AI Diam-Diam Sudah Menguasai Cara Kita Merencanakan Liburan
Jumat, 10 Oktober 2025 | 12:00
Penulis: Arif S

Sumber: Pexels
Liburan bukan lagi soal datang ke agen perjalanan, membuka brosur, dan memilih paket paling murah. Di era digital, kecerdasan buatan (AI) mulai merebut peran yang selama ini dipegang manusia.
Menurut laporan terbaru Abta, asosiasi pelaku industri perjalanan di Inggris, generasi muda kini lebih percaya pada AI seperti ChatGPT untuk merancang liburan mereka daripada manusia.
Dikutip dari The Guardian, Jumat 10 Oktober 2025 survei Abta mengungkap, hampir 1 dari 5 anak muda usia 25-34 tahun menggunakan AI sebagai inspirasi perjalanan ke luar negeri.
BACA JUGA
3 Kawasan Asia Masuk 10 Lingkungan Terkeren Dunia 2025, Indonesia Ada di Daftar?
Wisata Estetik Jadi Tren, Bekasi Dilirik Traveler Gen Z
Strategi Jitu Cari Hotel Murah untuk Liburan Budget-Friendly
Ini bukan sekadar tren iseng tetapi sinyal bahwa AI sedang menjadi “travel agent” generasi baru.
Yang menarik, meskipun paket liburan tradisional masih banyak dibeli, pola pengambilan keputusan sudah berubah.
AI hadir lebih awal dalam proses memberi ide, rekomendasi, bahkan itinerary.
Gen Z Percaya AI, Generasi Tua Bertahan pada Brosur
Kontras paling tajam terjadi antar generasi. Di usia produktif 25-34 tahun, AI sudah menjadi “asisten” pribadi.
Namun hanya 3 persen dari kelompok usia 55 tahun ke atas yang mau menyentuh AI.
Bahkan 25 persen warga Inggris masih setia pada brosur cetak, simbol era lama yang belum mau mati.
Industri pariwisata kini berada di dua dunia, digital yang cepat vs konvensional yang emosional.
Abta memprediksi teknologi akan semakin mendominasi. Dalam konferensi di Magaluf, Mallorca, asosiasi itu melaporkan dua dari lima responden siap menyerahkan pemesanan perjalanan kepada AI.
Bukan sekadar cari ide, AI akan memesan tiket, hotel, bahkan mengatur kegiatan harian.
Liburan Jadi Prioritas Hidup, Bukan Lagi Hiburan
Meski ekonomi global goyah, liburan justru menjadi “hak hidup”. Survei Abta menyebut 87 persen warga Inggris berlibur dalam setahun terakhir. Bahkan banyak yang menyebut liburan lebih penting dibanding hiburan, gadget, atau rekreasi lain.
CEO Abta, Mark Tanzer, menilai AI mencerminkan perubahan gaya hidup yang lebih besar.
"Tantangan bagi industri perjalanan adalah bagaimana memanfaatkan potensi AI untuk mendukung bisnis, namun tetap menjaga sentuhan personal dan keahlian yang hanya bisa didapat dari agen atau operator tur berpengalaman," ungkap Tanzer.
Pernyataan ini terasa seperti alarm bahwa AI memang efisien, tapi apakah bisa menggantikan empati manusia?
Angka yang Tak Bisa Diabaikan
Tahun lalu, hanya 4 persen responden yang menggunakan AI. Tahun ini melonjak jadi 8 persen.
Di kelompok usia 25-34 tahun, 90 persen menyebut liburan penting untuk kesehatan mental, jauh di atas rata-rata nasional (80 persen).
Generasi ini tidak sekadar bepergian tetapi menjadikan liburan bagian dari self-care dan identitas.
Bahkan mereka dua kali lebih peduli pada keberlanjutan lingkungan (20 persen vs 10 persen) dibanding generasi lain.
Artinya, mereka ingin liburan cerdas, sehat, bertanggung jawab, dan AI membantu untuk menemukan pilihan terbaik.
AI Sahabat Baru atau Ancaman Lama?
AI menawarkan personalisasi, kecepatan, dan inspirasi tanpa batas. Namun industri perjalanan dibangun atas cerita, pengalaman, dan sentuhan manusia.
Pertanyaannya kini bukan “apakah AI akan digunakan?”, tetapi siapa yang akan bertahan ketika AI menjadi pintu pertama setiap perjalanan, manusia atau algoritma?***










