ID EN

Turis Muslim Naik Drastis, Indonesia Siapkan Jurus Pamungkas

Jumat, 10 Oktober 2025 | 09:00

Penulis: Arif S

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat konpers "The 7th International Halal Tourism Summit, di Jakarta.
Sumber: Antara

Di tengah persaingan global untuk menarik wisatawan Muslim, Indonesia tak ingin hanya menjadi penonton. Dengan kekayaan budaya, populasi Muslim terbesar di dunia, dan potensi alam melimpah, negeri ini memiliki modal kuat untuk menjadi rujukan utama pariwisata ramah Muslim. 

Namun, menurut Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, potensi besar ini hanya akan optimal jika semua pihak bergerak bersama. Ia menegaskan kunci utama ada pada kerja sama lintas sektor. 

“Diperlukan kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak seperti dari sinergi lintas kementerian untuk memajukan pariwisata ramah Muslim melalui tindakan bersama hingga kolaborasi industri, asosiasi, dan sektor swasta menjadi kunci untuk menjamin kualitas dan konsistensi penerapan standar yang jelas,” ujarnya di Jakarta.

Menurutnya, kolaborasi bukan hanya soal koordinasi formal, tetapi juga penyelarasan visi dan praktik terbaik. 

“Dengan melibatkan mitra domestik dan internasional, kita dapat menyelaraskan dalam menetapkan standar, saling berbagi praktik terbaik, serta memperluas promosi,” kata Menpar Widiyanti dalam konpers acara "The 7th International Halal Tourism Summit", di Jakarta.

Lebih jauh, ia menekankan pariwisata ramah Muslim tidak boleh hanya fokus pada fasilitas, tetapi juga kesejahteraan masyarakat. 

“Kebijakan dan kemitraan industri harus memberdayakan pelaku usaha lokal dan komunitas, agar manfaatnya benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Pasar yang Terus Tumbuh

Data terbaru menunjukkan betapa besarnya peluang ini. Menpar Widiyanti menjelaskan, menurut CrescentRating, wisatawan Muslim telah melakukan 176 juta perjalanan internasional pada tahun 2024, melonjak 21,3 persen dari 145 juta pada 2023. 

Angka ini diprediksi terus meroket menjadi 245 juta wisatawan pada 2030, dengan pengeluaran mencapai 235 miliar dolar AS.

Bahkan, tren ini membuat negara-negara non-OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) mulai beradaptasi. 

“Meningkatnya turis Muslim menjaga masa depan perjalanan global, bahkan negara-negara di luar organisasi kooperasi Islam sedang mengambil perhatian mulai menyesuaikan fasilitas dan layanannya bagi wisatawan Muslim,” lanjutnya.

Indonesia Harus Jadi Pelopor

Sebagai negara dengan lebih dari 230 juta jiwa Muslim dan lebih dari satu juta perjalanan domestik setiap tahun, Indonesia memiliki posisi strategis. 

“Dengan kekayaan alam dan warisan budaya yang kaya, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang berbeda. 

Skala dan potensi ini harus membuat kita di depan turis Muslim aspirasi kita jelas, Indonesia harus menetapkan standar bagi pengembangan pariwisata Muslim,” ujar Widiyanti.

Untuk memperkuat arah tersebut, Indonesia akan meluncurkan edisi 2025 Indonesia Muslim Travel Index. 

Indeks ini dikembangkan bersama Bank Indonesia, Enhaii Halal Tourism Center (EHTC), dan CrescentRating, serta mengadopsi framework ACES GMTI—akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan.

“Indonesia Muslim Travel Index memberikan pengetahuan yang berfungsi mengenai kekuatan Indonesia, mengetahui area peningkatan, dan memperkuat industri turisme Indonesia. Selain pengetahuan, Indeks ini akan membimbing kita dalam menyesuaikan standar dan sertifikasi,” kata Widiyanti.

Strategi: Atraksi, Akses, dan Standar

Menpar menjelaskan pendekatan untuk meningkatkan pariwisata ramah Muslim dilakukan dengan menyusun dan mempromosikan daya tarik wisata, meningkatkan aksesibilitas, serta menstandarkan fasilitas. 
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak warisan Islam yang layak diangkat sebagai daya tarik utama.

“Indonesia diberkati dengan sejumlah warisan Islam yang seharusnya diperlukan sebagai atraksi yang berbeda memperkuat kebutuhan untuk wisatawan yang mencari pengalaman yang berfokus kepada Muslim, seperti Masjid Raya Baiturrahman di Aceh, Masjid Istiqlal di Jakarta,” katanya.

Widiyanti menambahkan, langkah selanjutnya adalah mengenali dan mengemas seluruh potensi itu agar menjadi pengalaman yang otentik bagi wisatawan global. 

“Kita harus mengenali, mengumpul, dan mempromosikan semua kekayaan ini merupakan pengalaman unik yang ramah bagi wisatawan Muslim, yang menampilkan identitas kita serta daya tarik bagi wisatawan global,” pungkasnya.(Antara)