Tak Bisa Terima Kekalahan, Luis Nani Sebut Cristiano Ronaldo 'Pecundang yang buruk'
Senin, 16 Februari 2026 | 15:28
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Mehrdad Esfahani/ Wikimedia
Mantan winger Timnas Portugal, Luis Nani, mengungkap sisi lain dari sosok Cristiano Ronaldo yang jarang diketahui publik. Pernah bermain bersama di level klub maupun tim nasional, Nani menyebut kompatriotnya itu sebagai “pecundang yang buruk” karena sulit menerima kekalahan.
Nani dan Ronaldo tercatat pernah satu tim di Sporting CP, Manchester United, serta Timnas Portugal. Namun, kebersamaan mereka benar-benar intens terjadi di Manchester United dan tim nasional.
Secara statistik, keduanya tampil bersama dalam 130 pertandingan. Di Manchester United, Nani dan Ronaldo bermain bersama dalam 54 laga sepanjang musim 2007-2008 dan 2008-2009. Sementara di Timnas Portugal, duet dua winger tersebut terjalin dalam 76 pertandingan dari 2006 hingga 2017.
BACA JUGA
Tak Ada Foto Cristiano Ronaldo di Unggahan Poster Piala Dunia, FIFA Tuai Kritikan
Dua Rekor Cristiano Ronaldo Dipecahkan Haaland dan Diusik Mbappe
Tuding Liga Arab Saudi Diatur, Pernyataan Toney Mengarah ke Ronaldo?
Karena sudah mengenal Ronaldo sejak usia muda, Nani mengaku memahami betul karakter sang megabintang. Ia pertama kali mengenal CR7 saat sama-sama berada di tim muda Sporting CP.
Dilansir dari Four Four Two, Nani mengisahkan awal perjalanannya sebelum bergabung dengan Sporting.
"Itu memang situasi yang cukup tidak biasa, berlatih dengan Benfica dan Sporting pada waktu yang bersamaan, kata Nani.
"Pada akhirnya, saya memilih Sporting karena saya punya teman di sana. Dan, jujur saja, itu juga klub yang paling saya sukai," tambahnya.
Setelah resmi menjadi bagian dari akademi Sporting CP, Nani mulai melihat langsung ambisi besar Ronaldo. Menurutnya, sejak usia belia Ronaldo sudah tampil menonjol dibanding pemain lain di level akademi.
"Bahkan sejak kecil, dia sudah menonjol di atas semua orang. Dia tahu persis apa yang diinginkannya," terang Nani.
Nani juga menyoroti mentalitas Ronaldo yang begitu kompetitif hingga sulit menerima kekalahan.
"Cristiano menjalani sepak bola dengan penuh semangat. Jika dia tidak menang atau keadaan tidak berjalan baik, dia akan menangis."
"Itu menunjukkan betapa berkomitmennya dia dan intensitasnya dalam menjalani permainan," pungkasnya.
Karakter yang disebut sebagai “pecundang yang buruk” itu justru menjadi bahan bakar bagi Ronaldo untuk terus berkembang. Ketika hasil tak sesuai harapan, ia memilih bekerja lebih keras dan memperbaiki diri.
Mentalitas tersebut kemudian mengantar Cristiano Ronaldo menjadi salah satu pesepak bola terbaik abad ke-21, bersaing di level tertinggi bersama Lionel Messi. Deretan prestasi individu dan kolektif menjadi bukti, mulai dari empat gelar Ballon d’Or, trofi Liga Champions, hingga gelar liga di Inggris, Spanyol, dan Italia.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!