata Spiritual Global
Jumat, 27 Februari 2026 | 11:30
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/HO-IDM
Ribuan orang berkumpul untuk mengikuti Mahashivaratri di pelataran kompleks Candi Prambanan, Minggu, 15 Februari 2026. Ini untuk pertama kalinya Mahashivaratri digelar secara resmi di Indonesia dalam skala besar di candi Hindu abad ke-9 itu.
Mahashivaratri, atau “Malam Siwa”, merupakan hari suci umat Hindu yang dipersembahkan untuk Dewa Siwa. Perayaan ini jatuh pada malam ke-13 atau ke-14 bulan Magha dalam kalender Hindu, menjelang Tilem Kepitu.
Di Prambanan, ritual itu menjadi bagian penutup rangkaian Prambanan Shiva Festival 2026 yang berlangsung sejak pertengahan Januari.
BACA JUGA
Ramadan Trip: 5 Masjid Estetik di Jawa Barat Cocok untuk Wisata Religi
Tren Wisata Ramadhan 2026: Iftar Hiking hingga Kota Nokturna Dunia Muslim
Libur Imlek Makin Seru! Ini Agenda Spesial di Prambanan dan Borobudur
Ruang Spiritual yang Terbuka
Perayaan ini diselenggarakan secara kolaboratif Kementerian Pariwisata, Kementerian Agama melalui Dirjen Bimas Hindu dan Tim Pemanfaatan Candi Prambanan, Kementerian Kebudayaan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), serta InJourney Destination Management.
Ketua Tim Pemanfaatan Candi Prambanan, I Nyoman Ariawan Atmaja, menilai pelaksanaan Mahashivaratri di kompleks ini memiliki arti khusus karena Prambanan adalah kawasan candi Hindu terbesar di Indonesia.
Ritual seperti Abhisekam, upacara penyucian candi, dilaksanakan hingga menjelang pagi, memperkuat kesan situs ini bukan hanya objek wisata, tetapi ruang ibadah aktif.
Wisatawan juga diberi kesempatan berpartisipasi dengan membeli tiket penyalaan dipa yang sudah termasuk gelang nawadatu. Salah satu pengunjung, Echa, merasakan langsung suasana tersebut.
“Jadi bisa bersyukur bisa berada di sini, merasakan energinya, berbagi energinya, di momen ini. Bersyukur dan kami malah berterima kasih sudah ada kesempatan berkunjung ke acara seperti ini,” katanya.
Dari Warisan Dunia ke Destinasi Spiritual Global
Sejak ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada 1991, Candi Prambanan dikenal sebagai mahakarya arsitektur Hindu abad ke-9.
Namun Mahashivaratri 2026 menunjukkan potensi lain: pengembangan spiritual tourism dan pilgrimage tourism yang semakin relevan secara global.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa melihat festival ini sebagai bagian dari strategi pariwisata nasional.
"Kita harapkan agenda seperti Prambanan Shiva Festival ini mampu menghidupkan Candi Prambanan, bukan sekadar sebagai monumen, tetapi sebagai living monument yang kita jaga bersama kesakralannya," kata Ni Luh Puspa.
Ia menambahkan Tren Pariwisata global kini bergerak menuju pengalaman lebih berkualitas dan berkelanjutan, di mana wisatawan mencari keterhubungan dengan budaya dan masyarakat lokal.
Data menunjukkan jumlah umat Hindu dunia meningkat sekitar 12 persen dalam satu dekade terakhir, dengan 99 persen berada di kawasan Asia-Pasifik.
Angka ini membuka peluang besar bagi Prambanan untuk menjadi salah satu pusat ziarah Hindu di kawasan tersebut.
Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, menyebut perayaan ini sebagai langkah penting untuk menjadikan Prambanan sebagai Warisan Budaya yang terus hidup dan dilestarikan.
Sementara Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menilai Prambanan sebagai salah satu kuil Shiva terbaik yang pernah ia lihat dan berpotensi besar menarik wisatawan asal India.
Harmoni Budaya dan Kebangsaan
Rangkaian Mahashivaratri juga diwarnai kirab budaya dari Candi Kedulan menuju Prambanan. Air suci dari 36 provinsi dan sembilan candi Nusantara dipersatukan dalam prosesi Maha Gangga Tirta Gamana.
Dalam kirab itu, bendera Merah Putih sepanjang hampir satu kilometer dibentangkan sebagai simbol persatuan.
Ketua Umum PHDI Pusat, Wisnu Bawa Tenaya, menegaskan bahwa Mahashivaratri menjadi momen membangun manusia Indonesia secara lahir dan batin.
Di tengah arus hujan yang mengguyur wilayah sekitarnya, Prambanan justru menjadi ruang yang terang oleh 1.008 pelita. Lebih dari sekadar festival, Mahashivaratri 2026 menandai babak baru: ketika situs sejarah tidak hanya dilihat, tetapi dihidupi.(Antara)











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!