ID EN

Ancaman Penurunan Okupansi Hotel 2026, Industri Perhotelan Hadapi Tahun Rawan

Rabu, 11 Februari 2026 | 12:30

Penulis: Arif S

Okupansi Hotel
Okupansi hotel
Sumber: Envato

Tahun 2026 diproyeksikan menjadi tahun penuh kewaspadaan bagi industri perhotelan Indonesia. Sinyal perlambatan mulai terasa, terutama dari segmen yang selama ini menjadi tulang punggung okupansi yaitu kegiatan dan perjalanan dinas pemerintah.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi BS Sukamdani mengatakan pelaku usaha hotel selama tahun 2026 berpeluang menghadapi risiko penurunan tingkat okupansi.

“Dari sisi hotel, 2026 cukup rawan. Okupansi berpotensi turun karena anggaran perjalanan dinas dan kegiatan pemerintah dialihkan ke sektor lain,” ujarnya di sela Rapat Kerja Nasional PHRI di Semarang, Selasa.

Selama bertahun-tahun, segmen pemerintah menjadi salah satu penyumbang stabilitas industri hotel, terutama di kota-kota besar dan destinasi MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). 

Hariyadi menegaskan perjalanan dinas pegawai pemerintah dan kegiatan pemerintah selama ini berkontribusi signifikan terhadap Okupansi Hotel.

Namun, perubahan arah kebijakan anggaran menghadirkan tantangan baru. Pengalihan sebagian alokasi anggaran pemerintah untuk perjalanan dinas dan penggunaan akomodasi ke program lain akan berpengaruh pada tingkat penggunaan layanan hotel.

Ancaman ini datang ketika sektor perhotelan sejatinya belum sepenuhnya pulih dari tekanan pandemi COVID-19. Jika sektor restoran sudah kembali stabil, hotel masih berproses menuju titik keseimbangan.

“Untuk restoran sudah pulih, tapi untuk hotel masih belum 100 persen, sudah mau pulih malah kena pemangkasan anggaran,” katanya.

Dalam lanskap pariwisata nasional, kondisi ini menciptakan urgensi bagi pelaku industri untuk beradaptasi. 

PHRI mendorong strategi diversifikasi pasar dengan menyasar Wisatawan Nusantara dan Wisatawan Mancanegara sebagai penopang baru tingkat hunian kamar.

Menurut Hariyadi, pelaku usaha hotel bisa meningkatkan kerja sama dengan Maskapai Penerbangan, operator tur, serta pengelola Destinasi Wisata untuk menarik lebih banyak pengguna layanan. 

Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam menjaga arus tamu tetap stabil.

Meski demikian, ia realistis terhadap keterbatasan strategi tersebut.

“Apakah pengalihan segmen pasar ini bisa menutup pasar pemerintah yang berkurang? Memang tidak bisa sepenuhnya menutup,” katanya.

Namun langkah diversifikasi tersebut diharapkan setidaknya mampu mengurangi dampak penurunan penggunaan layanan hotel untuk kegiatan pemerintah.(Antara)

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!